Sosial dan Bisnis March 17 5 Min Read

NETFLIX SERIES “STRANGER THINGS” PERSPEKTIF PERTAHANAN NEGARA




NETFLIX SERIES “STRANGER THINGS” PERSPEKTIF PERTAHANAN NEGARA

 

Dr. Jeanne Francoise

Alumni Master dan Doktor Ilmu Pertahanan Angkatan Pertama Universitas Pertahanan RI /

Produser dan Reviewer Film

 

Kali ini saya akan membahas suatu pemikiran yang sangat serius, yakni Pertahanan Negara, melalui analisis Netflix series “Stranger Things” (2016-2022). Stranger Things adalah series pada platform Netflix yang menyuguhkan adegan pembuka tentang hilangnya seorang bocah laki-laki, Will Byers, tanpa jejak sama sekali setelah bersepeda malam dengan teman-temannya di pedesaan fiktif bernama Hawkins.

Teman-temanya kemudian merasa bersalah dan mencari kemana-mana. Plot semakin kompleks ketika muncul anak perempuan aneh berkekuatan telekinesis yang mengaku dirinya bernama Eleven, tepat di saat hilangnya Will. Adegan demi adegan pun semakin seru ketika beberapa orang mulai hilang seperti Will dan banyak rahasia terungkap di balik proyek kerja misterius Departemen Energi Amerika dan Laboratorium Nasional Hawkins.

Sutradara Duffer Bersaudara dengan sangat apik menciptakan plot-plot tak terduga tentang adanya uji coba manusia, misi misterius pemerintah, serta pemenuhan elemen sci-fi terutama kehadiran alien sebagai musuh bersama (baca bagian ‘elemen sci-fi’ dalam opini saya sebelumnya:

https://generasipeneliti.id/tulisan.php?id=ID4i2qzA3OdUGj&judul=PERKEMBANGAN-ELEMEN-SCI-FI-DALAM-SINEMA-J.J.-ABRAMS).

            Duffer Bersaudara kemudian membawa penonton memasuki budaya popular Amerika tahun 1980-an, lengkap dengan adanya festival kota, permainan game retro, penggambaran fashion yang sangat khas, dan pemberitaan di televisi tentang Perang Dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pada Season 2 dan 3 kemudian Duffer Bersaudara mulai memunculkan peran para tentara Amerika dalam beberapa adegan, terutama dalam hal mengamankan instalasi laboratorium, pengamanan kota, dan misi intelijen.

Bagi penonton yang memiliki pemahaman dasar Pertahanan Negara, akan memiliki asumsi awal bahwa alien dalam Stranger Things ini bukan sekedar alien biasa yang duduk manis, tetapi alien yang memiliki kemampuan menyerang keberadaan negara. Bahkan memiliki kumpulan alien. Untuk latar belakang sejarah tentang alien, pembaca Generasi Peneliti dapat secara reguler belajar dari laman https://betaufoindonesia.blogspot.com/.

            Tentu kita bertanya-tanya apakah hubungannya menonton sebuah film dengan analisis Pertahanan Negara? Perlu diingat film adalah salah satu ekspresi humaniora. Apabila boleh sedikit mengutip kembali artikel opini saya “Poros Baru Pertahanan Negara: Ilmu Pertahanan dan Ilmu Humaniora” yang pernah dipublikasikan pada laman https://ipcra-id.org/2020/10/10/ilmu-pertahanan-negara-dan-ilmu-humaniora/ maka postulat itu adalah sebagai berikut.

Humaniora menjadi bagian dari poros baru Pertahanan Negara dengan alasan ilmiah yang sangat kuat. Secara ilmiah, setiap ilmu akan selalu mengalami masa perkembangan dan kemundurannya sendiri. Begitulah temuan penelitian Michael Foucault dalam merumuskan tentang arkeologi ilmu pengetahuan atau Jacques Derrida dalam teori Dekonstruksi Teori-nya (op.cit). Sebagai contohnya adalah keterbatasan Teori Realisme.

Teori Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional pada awalnya adalah teori yang paling cocok untuk mengkaji tentang Pertahanan Negara, sebab Pertahanan Negara adalah analisis kombinasi dari cara sebuah negara mempertahankan bangsanya, kekuatan military capabilities, keamanan nasional, studi strategis dan intelijen. Namun seiring perkembangan ancaman-ancaman hybrida, tentu teori ilmu sosial lainnya seperti Digitalisasi, Ruang Siber, Ekonomi Global, dan ilmu Humaniora menjadi bagian tak terpisahkan untuk menganalisis Pertahanan sebuah Negara dalam hal menghidupi bangsanya pada Era Revolusi Sosial 5.0.

Gambar 1. Netflix series Stranger Things (amazon.com)

            Apabila kembali melihat kembali Sejarah Eropa dari kacamata Romantisme, Pertahanan Negara bukan hanya soal Perang, Intelijen, dan hubungan sipil-militer, tetapi juga hubungan ‘romantis’ antara negara dan rakyatnya. Negara yang mampu bertahan dalam kondisi Etos kerja yang tinggi, semangat juang patriotisme, dan keinginan kuat untuk merdeka dari segala tirani, menjadi sebuah bangsa dengan pikiran-pikiran sehat yang kemudian realitas-realitas itu dapat mendekatkan hubungan rakyat dengan pemerintahannya.

Apabila suatu negara masih memiliki kemiskinan, korupsi, budaya feodalisme, dan ketimpangan hukum, maka mustahil rasanya hubungan negara dan rakyatnya bisa ‘romantis’, serta tentu saja harapan ‘bela negara’ akan susah digapai apabila pemerintahan negara sendiri tidak pernah ‘bela rakyat’. ‘Bela rakyat’ disini bukan hanya konteks negara membela rakyat dalam peperangan, tetapi bagaimana cara negara membela rakatnya dalam hal ekonomi, keadilan sosial, kesetaraan gender, kesehatan nasional, dan penegakkan hukum. Perihal ini biasa kita sebut sebagai Pertahanan Nirmiliter (Non-Military Defence / NMD).

Prof. Johan Galtung dari University of Oslo (https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/096701067000100114?journalCode=sdia) mengatakan bahwa terdapat setidaknya 2 (dua) prinsip utama NMD, yakni pemenuhan hak-hak pasca-konflik dan perlucutan senjata. Tentu Johan Galtung mungkin tidak akan terlalu akur dengan para ahli Pertahanan Negara yang mengatakan bahwa modernisasi senjata dan tenaga nuklir tetap diperlukan untuk mengamankan ketidakpastian masa depan, dengan semacam suatu ‘ketakutan klasik’, bahwa ‘negara tetangga bisa saja diam-diam menyerang tanah kita’.

Dalam konteks Indonesia, NMD diterjemahkan sebagai Pertahanan Nirmiliter, yakni pertahanan yang bertumpu pada Kementerian/ Lembaga Non Kementerian sebagai unsur utama pertahanan nirmiliter sesuai dengan ancaman non-militer yang dihadapi, dibantu oleh unsur-unsur lainnya berupa peran serta segenap rakyat dan pemanfaatan segenap sumber daya nasional lainnya (kemhan.go.id).

Dalam hal Pertahanan Nirmiliter tersebut, apabila Indonesia sudah konsisten menyematkan definisi ‘Nirmiliter’, artinya perumusan ‘Pertahanan Negara’ sendiri tidak bisa dikonsepkan hanya oleh Kementerian Pertahanan. Kementerian Pertahanan perlu menjalin hubungan baik dengan semua Kementerian dan Lembaga Negara, sehingga jangan sampai ketika terdapat kebutuhan urgen atau kondisi mendesak, K/L tidak tahu apa perannya dalam hal Pertahanan Negara. Terlebih negara kita masih berkutat apa perbedaan antara Pertahanan dan Keamanan (https://www.youtube.com/watch?v=k0lfgTo9ZyM&t=1701s).

Makna ‘kesigapan’ dalam Pertahanan Negara menurut saya dapat dikaji dari Prancis. Prancis cukup unik menempatkan posisi warga negaranya dalam konteks berbangsa dan bernegara. Setelah mengalami proses ‘galau tata pemerintahan’, dari mulai Kerajaan, Federalisme, Republik, kembali ke Kerajaan, dan akhirnya demokrasi gabungan Parlementer-Presidensial, Prancis akhirnya bangga punya slogan liberté égalité fraternité untuk menyatukan ide-ide pertahanan negara nirmiliter hasil aspirasi dari rakyatnya.

Liberté artinya ‘kebebasan’, yakni penduduk Prancis ingin lepas dari segala pengekangan, tirani, rezim otoriter, dan segala bentuk pemaksaan. Égalité artinya ‘kesetaraan’ yakni Prancis ingin memperlakukan warga negaranya se-adil mungkin. Hal ini tentu banyak dikritik karena masih terdapat perlakuan Rasisme dan Islamofobia bagi imigran yang datang ke Prancis. Walaupun demikian, Prancis adalah negara modern pertama yang memiliki jaminan kesehatan (sécurité sociale) bagi semua warga negara Prancis, apapun agamanya. Keberhasilan ini patut dicatat setelah asuransi kesehatan dari Pangeran Otto van Bismarck di Jerman.

Kemudian makna Fraternité berarti ‘persaudaraan’, yang berarti orang Prancis ingin bahagia dan sukses bersama-sama. Hal ini bukan berarti ‘sama rasa-sama rata’ seperti ide Komunisme, namun orang Prancis menyelami dengan sangat baik perihal hak-hak asasi manusia. Manusia tentu memiliki harapan, ambisi, dan cita-citanya masing-masing, namun hak-hak individu juga harus berbanding lurus dengan kewajiban-kewajibannya terhadap negara, misalnya membayar pajak tepat waktu dan wajib donasi di saat bencana alam.

Apabila melirik kembali naskah konstitusi Prancis, disebutkan bahwa Prancis mengakui hak-hak asasi warga negara Prancis dan hak-hak asasi manusia. Sayangnya tidak banyak negara yang mendalami hal ini dan hanya mengadopsi Hak-Hak Asasi Manusia saja. Padahal konsep HAM tidak mampu menjelaskan semangat dan spirit warga negara yang menghentikan kegiatan-kegiatan, atau bahkan rela membunuh saudaranya sendiri yang menjadi separatis atau bahkan teroris. Seolah-olah pejuang nasionalisme ini dianggap pelanggar HAM semata. Tentu labelling ini akan semakin menjadi-jadi ketika ‘para pakar HAM’ lantas memberi ‘penilaian’ bahwa ‘tentara pasti melanggar HAM pada saat perang’. Padahal di dalam perang tidak pernah ada kepastian (baca Sun Tzu Art of War). Terlebih media massa sangat berperan membentuk konstruktivisme berpikir seperti ini.

Apabila kembali kepada definisi, Pertahanan Negara adalah segala usaha untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa (Kemhan, 2016), maka upaya-upaya itu perlu terus menerus diulang-ulang, tidak hanya dalam hal pembelajaran perkuliahan, tetapi juga semenjak pendidikan dasar. Pepatah Prancis mengatakan, La mere est la repetition de la Science atau Pengulangan adalah ibu dari ilmu pengetahuan.

Di dalam Netflix series Stranger Things, liberté égalité fraternité terlihat dalam hal bertahan bersama-sama melawan dunia Upside-Down yang menjadi efek kebocoran ilmiah tak terduga para ilmuwan Hawkins. Namun di sisi lain, terutama adegan konfrontasi aparat dengan masyarakat pada Season 1, Duffer Bersaudara terlihat mengkritik akan banyaknya rahasia-rahasia Pertahanan Negara yang justru memiliki civil effect yang membahayakan warga negara. Disitulah Pertahanan juga merupakan Seni, sebab terdapat upaya-upaya harmonisasi antar-pihak yang berkepentingan agar kondisi menjadi lebih aman dan kondusif.

Berdasarkan Netflix series Stranger Things pula kita jadi mempelajari bahwa Pertahanan Negara melibatkan pertahanan rakyat semesta yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, terutama mereka yang mempelajari kajian-kajian khusus berbasis objek penelitian masyarakat, seperti Sejarah, Etnografi, Ilmu Budaya, dan Antropologi agar mampu melindungi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar dari serbuan alien yang kadang berubah wujud menjadi manusia yang kita kenal seperti pada ide cerita Season 3. Apabila tidak ada deteksi dini dan tindakan pencegahan, maka alien yang berubah bentuk ini akan memenuhi semua penduduk dan menghilangkan eksistensi manusia.

Ending Season 3 sendiri juga masih menggantung, yakni Kepala Departemen Polisi Hawkins, Jim Hopper, diperlihatkan secara samar-samar ditahan di penjara Rusia. Tentu kita menunggu Season 4 yang direncanakan akan hadir pada 27 Mei 2022. Mari tetap belajar Pertahanan Negara dari Netflix series Stranger Things, sebab Pertahanan Negara bukan ruang yang tertutup, tetapi ruang diskusi terbuka untuk mengkaji segala hal yang mungkin terjadi, termasuk alien, UFO, dunia spiritual, dan hal-hal yang belum dapat dijelaskan dengan nalar logika manusia saat ini.

*****

Dr. Jeanne Francoise                 
314 0 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.