Opini Akademisi May 17 5 Min Read

Seorang Introvert, Stoikis, dan Minimalism saat Lebaran




Lebaran adalah momen hari raya bagi umat Islam seluruh dunia, seiring waktu di berbagai belahan bumi perayaan lebaran disertai dengan berbagai macam tradisi yang seolah dihukumi wajib setelah mendapat legitimasi dari masyarakat kolektif di setiap daerah. Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan tradisi adat dan budaya, bersamaan dengan itu perayaan lebaran melebur menjadi satu identitas yang tidak dapat dipisahkan.

Memahami akan hal tersebut, seorang introvert, ‘penganut’ stoikisme dan minimalisme harus memiliki pikiran terbuka terhadap realita keberagaman di negaranya. Meski tidak dapat dipungkiri ada hal-hal yang barangkali sulit diterima dan menjadi bahan kontroversi setidaknya di dalam dirinya sendiri.

Stoikisme dan minimalisme menjadi dua pokok ajaran penting yang membentuk kepribadian seseorang, yang sebagian menyatakan sebagai bentuk suatu kemajuan. Baik stoikis dan minimalis adalah ajaran yang tidak menentang ajaran agama manapun, bahkan justru nilai dan garis besarnya cukup relevan dengan ajaran yang dianjurkan Di dalam setiap agama, khususnya agama Islam. Lantas, apa saja kontroversi yang sering membludak di pikiran seorang penganut dua ajaran tersebut?

Tidak Terlalu Mengutamakan Seperangkat Tradisi namun Substansi

Setiap menyambut satu syawal adalah prosesi merayakan kemenangan, melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Sesuai dengan namanya yaitu Idul fitri yang bermakna fitrah, setiap insan Muslim seakan telah melewati proses penyucian diri untuk menyambut tahun baru Islam berikutnya. Menyadari akan hal tersebut, maka ia akan senantiasa menjaga dirinya dari segala macam bentuk pengrusakan yang dapat mengganggu niatnya untuk menjadi insan yang lebih baik lagi.

Seperti yang disebutkan di awal, bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam budaya dan tradisi. Menyiapkan kue-kue kering sebelum menyambut lebaran bahkan sudah dilakukan beberapa hari menjelang lebaran, seringkali hal ini akan menyita waktu yang seharusnya dialokasikan untuk memaksimalkan hari-hari terakhir ramadahan, sebagaimana anjuran untuk mengencangkan ibadah di sepuluh malam terakhir. Kebiasaan lainnya adalah membeli baju lebaran, tidak akan afdol rasanya apabila lebaran tanpa baju baru, bahkan yang lebih ekstrim bisa mendapat tanggapan miring apabila seseorang tak memakai baju baru saat lebaran. Mungkin hal ini akan sangat menyiksa bagi kaum minimalis fanatik. Berikutnya adalah bersilahturahim menyambangi rumah saudara sesama muslim. Bisa saja, ini akan menjadi momen yang paling sensitif yang harus dilewati seorang stoikis dan minimalis. Bertoleransi dan penyesuaian diri dengan kerabat yang barangkali dengan omongannya serta sikapnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidupnya akan menjadi hal utama agar tidak merusak suasana lebaran dengan hal-hal yang tidak perlu. Berikutnya adalah tradisi jalan-jalan, ini semacam momentum penutup lebaran. Makanya tidak heran apabila jumlah kunjungan wisata akan membludak beberapa hari pasca lebaran. Seorang introvert mungkin akan sangat kewalahan harus berbaur dengan keramaian di tempat wisata, barangkali bukannya refreshing tetapi malah menciptakan tragedi.  Ada yang pernah mengalami?

Lebaran akan menjadi momen yang sangat melelahkan apabila dimaknai dengan kacamata tradisi semata, lelah fisik, lelah hati. Namun, apabila kembali pada substansi terjadinya lebaran, maka lebaran adalah momen sakral dalam Islam yang menjadi sunatullah untuk membawa setiap penganutnya kembali pada sang pencipta.  Seorang introver, stoikis, dan minimalis sejatinya selalu berbicara soal substansi, dia bisa saja menjadi kaum ‘minoritas’ saat lebaran, namun hatinya begitu semarak dengan pemaknaan sejati terhadap kehidupan yang hakiki.

 

Nia Ramadhani                 
153 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.