Opini Akademisi April 17 9 Min Read

Teknologi Kelautan Sebagai Lokomotif Perekonomian Nasional Menuju Indonesia Emas 2045




Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terbentang luas dari sabang hingga     merauke. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Indonesia memiliki 17.499 pulau dengan luas total wilayah Indonesia sekitar 7,81 juta km2. Dari total luas wilayah tersebut 33,25 juta km2 adalah lautan dan 2,55 juta km2 adalah Zona Ekonomi Eksklusif, hanya sekitar 2.01 juta km2 yang berupa daratan. Dengan luasnya wilayah lautan yang ada, Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar sehingga Indonesia menjadi poros maritim dunia pada perdagangan global yang menghubungkan kawasan Asia Pasifik dan Australia.Wilayah Indonesia membentang pada garis khatulistiwa beriklim tropis, dengan panjang dari timur ke barat 5.100 km dan dari utara ke selatan 1.888 km.

Laut Indonesia memiliki kekayaan keaneragaman hayati biota laut yang sangat melimpah dan disebut dengan (marine mega-biodiversity). Laut Indonesia memiliki 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies biota terumbu karang. Berbagai jenis sumberdaya ikan ekonomis penting yang menghuni perairan Indonesia, baik perairan laut maupun perairan tawar. Sebagian di antara spesies ekonomis penting tersebut merupakan komoditas andalan dalam industrialisasi perikanan, yaitu: TTC (tuna, tongkol, cakalang), udang (tawar dan laut), bandeng, patin, lele, nila dan rumput laut. Adapun garam, yang merupakan sumberdaya non hayati, banyak diusahakan di wilayah tertentu, juga memegang peran penting bagi perekonomian rakyat. Indonesia memiliki dua fenomena anomali iklim regional, yaitu ENSO (El-Nino dan La Nina) di belahan timur (Samudra Pasifik) dan Indian Ocean Dipole Mode (Positif dan Negatif) di belahan barat (Samudra Hindia), sehingga mempengaruhi ekosistem perairan Indonesia dan biota yang hidup di dalamnya.

Selain memiliki  kekayaan keaneragaman hayati, Indonesia sejak Revolusi Industri Pertama (1753) hingga sekarang bahwa 85% transportasi komoditas dan produk dunia itu melalui laut, sekitar 45% total barang (Komoditas dan produk) yang diperdagangkan di dunia diangkut oleh ribuan kapal melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), Selain itu laut Indonesia juga menyimpan banyak cadangan minyak dan gas bumi atau mineral dan batubara. Angka-angka cadangan minyak dan gas yang dimiliki Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, saat ini menunjukkan cadangan terbukti minyak bumi berada di angka 3,602.53 MMSTB, sedangkan cadangan potensial di angka 3,702.49 MMSTB.

Selain minyak dan gas bumi, potensi mineral juga ditemukan di berbagai wilayah laut Indonesia seperti yang dipaparkan oleh Direktur Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (TISDA) BPPT, yang dikutip dari halaman resmi website Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bahwa kandungan mineral yang bernilai ekonomis akan ditemukan dalam jumlah potensial di perairan utara Sulawesi dan Maluku karena topografi dasar lautnya sama dengan di Papua Nugini yang telah diketahui kaya akan sumber mineral dasar laut.Sumber tambang dasar laut di Papua Nugini mengandung tembaga, seng, plumbum, emas, dan perak.

Untuk mencapai target perekonomian nasional wilayah maritim meyimpan banyak kekayaan yang harus dieksplor. Dalam proses pengembangan ini maka diperlukan adanya inovasi-inovasi teknologi dalam mendukung optimalisasi pereekonomian maritim nasional yang berbasis digitalisasi. Dengan memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang berbasis IPTEK mutakhir di era industri 4.0 dengan ciri khas pemanfaatan energi yang bersih dan murah (cheap and clean energy supply) seperti IoT, AI, Robotics, Blockhain, Cloud Computing, Human-Machine Interface, Big Data, Bioteknologi, dan Nanoteknologi maka wilayah lautan akan terbentuk sebuah ruang pembangunan (development space) yang lebih luas, dan menghasilkan komoditas, produk, dan jasa kelautan baru (emerging) seperti farmasi, energi, mineral, dan tanaman pangan.

Melalui beberapa perangkat teknologi digital tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah inovasi-inovasi teknologi kelautan yang mencakup smart Fisheries, Smart Energy and Bioprospecting, Smart Marine Tourism Small Island and Ecosystem, Smart Port, Shipping and Logistics. Sehingga dalam membangun sebuah perekonomian maritim 4.0 diperlukan sebuah basis digitalisasi berupa software applications, communcations system, telematics and positioning technologies, hardware and software system data analytics solutions dan sensing technologies. Beberapa aplikasi teknologi 4.0 yang telah dikembangkan yaitu E-log book, E-traceability, Digital ocean map, dan masih banyak lagi.

Dengan adanya inovasi-inovasi teknologi dalam pemetaan kekayaan sumber daya laut yang berbasis data terpadu maka akan menunjang pergerakan ekonomi maritim nasional. Selain itu  diperlukan adanya upaya dalam pengembangan sarana transportasi yang canggih melalui peningkatan industri galangan kapal dan konektivitas maritim antar pulau, terutama di daerah-daerah penyumbang komoditas ekspor nonmigas terbesar yang selama ini menjadi penopang utama kegiatan ekspor nasional. Jika seluruh kegiatan ekonomi kelautan dikembangkan dan dikelola dengan mengenakan inovasi IPTEK dan manajemen mutakhir, maka sektor-sektor ekonomi kelautan akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi sejumlah permasalahan bangsa dan secara simultan dapat mengekselerasi terwujudnya Indonesia Emas pada 2045.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terbentang luas dari sabang hingga     merauke. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Indonesia memiliki 17.499 pulau dengan luas total wilayah Indonesia sekitar 7,81 juta km2. Dari total luas wilayah tersebut 33,25 juta km2 adalah lautan dan 2,55 juta km2 adalah Zona Ekonomi Eksklusif, hanya sekitar 2.01 juta km2 yang berupa daratan. Dengan luasnya wilayah lautan yang ada, Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar sehingga Indonesia menjadi poros maritim dunia pada perdagangan global yang menghubungkan kawasan Asia Pasifik dan Australia.Wilayah Indonesia membentang pada garis khatulistiwa beriklim tropis, dengan panjang dari timur ke barat 5.100 km dan dari utara ke selatan 1.888 km.

Laut Indonesia memiliki kekayaan keaneragaman hayati biota laut yang sangat melimpah dan disebut dengan (marine mega-biodiversity). Laut Indonesia memiliki 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies biota terumbu karang. Berbagai jenis sumberdaya ikan ekonomis penting yang menghuni perairan Indonesia, baik perairan laut maupun perairan tawar. Sebagian di antara spesies ekonomis penting tersebut merupakan komoditas andalan dalam industrialisasi perikanan, yaitu: TTC (tuna, tongkol, cakalang), udang (tawar dan laut), bandeng, patin, lele, nila dan rumput laut. Adapun garam, yang merupakan sumberdaya non hayati, banyak diusahakan di wilayah tertentu, juga memegang peran penting bagi perekonomian rakyat. Indonesia memiliki dua fenomena anomali iklim regional, yaitu ENSO (El-Nino dan La Nina) di belahan timur (Samudra Pasifik) dan Indian Ocean Dipole Mode (Positif dan Negatif) di belahan barat (Samudra Hindia), sehingga mempengaruhi ekosistem perairan Indonesia dan biota yang hidup di dalamnya.

Selain memiliki  kekayaan keaneragaman hayati, Indonesia sejak Revolusi Industri Pertama (1753) hingga sekarang bahwa 85% transportasi komoditas dan produk dunia itu melalui laut, sekitar 45% total barang (Komoditas dan produk) yang diperdagangkan di dunia diangkut oleh ribuan kapal melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), Selain itu laut Indonesia juga menyimpan banyak cadangan minyak dan gas bumi atau mineral dan batubara. Angka-angka cadangan minyak dan gas yang dimiliki Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, saat ini menunjukkan cadangan terbukti minyak bumi berada di angka 3,602.53 MMSTB, sedangkan cadangan potensial di angka 3,702.49 MMSTB.

Selain minyak dan gas bumi, potensi mineral juga ditemukan di berbagai wilayah laut Indonesia seperti yang dipaparkan oleh Direktur Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (TISDA) BPPT, yang dikutip dari halaman resmi website Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bahwa kandungan mineral yang bernilai ekonomis akan ditemukan dalam jumlah potensial di perairan utara Sulawesi dan Maluku karena topografi dasar lautnya sama dengan di Papua Nugini yang telah diketahui kaya akan sumber mineral dasar laut.Sumber tambang dasar laut di Papua Nugini mengandung tembaga, seng, plumbum, emas, dan perak.

Untuk mencapai target perekonomian nasional wilayah maritim meyimpan banyak kekayaan yang harus dieksplor. Dalam proses pengembangan ini maka diperlukan adanya inovasi-inovasi teknologi dalam mendukung optimalisasi pereekonomian maritim nasional yang berbasis digitalisasi. Dengan memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang berbasis IPTEK mutakhir di era industri 4.0 dengan ciri khas pemanfaatan energi yang bersih dan murah (cheap and clean energy supply) seperti IoT, AI, Robotics, Blockhain, Cloud Computing, Human-Machine Interface, Big Data, Bioteknologi, dan Nanoteknologi maka wilayah lautan akan terbentuk sebuah ruang pembangunan (development space) yang lebih luas, dan menghasilkan komoditas, produk, dan jasa kelautan baru (emerging) seperti farmasi, energi, mineral, dan tanaman pangan.

Melalui beberapa perangkat teknologi digital tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah inovasi-inovasi teknologi kelautan yang mencakup smart Fisheries, Smart Energy and Bioprospecting, Smart Marine Tourism Small Island and Ecosystem, Smart Port, Shipping and Logistics. Sehingga dalam membangun sebuah perekonomian maritim 4.0 diperlukan sebuah basis digitalisasi berupa software applications, communcations system, telematics and positioning technologies, hardware and software system data analytics solutions dan sensing technologies. Beberapa aplikasi teknologi 4.0 yang telah dikembangkan yaitu E-log book, E-traceability, Digital ocean map, dan masih banyak lagi.

Dengan adanya inovasi-inovasi teknologi dalam pemetaan kekayaan sumber daya laut yang berbasis data terpadu maka akan menunjang pergerakan ekonomi maritim nasional. Selain itu  diperlukan adanya upaya dalam pengembangan sarana transportasi yang canggih melalui peningkatan industri galangan kapal dan konektivitas maritim antar pulau, terutama di daerah-daerah penyumbang komoditas ekspor nonmigas terbesar yang selama ini menjadi penopang utama kegiatan ekspor nasional. Jika seluruh kegiatan ekonomi kelautan dikembangkan dan dikelola dengan mengenakan inovasi IPTEK dan manajemen mutakhir, maka sektor-sektor ekonomi kelautan akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi sejumlah permasalahan bangsa dan secara simultan dapat mengekselerasi terwujudnya Indonesia Emas pada 2045.

Sumber: https://indonesiabaik.id/infografis/infografis-indonesia-kaya-potensi-kelautan-dan-perikanan

Intan Maratus Solikhah                  
136 0 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.