Opini Akademisi April 10 4 Min Read

Desinfeksi Literasi




Seperti anda mungkin, saya sering menemukan buku-buku terbengkalai di dalam perpustakaan tempat saya kuliah. Mereka sudah tua, tetapi tidak terlalu tua, biasanya berumur beberapa dekade. Mereka membuat trotoar beberapa meter dari tong sampah dan kotoran anjing. Seperti pelacur tua yang sekarang bertopeng di lingkungan tempat saya tinggal untuk waktu yang lama, mereka menghilang dengan cepat.

Apa yang menjadi ciri sebagian besar dari buku-buku ini adalah bahwa mereka memiliki ketenaran yang kurang lebih seperempat jam dan bahwa mereka dilupakan. Mereka termasuk dalam kategori “buku” yang telah menandai satu era dan tidak bertahan. Mereka menarik, bahkan dapat dibaca, hanya dalam konteks di mana mereka diterbitkan.

Buku-buku ini mampu menyanjung, terkadang dengan terampil, kebiasaan kita, orang tua atau kakek-nenek kita. Ketika tempat-tempat ini menghilang, segala sesuatu yang melengkapinya sudah usang, tidak digunakan lagi. Buku-buku yang dibuang jarang memiliki gaya “vintage” anumerta. Mereka seperti mantan presiden yang tidak lagi didengarkan. Membacanya tidak lagi masuk akal. Mereka telah bergabung dengan tangkapan besar yang disebut sejarah mentalitas. Dengan mereka, pemiliknya menyingkirkan beberapa sisa kehidupan masa lalu.

Suatu hari, saya menemukan “Harimau! Harimau!”, oleh Mochtar Lubis, buku yang sangat populer setelah terbit pada tahun 1975. Mengabadikan ratapan deklinis yang hebat, presiden dengan hidung pinokio bertanya-tanya mengapa sebuah negara yang begitu kaya akan talenta mencurahkan begitu banyak waktu dan energi untuk mencambuk diri sendiri, argumen dan penghancuran diri. 

Dia seharusnya membaca “Pokok-Pokok Gerilja” terbitan tahun 1953, kejeniusan Panglima Besar A.H. Nasution akan menyelamatkannya dari kutukan para literat bangsa. Buku karya Jenderal Besar A.H. Nasution yang diperbahasakan “Fundamentals of Guerrilla Warfare” nyatanya telah sejak lama dijadikan salah satu materi pembelajaran perang gerilya di Amerika Serikat, Turki dan beberapa Negara di Eropa.

Saya membayangkan demikian, setidaknya, kita merindukan pemikiran putra Indonesia yang mendunia. Saya sangat tidak menyukai omong kosong yang biasanya bertengger dalam janji ucap manis politikus, kualitas pembicaraan mereka harus selalu diperiksa secara retrospektif. 

Suatu hari kemudian, saya menemukan buku klasik yang nuansanya digandrungi oleh mayoritas generasi hari ini. Buku dengan judul “Perpisahan” berasal dari tahun 1971. Saya membaca yang ini kemudian, sebagai seorang pemuda, dengan penuh semangat. Penulis buku ini bernama Gajus Siagian yang pada tahun 1956 pernah menjadi Dosen di Universitas Gamaliel dan tahun 1957 di Universitas Harvard, Amerika Serikat. 

Berlanjut pada buku terbengkalai yang duduk di luar gedung paling lama, beberapa hari ini adalah “Sandyakala Ning Madjapahit” oleh Sanusi Pane. Itu mungkin yang terkuno dari ketiganya, diterbitkan pada tahun 1930-an. Karya yang hendak menunjukkan kepada kita bahwa kejayaan harus didukung oleh kejujuran dan keunggulan pribadi para pemimpinnya.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca buku yang viral di media sosial, prediksi dalam karya tersebut kemudian digunakan menjadi nama Ibukota Baru Indonesia. Nusantara adalah prediksi nama Ibukota Indonesia dalam isi buku “Rinduku Sederas Hujan Sore Itu”, oleh JS Khairen. Dia seorang sastrawan muda, kata orang-orang. Tapi saya kira dia lebih tepat dipanggil indolog. Meskipun karyanya tidak dikemas dengan bahasa baku versi ilmiah, melainkan buku terdahsyatnya disusun melalui kerangka riset. Sebuah alarm penentang dari terjadinya pergeseran nilai, budaya, dan makna yang terkontaminasi oleh globalisasi. 

Sejak awal pandemi, saya selalu membaca realitas masyarakat dari berbagai sisi, berhadapan dengan masa tersulit. Saya menulis tentang kemiskinan, politik, hukum, ekonomi, dan lainnya, menemukan sepasang anak dan ibunya bunuh diri terjun bebas ke lautan di Batam karena siksaan ekonomi, anak-anak berusia 6-10 tahun hidup dengan cara mengumpulkan botol plastik di Padang, para lansia merintih kesepian di panti jompo, semuanya dibalut dalam suasana mencekam. Rutinitas yang sangat tertatih, untuk kemudian disempurnakan dengan membandingkan isi buku-buku ternoda, mungkin karena kopi. Siapa yang meminum dan menumpahkannya, dan kapan? Saya membersihkan tangan sesuai protokol kesehatan pemerintah. 

Setiap kali di kost, saya mengeluarkan semua data itu dan melemparkannya ke word laptop kesayangan. Menempatkan mereka di google drive, di mana mereka menjalani karantina selama beberapa hari sebelum dibagikan ke publik melalui media massa maupun jurnal. Lalu saya memandangnya, melalui internet, seperti sirene wabah, sirene kertas tua. Ketika mereka dibebaskan ke hadapan pembaca di koran-koran, ternyata Jokowi akan berakhir masa jabatannya, tetapi bukan karena membaca itu, maupun karena Covid-19. Mengkarantina bahan literasi yang ditinggalkan dan mendisinfeksi tangan setelah menyentuhnya, bahkan sebelum membacanya, butuh waktu seperti kita untuk sampai ke sini.

Al Mukhollis Siagian                 
202 0 2
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.