Opini Akademisi July 3 5 Min Read

Mengapa Ilmuwan Harus Tahu Beda Antara Ilmu dan Sistem Ekonomi




Eksistensi penerapan konsep ekonomi Islam secara paripurna memang tidak ada satu negara pun saat ini yang mau dan mampu menerapkan sehingga sulit mencari negara prototipe yang bisa disebut sebagai negara dengan sistem ekonomi Islam. Semua negara sedang menerapkan praktik ekonomi kapitalisme dan sebagiannya sosialisme. Antara sistem dan ilmu ekonomi tidak dibedakan sehingga banyak terjadi salah memahami masalah ekonomi. Pandangan tentang faktor-faktor produksi yang sangat terbatas dan pendistribusiannya mengikuti konsep keterbatasan tersebut, sehingga harga menjadi dewa penentunya sebagai titik temu antara supply dan demand yang sudah menjadi konsep mandarah daging sistem kapitalisme.

Pembahasan tentang cara mengatur materi kekayaan tidak dibedakan dengan cara mengatur distribusinya. Pembahasan pengaturan materi kekayaan sangat erat berkaitan dengan faktor produksi, sedangkan pengaturan distribusi kekayaan berkaitan dengan keyakinan konsep tertentu. Kedua pembahasan inilah yang membedakan dan membatasi area keilmuan, antara ilmu ekonomi dan sistem ekonomi.

Ilmu ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari atau menghasilkan bagaimana upaya manusia dalam memproduksi alat-alat pemuas kebutuhan manusia dengan modal yang telah ada di alam. Misalnya, ilmu peningkatan produksi pangan, bagaimana menciptakan varietas padi dengan hasil tertinggi. Atau, bagaimana cara memelihara hewan ternak yang sehat dan menghasilkan daging/susu yang layak untuk dikonsumsi manusia, dan lain sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut tidak terikat dengan peradaban atau pandangan/keyakinan tertentu, sehingga siapapun bila menguasai keilmuan tersebut akan mampu menghasilkan inovasi dan teknologi dalam keilmuan produksi dalam pemenuhan kebutuhan.

Berbeda dengan sistem ekonomi, yang merupakan pemikiran dalam mengatur aspek distribusi dan cara-cara memperolehnya sesuai dengan pemikiran (way of life) tertentu. Misalnya, bagaimana cara pendistribusian tanah (kepemilikan), bagaimana cara memungut uang dari rakyat, bagaimana cara memperoleh kekayaan, bagaimana sistem transaksi menggunakan mata uang (sistem mata uang), dan lain sebagainya.

Secara lebih mudah perbedaan antara ilmu dan sistem ekonomi, bila ilmu ekonomi merupakan sains murni dan tidak ada hubungannya dengan keyakinan tertentu, sedangkan sistem ekonomi sangat erat dengan cara pandang keyakinan kehidupan. Contohnya, bila pembahasan tentang ilmu tanah, bagaimana agar kandungan tanah tersebut bisa subur dan bisa digunakan untuk pemuasan kebutuhan manusia maka keilmuan tersebut masuk ke ranah sains murni. Sedangkan, bila pembahasan terkait pengaturan kepemilikan dan menjaga fungsi tanah agar tetap diproduktifkan merupakan ranah sistem ekonomi.

Cara pengaturan kepemilikan tanah sangat berbeda antara ideologi di dunia ini. Kapitalisme yang memberikan kebebasan penuh kepada individu maka siapapun selama bisa menguasai tanah seluas apapun diberikan hak untuk memilkinya, sedangkan komunisme berseberangan dengan kapitalisme, negara menjadi pemilik semua tanah sehingga rakyat hanya diberi hak guna pakai dengan sistem sewa berjangka waktu. Dalam sistem Islam, tanah dibedakan dua status yaitu tanah usriyah dan tanah kharajiyah, dalam pendistribusiannya mengikut hukum kepemilikan dalam Islam yang ada tiga yaitu: kepemilkan umum, kepemilikan negara dan kepemilkan pribadi.

Dari memahami perbedaan ilmu dan sistem ekonomi diatas, harusnya lebih paham bahwa masalah utama ekonomi dewasa ini bukan terletak pada ilmu ekonomi namun lebih kepada sistem ekonominya. Masalah ekonomi yang terjadi bukan terletak kepada kebutuhan manusia, alat pemuas dan pemanfaatan alat pemuas tersebut yang sudah tersedia di alam, namun masalahnya lebih kepada ada atau tidaknya peluang antar manusia memanfaatkan alat pemuas tersebut.  

Contoh nyata dewasa ini, para ilmuwan berlomba menemukan antivirus corona dan menghasilkan vaksin untuk menangkal penyakit tersebut. Apa yang dilakukan para ilmuwan merupakan berlomba memproduksi alat pemuas kebutuhan manusia agara manusia sehat. Namun demikian, Ketika hasil ilmu berupa utility (kegunaan) vaksin, bagaimana cara manusia agar memperoleh utility tersebut merupakan ranah sistem ekonomi. Dunia yang sedang dikuasai kapitalisme dengan asas manfaat, maka sangat terasa cara pendistribusiannya dengan mengambil keuntungan sebesar-besarnya karena ada peluang permintaan yang sangat tinggi. Jadilah vaksin (barang kebutuhan manusia) yang diperjualbelikan melalui mekanisme perdagangan kapitalisme, monopolistik.

Berbeda dengan cara pandang Islam dalam melindungi rakyat dari kerusakan, negara akan memerintahkan ilmuwan dan warganya menghasilkan utility yang dibutuhkan jika itu untuk kepentingan publik maka negara yang menjamin dengan memberikan secara gratis atau semurah-murahnya. Karena fungsi negera sebagai pelayan rakyat. Dari sini telah jelas bahwa mempelajari ilmu ekonomi sebagai sains murni merupakan salah satu kewajiban menuntut ilmu setiap orang, sedangkan mempelajari sistem ekonomi bagi ilmuwan perlu melihat dan memilih way of life yang diyakininya.

Hisyam Rusyda                 
138 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.