Opini Akademisi May 7 8 Min Read

Review Buku Nonfiksi "Nasehat Buat Sehat" karya Dokter Tan Shot Yen




Identitas Buku

Judul: Nasehat Buat Sehat

Subjudul: Cara berpikir, bertindak, dan berhasil menjadi sehat

Penulis: Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum. 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2015

Cetakan yang dibaca: Cetakan V, Maret 2020 (pada sampul terdapat logo Best Seller)

Bahasa: Indonesia

Tebal: 203 halaman

 

Ulasan Singkat

Ada banyak hal menarik yang dibahas dalam buku ini. Saya secara spesifik tidak akan menjelaskan apa saja hal tersebut karena rawan salah tafsir jika dibahas setengah-setengah. Namun, saya akan mencoba merangkum apa saja yang dijabarkan dalam setiap bab di buku ini secara garis besarnya. Detailnya lebih baik nanti Anda baca sendiri dalam bukunya.

Buku ini terdiri dari 5 bab. Berikut judul-judul babnya:

  1. Saya pilih sehat dan sembuh
  2. Tubuh bukan mesin yang hidup
  3. Pasien punya pilihan!
  4. Makanan dan kebiasaan
  5. Menuju esok yang lebih baik

Bab pertama secara keseluruhan membahas mengenai perbedaan patuh dengan paham. Ada beragam contoh kejadian di sekitar kita yang dibahas di bab ini. Contohnya pun dari beragam tema, tidak hanya seputar kesehatan. Jika ditarik benang merahnya, semua contoh yang tersaji memang berkaitan. Pembaca nantinya diharapkan paham mengapa contoh-contoh yang dibahas bisa terjadi di sekitar kita dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya. Saran saya, bab ini sebaiknya dibaca pelan-pelan dengan kepala dingin. 

Bab kedua menjelaskan mengenai asal-muasal pemahaman keliru yang menganggap tubuh manusia sebagai kesatuan mekanistis sehingga disamakan dengan mesin. Tentunya pemahaman keliru ini menimbulkan banyak masalah dalam berbagai bidang. 

Bab ketiga membahas mengenai bagaimana tips untuk pasien dalam membuat pilihan yang bijak untuk penanganan penyakitnya, serta bagaimana seharusnya dokter dan pasien bekerjasama demi kesembuhan si pasien. Selain itu, juga dibahas mengenai perbedaan cara kerja teknologi dengan cara kerja manusia sebagai kesatuan biologi. Yang mana kekeliruan pemahaman mengenai manusia sebagai kesatuan biologi juga berimbas pada masalah terkait makanan.

Masalah terkait makanan tersebut dibahas lebih detail di bab keempat. Bab keempat juga menjabarkan tentang pergeseran kebiasaan di masyarakat lalu imbasnya pada kelirunya pemahaman tentang makanan sehat. Ciri-ciri makanan sehat dicantumkan dalam bab ini agar pembaca bisa lebih memahami makanan seperti apa yang sehat dan dibutuhkan oleh tubuh kita. Selain itu, efek makanan sehat dan pola hidup sehat bagi tubuh diilustrasikan dalam perbandingan dua siklus yang dinamai lingkaran sesat dan lingkaran sehat

Selanjutnya, demi hari esok yang lebih baik, dalam bab 5 ditegaskan lagi mengapa penting untuk memakan makanan yang dibutuhkan tubuh, bukan yang diinginkan lidah. Penjelasannya dilengkapi dengan membedah piramida makanan versi Indonesia di akhir bab. Diberikan pula beberapa fakta di lapangan yang akan membuka mata kita bahwa pemahaman mengenai makanan sehat yang dibutuhkan tubuh di masyarakat sudah jauh melenceng. Selain itu, dijabarkan pula beberapa fenomena berbentuk sebab-akibat yang membuat kita bisa menyadari betapa pentingnya memiliki pola pikir yang benar demi masa depan yang lebih baik. Tujuannya tentu agar pembaca tidak ikut-ikutan terbawa arus yang salah. 

Di akhir buku, ada bab tambahan yang berjudul "Sepuluh hal yang (tidak) praktis tapi logis". Mulai dari perkara makanan, memasak, olahraga, hingga hal-hal terkait berkeluarga.

 

Rekomendasi Pembaca

Dalam barcode buku ini tertera kategori usia 18+. Bagi Anda yang sudah memenuhi kategori usia tersebut, saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini. Buku ini banyak memperbaiki sudut pandang saya terkait penyakit, berobat, makanan, dan gaya hidup sehat. Memiliki pemahaman yang benar mengenai hal-hal tersebut menurut saya merupakan sebuah keharusan. 

Jika Anda memang belum pernah mengenal penulis buku ini dan memang belum pernah sama sekali membaca tulisan beliau baik berupa buku, tulisan di website, maupun di media sosial instagram (@drtanshotyen) maka mungkin Anda akan tercengang dengan fakta yang dibahas. Namun coba renungkan, jangan menghakimi kalau pemahaman Anda selama ini yang paling benar atau semacamnya. Renungkan, pahami pelan-pelan mengapa fenomena-fenomena yang dibahas dalam buku ini bisa terjadi dan bagaimana sebaiknya Anda bersikap kedepannya agar tidak ikut terbawa arus.

 

Kutipan Favorit

  • Pemberdayaan adalah kata kunci mengentaskan kemiskinan, kemalasan, dan ketidaktahuan. Hanya orang berdaya yang mampu memilih, "sehat dan sembuh" atau "tetap sakit" - halaman 5
  • Tidak banyak awam yang tahu, dokter ortopedi misalnya, sekalipun ahli menangani patah tulang dan berbagai penyakit sendi, tapi bukan ahli nutrisi. Jadi, tidaklah tepat bila pasien menganggap orang bergelar "dokter" pasti tahu soal pola makan yang tepat maupun gaya hidup keseluruhan - halaman 26 
  • Industri merupakan pemain penting dalam sistem reduksionisme sains yang mempersempit pengetahuan kita tentang pola makan dan penyakit - halaman 64
  • Apa jadinya jika gangguan tidur hanya diberi obat tidur, malah kalau perlu antidepresi sekalian, sementara penyebab gangguan tidurnya tidak pernah ditelaah dokter? - halaman 66
  • Mengubah pola makan dan perbaikan gaya hidup pun, demi melepas obat, selama tidak diarahkan dokter yang ahli di bidangnya dan memahami betul arti pola makan, sama saja seperti terjun bebas ke jurang - halaman 75.
  • Sangat menyedihkan sekali jika orang menilai makanan sehat semata-mata hanya berdasarkan tidak mengandung pewarna dan pengawet - halaman 99
  • Banyak orang kelihatan malu bila tidak berdandan ke kantor sehingga menyediakan waktu cukup lama untuk bersolek, ketimbang merasa bersalah terhadap tubuhnya karena tidak sempat sarapan - halaman 135
  • Nilai ulangan bagus bukan perkara puasa nonton dan bermain sehari sebelum ulangan. Melainkan keterampilan dan komitmen menyicil belajar sejak pertama kali mata ajar diperkenalkan - halaman 151 
  • Apabila anak didik mendapat optimalisasi pengetahuan kesehatan sejak usia sekolah dini hingga remaja, sesuai daya nalarnya, pihak sekolah tidak perlu repot menggusur penjaja makanan tidak sehat di depan sekolah. Dengan modal pengetahuan dan perilaku kritis, anak didik tidak akan mau lagi membeli apa yang tidak dibutuhkan tubuhnya, apalagi yang terlalu berbahaya untuk dikonsumsi dalam jangka panjang - halaman 167

 

Apakah Anda tertarik membaca buku ini? 

Nantikan ulasan buku-buku menarik lainnya dari saya. Untuk menemukan ulasan buku lainnya dari saya, bisa search #catatanemik di website generasipeneliti.id

 

Note: Mari budayakan membeli buku original. Stop membeli buku bajakan.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi.

Ni Kadek Emik Sapitri                 
71 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.