Opini Akademisi August 24 9 Min Read

Lautku Sudah Terjajah Sampah Plastik




Kita mengetahui bahwasanya Negara Indonesia merupakan negara dengan kepulauan terbesar di dunia, dikutip dari jurnal Road Map Menuju Indonesia Sebagai Negara Maritim Yang Maju, Makmur, Kuat, dan Berdaulat oleh Prof. dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS mengatakan bahwasanya hampir sekitar 71% wilayah Indonesia terdiri dari laut dan sisanya sekitar 29% lagi adalah daratan. Jika dilihat dari panjang garis pantainya Negara Indonesia mempunyai panjang garis pantai sekitar 95.181 km dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Tentunya hal ini menjadi primadona bagi Indonesia untuk memanfaatkan luasnya perairan laut yang diberikan untuk memajukan berbagai sektor, di antaranya sektor pariwisata, perikanan, dan sektor lainnya yang pada intinya dimanfaatkan untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia itu sendiri. Namun hal ini menjadi pedang bermata dua yang dapat menimbulkan sisi positif dan sisi negatif, "Mengapa"? Mari kita lihat pantai, dan lautan yang ada di sekitar kita, berita yang ada di media-media sosial yang ada, saking seringnya kita mendengarkan dan menontonnya semakin kita mengabaikannya, apalagi kalau bukan masalah "Sampah plastik".

Sampah plastik memang sudah menjadi permasalahan yang sampai sekarang ini belum bisa terselesaikan, tidak hanya di daratan, pantai dan laut juga sekarang sudah menjadi perkumpulan dari sampah-sampah plastik yang ada, ibarat kata, laut sekarang sudah menjadi tempat pembuangan sampah. Mengapa penulis berani mengatakan demikian? Sekali lagi, mari lihat pantai dan laut yang ada di sekitar kita, adakah pantai dan laut kita masih bersih seperti sedia kala? Tak perlu jauh-jauh, kita saja yang sering jalan-jalan dalam artian berwisata ke pantai-pantai dalam niatan untuk menghilangkan penat, menghilangkan stres, dan sekedar berkumpul dengan keluarga tercinta ke pantai yang sering kita datangi dulunya sekarang kita sudah enggan untuk kesana lagi, jangankan menghilangkan stres kita yang datang ke pantai tersebut. Sebaliknya malah menjadi stres, karena pantai yang dulunya indah, asri, dan nyaman didatangi sekarang sudah tercemar dan dihiasi oleh sampah-sampah plastik yang dibuang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Anehnya kita suka menyalahkan orang lain, padahal kita sendiri saja sering membuang sampah di sana ketika berwisata ke pantai atau laut tersebut, baik itu berupa sampah makanan ringan, sedotan minuman, bungkus permen, dan sampah lainnya. Tak hanya itu, kita juga mengetahui bahwasanya laut merupakan tempat dimana bermuaranya aliran dari sungai-sungai yang ada, aliran air dan material yang mengalir dari sungai-sungai tersebut akan bermuara ke laut, otomatis jika sampah-sampah plastik juga dibuang ke sungai ya ujung-ujungnya akan masuk ke laut dan tak jarang kita melihat di pinggiran pantai banyak sampah-sampah plastik yang terkena gempuran ombak.

Secara tidak sadar Indonesia merupakan negara dengan penyumbang sampah plastik ke laut terbesar ke dua di dunia, bukan hanya itu menurut BPS (Badan Pusat Statistik) tercatat bahwasanya sampah plastik Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun, 3,2 juta ton sampah plastik dibuang ke laut. Tentunya ini merupakan bukan suatu prestasi yang membanggakan dan harus segera dievaluasi kedepannya. Menelusuri lebih dalam dari dampak yang ditimbulkan dari sampah plastik ini, tak hanya manusia yang menjadi sasaran dan sekaligus sebagai pelaku dari semua ini. Tak hanya hewan dan ekosistem yang ada di daratan saja yang terkena dampak dari sampah plastik ini, melainkan lebih dari itu. Hewan dan biota yang ada di laut juga terkena imbas dari sampah plastik ini, mereka yang tidak tahu menahu apa yang terjadi, mereka yang hanya sekedar ingin hidup damai, mereka yang hanya ingin berkumpul dengan keluarganya, mereka yang ingin hidup seperti kehidupan dan rumahnya dulu, dan mereka yang masih banyak keinginan yang sesederhana itu sekarang sudah tidak bisa lagi, sudah direnggut!!! oleh kita yang masih tidak sadar dampak-dampak yang ditimbulkan dari hal sepele yaitu "Membuang sampah sembarangan”.

Masih ingat kasus seekor Paus yang mati karena diperkirakan menelan 5,9 kg sampah plastik di Wakatobi, pada 19 November 2018 silam? Atau kasus Bangkai Penyu Hijau dengan mulut terdapat plastik ditemukan di Pantai Cangkring, Kapanewon Poncosari, Kalurahan Srandakan, Bantul, DI Yogyakarta, pada 19 Januari 2022? Kasus-kasus tersebut merupakan sederetan kasus yang ada di dunia yang diduga karena sampah plastik yang ada di laut. Tak hanya itu, sampah plastik yang ada di laut juga akan berdampak pada ekosistem, seperti: merusak keseimbangan nutrient yang ada di laut, rusaknya terumbu karang, berkurangnya fitoplankton dan dapat mengancam keberadaan burung laut yang bisa saja akan memakan sampah-sampah plastik yang mengambang. Tak cukup sampai di situ, sampah plastik ini juga nantinya dapat terurai di alam dan menciptakan mikroplastik, jika sudah berukuran mikro lantas hewan apa saja dapat memakannya tanpa terkecuali manusia! Semakin banyak sampah plastik yang terbuang ke laut semakin banyak pula terciptanya mikroplastik tersebut. Akibatnya, mikroplastik tersebut banyak dimakan oleh hewan-hewan laut seperti ikan dan ikan tersebut nantinya akan dimakan oleh manusia, sehingga hal ini menjadi masalah yang sangat serius untuk ditangani.

Lantas, Apakah kita masih sanggup melihat dan mendengarkan kematian-kematian hewan laut berikutnya? Apakah kita masih tega melihat leher mereka tercekik oleh sampah plastik yang kita buang? Apakah sampah-sampah itu pantas hidup berdampingan dengan mereka? Haruskah rumah mereka hancur tak bersisa baru kita sadar? Haruskah ada korban dari manusia dulu baru kita sadar? Susahnya nelayan mendapatkan ikan sekarang sudah menjadi alarm bagi kita. Sudah saatnya kita kembali ke keadaan yang lebih baik, sudah saatnya kita membuka mata dan hati kita untuk mengambil kesempatan yang ada untuk berubah ke arah yang lebih baik. Masih ada harapan, ya kita masih bisa merubah ini semua selagi melakukannya dengan hati, bukan sesuka hati. Bukan juga nanti, besok atau lusa, tapi sekarang! Tidak ada kata terlambat untuk mulai bangkitkan kesadaran masing-masing. Jika tidak, diperkirakan pada tahun 2050 akan lebih banyak sampah plastik di lautan, akan lebih banyak sampah dibandingkan ikan, air nan biru seakan berganti warna menjadi warna-warni akibat banyaknya sampah plastik yang menutupi perairan. Sudah saatnya kita semua bergerak mengambil peran kecil masing-masing guna menciptakan dampak yang besar bagi keberlangsungan laut kita bersama.

Mulai dari hal sepele seperti membuang sampah pada tempatnya, jika sudah, naik lagi ke tingkatan yang lebih tinggi yaitu mengurangi pemakaian sampah plastik. Percayalah! Peran kecilmu akan sangat berdampak bagi kehidupan di sekitarmu. Ingat! Bumi kita sudah memasuki babak baru penuh ancaman! Begitu juga dengan laut kita. Saatnya wujudkan aksi nyata!, untuk masa depan kita, mereka, dan generasi yang akan datang!

Sumber Gambar: mongabay.co.id

Kaprian Alsyah Kurnia                 
293 1 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(1) Komentar

Image
Awan 2 October 2022

Semangat akh

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.