Opini Akademisi July 13 7 Min Read

Asimilasi dan Integrasi dalam Perkawinan laki – laki Minang dengan Perempuan Melayu




Negara Indonesia menjadi gambaran utuh tentang arti multikulturalisme, bangsa ini telah disatukan oleh para founding father dengan sebuah “semboyan bhineka tunggal ika” dan diperkuat dengan dasar negara yaitu Pancasila. Dua modal utama yang menjadi unsur pemersatu bangsa ini, meskipun tidak dapat dipungkiri tidak sedikit segolongan tertentu yang pesimis dengannya. Ancaman terbesar untuk kebangsaan ini adalah ancaman SARA, isu ini sering diakomodasi untuk kepentingan politik, karena isu ini cukup sensitif sehingga efektif untuk mengadu domba kehidupan yang multi – kultur ini. 

Namun tidak bisa menutup mata dengan kenyataan bahwa multikultur menjadi penyumbang keberagaman yang menjadi nilai jual sehingga memperkaya nilai bangsa ini. Dalam kehidupan yang multikultur ini terdapat dua hal yang tak kan pernah terlepas yaitu asimilasi dan integrasi. Berbicara mengenai asimilasi adalah bicara mengenai kerelaan melepaskan hak tertentu agar bisa menempuh suatu proses integrasi. Salah satu contoh yang akan dikemukakan dalam tulisan ini adalah tentang perkawinan yang terjadi antara seorang gadis Melayu dan pria berdarah Minangkabau, yang mana calon pengantin pria adalah kakak kandung saya. Pernikahan yang berlangsung tidak hanya antara si pria dengan si gadis, namun lebih luas dari itu ternyata pernikahan antar suku telah terjadi. Dapat disaksikan terjadi berbagai macam perkenalan budaya antar satu dengan lainnya. Tentu untuk dapat menerima semua itu secara keseluruhan bukan hal yang mudah, selain melihat hal ini sebagai suatu keberagaman yang dinilai unik oleh satu sama lain, disisi lain tak banyak yang menyadari ada beberapa hal yang juga harus mulai dibiasakan. 
Saya mengambil satu dari berbagai macam contoh, yaitu mengenai cita rasa masakan yang terdapat pada dua kebudayaan tersebut, yang tentunya sangat kontras, apabila orang Minang terkenal dengan cita rasa masakannya yang pedas, justru kebudayaan Melayu sebaliknya, mereka lebih menyukai masakan dengan cita rasa yang manis. Setelah melangsungkan pesta pernikahan kehidupan baru antara dua pasangan tersebut mulai ditempuh, meski ada semacam kekhawatiran akan terjadinya ketidak-cocokan terutama pada masakan tersebut, namun dapat dilihat keharmonisan tetap terjalin, karena tentu telah dibuat suatu negosiasi antara dua pihak agar perbedaan tersebut tidak meruncing hingga menyebabkan perpisahan. Ada pihak yang pada akhirnya harus menerima dan mengikhlaskan, hingga kemudian membiasakan untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan yang ada, hal inilah yang disebut proses asimilasi. 

Proses asimilasi tidak hanya terjadi antara dua pasangan tersebut, namun juga menyertai dengan keluarga besar pihak laki – laki, saat berkunjung ke rumah sang istri, pihak keluarga laki – laki memang kerap sulit untuk menyesuaikan selera dengan masakan yang mayoritas bercita rasa manis, namun sebisa mungkin tidak mengutarakannya langsung di hadapan sang istri maupun keluarga sang istri. Maka mereka berinisiatif mencari tempat makan lain yang tidak bercita rasa manis. Hal ini sebagai suatu upaya agar tetap menjaga keharmonisan hubungan yang telah terjalin melalui pernikahan tersebut. Kasus silang budaya dalam perkawinan tersebut hanya satu dari sekian banyak contoh terjadi dalam suatu norma kehidupan, ada banyak jenis silang budaya yang akhirnya semakin meningkatkan keberagaman dan keharmonisan hidup dalam suatu wilayah. 

Manfaat dari silang budaya tentu ada banyak, di antaranya adalah; 

1. Memodifikasi dan mempertahankan suatu kebudayaan 

2. Memperkaya ragam budaya agar dinikmati secara lebih luas lagi 

3. Mencerminkan bentuk tolerasi antar sesama 

Dari contoh kasus silang budaya yang terjadi lewat pernikahan antara gadis Melayu dan pria Minangkabau yang dialami kakak saya ini dapat diambil sebuah hikmah bahwa dalam proses silang budaya suatu proses asimilasi dan integrasi menjadi suatu hal yang mutlak agar dapat mempertahankan jati diri satu sama lain, walaupun ada yang harus dikorbankan, namun di balik itu ada hikmah indahnya keberagaman yang bisa dinikmati oleh masing – masing pihak. 

Menurut koentjaningrat (1990: 248) menyatakan bahwa proses asimilasi adalah suatu proses keniscayaan yang akan berlangsung setelah sekian lama suatu kebudayaan bersatu, dengan menghargai makna perbedaan dan menjunjung tinggi persatuan hingga tebentuk suatu khas baru yang semakin memperkaya nilai dalam lingkungan tersebut. Sedangkan integrasi menjadi proses yang saling berhubungan satu sama lain dengan asimilasi. Pengintegrasian dibutuhkan sebagai upaya untuk merekatkan suatu perbedaan yang ada agar memperoleh titik keseimbangan antara 2 perbedaan. Melalui dua proses tersebut akan terwujud suatu nilai baru yang tidak akan terkesan dipaksakan karena memang ditujukan untuk mencapai suatu kenyamanan dalam kerukunan yang dikendaki.

Nia Ramadhani                 
124 1 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(1) Komentar

Image
15 July 2022

Kereenn!!!

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.