Opini Akademisi August 17 5 Min Read

Virus Mayaro, Tidak Dikenali Tetapi Perlu Diwaspadai




Virus Mayaro merupakan golongan alphavirus yang bertanggung jawab untuk kasus sporadis dan beberapa wabah penyakit dengan karakteristik demam, artralgia, dan ruam di Amerika Selatan bagian utara.

Beberapa pasien yang terinfeksi virus Mayaro mengalami artralgia parah selama periode defervescence yang dapat bertahan hingga satu tahun. Defervescence adalah fase kritis saat demam menurun, ditandai dengan suhu tubuh penderita mendekati normal.

Belum banyak orang yang mengenal virus Mayaro, mengingat virus ini sering menyerang pekerja hutan di daerah Amerika Tengah dan Selatan, terutama di daerah Brazil, Bolivia, Suriname, Haiti, Trinidad dan Tobago.

Masih sedikitnya data riset dan belum adanya material untuk pemeriksaan histopatologis, membuat pathogenesis (proses perjalanan) virus Mayaro ini hanya sedikit dimengerti. Pathogenesis Mayaro sementara dapat dipahami melalui hasil eksperimental melalui studi in vitro menggunakan kultur sel Vero. Terbukti bahwa efek sitopatik yang hebat dan kematian sel, dengan kasein kinase 2 (CK2) berperan penting selama siklus infeksi virus Mayaro.

Identifikasi spesifik virus Mayaro dilakukan dengan menggunakan uji netralisasi dan penghambatan hemaglutinasi dan dengan reverse transcription (RT)–PCR, juga menggunakan real-time PCR, dengan hasil yang sangat baik.

Virus yang hingga kini diketahui memiliki tiga genotype ini ditularkan oleh nyamuk Haemagogus, terutama  H. janthinomys. Inang vertebrata utama adalah primata non-manusia.

Manifestasi Klinis

Demam Mayaro secara klinis ditandai sebagai penyakit demam akut, umumnya disertai sakit kepala, myalgia (rasa nyeri atau sakit di otot), ruam, menggigil, dan fotofobia (mata sakit atau tidak nyaman saat melihat cahaya terang).

Pusing, sakit mata, mual, dan muntah lebih jarang dilaporkan. Arthralgia (nyeri di bagian persendian), terutama mempengaruhi pergelangan tangan, jari tangan, pergelangan kaki, dan jari kaki, serta ruam kulit, juga sering diamati pada tubuh dan anggota gerak tubuh (yakni: tangan dan kaki). Kadang-kadang, mungkin juga ada pembengkakan sendi yang menyakitkan yang dapat bertahan. Pada beberapa pasien, artralgia berlangsung hingga satu tahun. Aspek yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya ko-sirkulasi virus Mayaro (MAYV) dan virus chikungunya (CHIKV) di area yang sama, karena kedua virus tersebut merupakan anggota kelompok Semliki Forest di genus Alphavirus, dan terdapat reaktivitas silang yang tinggi pada uji serologi. bahkan pada IgM-ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay).

Tatalaksana

Pengobatan bersifat suportif. Beberapa pasien memerlukan rawat inap, tetapi tidak ada kematian yang dilaporkan. Perlindungan pribadi terhadap gigitan nyamuk (menggunakan pembasmi serangga, baju lengan panjang, celana panjang) seharusnya bersifat protektif, tetapi hal ini tidak praktis bagi sebagian besar pekerja hutan. Kelambu dan tirai jendela tidak banyak berguna karena nyamuk Haemagogus bekerja aktif di siang hari. Selain itu, belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah demam Mayaro.

(Dokter Dito Anurogo MSc, Dosen FKIK Unismuh Makassar, penulis "ENSIKLOPEDIA PENYAKIT DAN GANGGUAN KESEHATAN", trainer bersertifikasi BNSP, S3 Taipei Medical University Taiwan, founder School of Life Institute)

dr. Dito Anurogo, M.Sc.                 
50 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.