Trending

Miri Pariyas Tutik Fitriyas                  
198 0 2
Sosial dan Bisnis May 5 3 Min Read

Filosofi Bahan Olahan Ketupat




Tidak lengkap memang, kalau belum merasakan hidangan utama saat lebaran, sebut saja ketupat. Semakin lezat dan mantap kalau dipasangkan dengan opor ayam. Ditambah suasana kebahagiaan saat lebaran, membuat kelezatan semakin terasa. Bukankah begitu para sobat?

Ketupat bukan sekedar hidangan utama saat lebaran, tapi dia punya sejarah tersendiri. Berawal dari dakwah salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga. Semua mengenalnya sebagai Wali Songo yang meyiarkan dakwah Islam berbeda dengan lainnya. Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya agar nilai islam diterima di hati masyarakat. Salah satunya adalah ketupat.

Ketupat atau kupat memiliki arti khusus. Dalam ajaran Kalijaga ketupat atau kupat memiliki singkatan dari ngaku lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya adalah mengakui kesalahan. Laku papat artinya adalah empat tindakan. Keempat tindakan dalam perayaan Lebaran tersebut adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Ngaku lepat, terdapat sebuah pesan bahwa seseorang harus meminta maaf kepada orang lain, terutama kepada orang tua. Lebaran berasal dari kata “lebar” yang memiliki arti maaf telah dibuka lebar. Nilai itu digunakan untuk saling maaf-memaafkan. Luberan artinya melimpah, maka sesungguhnya wajib bagi kaum muslim apabila memiliki kelebihan  materi untuk berbagi kepada sesamanya. Leburan hampir sama dengan ngaku lepat bahwa umat Islam wajib saling memaafkan. Dari nilai tersebut kita dapat mempelajari bahwa Islam itu selalu memberi kasih dan mengajarkan kasih sayang atas sesamanya. Terakhir adalah laburan artinya orang suci. Ketika telah menerapkan nilai ngaku lepat, lebaran, luberan, leburan, maka sesungguhnya kita sedang kembali seperti anak baru lahir yang tak memiliki dosa dan semua kembali kepada kesucian itu sendiri.

Mengapa harus Ketupat?

Ketupat adalah sebuah makanan berbahan dasar beras. Kupat dibungkus dengan anyaman janur. Dalam bahasa Jawa beras yang telah dimasak akan menjadi nasi yang memiliki lambang “nafsu”. Setelah dibelah, akan terlihat ketupat yang berwarna putih. Warna tersebut, sering kali diartikan sebagai warna kesucian, sehingga melambangkan sebuah kebersihan dan kesucian hati. Setelah, sebulan puasa penuh, memohon ampun Allah dan sesama manusia atas segala kekhilafan. Oleh karena itu, nasi putih dalam hal ini diartikan bahwa manusia harus dapat menahan dan membersihkan nafsu agar kembali kepada kesucian.

Ketupat dibungkus oleh janur memiliki kepanjangan dari sejatine nur yang melambangkan seluruh manusia berada dalam kondisi yang bersih dan suci setelah melaksanakan ibadah puasa. Bungkus ketupat terbuat dari janur yang dianyam dengan sangat rumit, juga memiliki filosofi tersendiri yakni kesulitan untuk saling memaafkan, selain itu anyaman janur yang rumit menggambarkan keragamaan masyarakat. Namun, janur yang melekat satu sama lain membentuk sebuah anyaman, sejatinya memiliki makna mempererat tali silaturahmi tanpa memandang perbedaan pangkat, jabatan, dan kekayaan.

Selain itu, ditambahkan pula oleh salah satu Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yakni Zarary yang memaknai anyaman ketupat sebagai salah satu pengendilan nafsu selama melakukan ibadah puasa “Anyaman ketupat yang sangat rumit memiliki arti bahwa hidup manusia itu juga penuh dengan liku-liku, pasti ada kesalahan di dalamnya. Kupat juga memiliki bentuk segi empat yang menggambarkan empat jenis nafsu dunia yaitu al-amarah, yakni nafsu emosional; al-lawwamah atau nafsu untuk memuaskan rasa lapar; supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah; dan mutmainah, nafsu untuk memaksa diri. Dan orang yang memakan ketupat menggambarkan pula telah bisa mengendalikan keempat nafsu tersebut setelah melaksanakan ibadah puasa.”

Bentuk ketupat yang begitu indah dan sempurna, sebenarnya juga memiliki pemaknaan secara khusus ketika dikaitkan dengan hari lebaran yakni melambangkan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa. Kemenangan tidak hanya sekedar diartikan menahan rasa-lapar dan dahaga, akan tetapi lebih dari itu. Kemenangan dalam melawan nafsu diri sendiri, saling membantu sesama lewat adanya zakat fitrah, dan merasakan kelaparan seperti beberapa orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, sehingga pada saat itu pula, kita dapat mengasah rasa kepekaan untuk melakukan ibadah sosial terhadap sesama. Semoga ibadah sosial tidak hanya dilakukan ketika di bulan puasa, namun semoga akan terus berlanjut.

Refrensi

Achroni, Dawud. 2017. Belajar dari Makanan Tradisional Jawa. Jakarta Timur: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Akabar, Jay. 11 Agustus 2010. Menguyah Sejarah Ketupat. https://historia.id/politik/articles/mengunyah-sejarah-ketupat-Pdag6/page/1. Diakses Pada Tanggal 5 Mei 2022.

Rafriani, Virdita. 13 Mei 2021. Inilah dan Filosofi Ketupat yang Menjadi Makanan Khas Lebaran. https://caritahu.kontan.co.id/news/inilah-makna-dan-filosofi-ketupat-yang-menjadi-makanan-khas-lebaran-1?page=all. Pada Tanggal 5 Mei 2022.

Zarary, Rara. 30 Mei 2020. Lima Makna dan Filosofi Ketupat. https://tebuireng.online/lima-makna-dan-filosofi-ketupat/. Diakses Pada Tanggal 5 Mei 2022.

Refrensi Gambar

Syofyan, Donny. 11 Juni 2018. Essay: Happy Lebaran, Enjoy ‘Ketupat’. https://www.thejakartapost.com/life/2018/06/11/essay-happy-lebaran-enjoy-ketupat.html. Diakses Pada Tanggal 5 Mei 2022.

Miri Pariyas Tutik Fitriyas                  
198 0 2
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.