Opini Akademisi March 6 7 Min Read

Ahmet T. Kuru dan Masa Depan Peradaban Islam




Dalam bidang akademik Islamic studies, di setiap universitas yang memilikinya, dikaji satu topik penting berjudul “masa depan peradaban Islam.”

Entah itu pada level sarjana, magister, ataupun doktoral, topik “masa depan peradaban Islam” terlalu penting bagi kajian Islam untuk diabaikan.

Lagi pula, untuk apa capek-capek belajar seluk-beluk tradisi Islam klasik yang amat kaya itu, jika bukan untuk meramalkan akan seperti apa penampakan umat Islamnya kini dan nanti.

Kaum modernis Muslim abad 19 Masehi bisa dibilang merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas tumbuhnya perhatian pada masa depan peradaban Islam. Di antara mereka kita mengenali Jamaluddin Al-Afghani, dan Abduh, muridnya.

Namun di abad 20 dan 21 bermunculan sarjana lain yang jauh lebih canggih dalam meramalkan masa depan peradaban Islam, semisal Seyyed Hossein Nasr, Naquib Al-Attas, atau Ali Allawi.

Kini, menyusul mereka, satu nama mencuat ke permukaan. Ia adalah Ahmet T. Kuru, profesor ilmu politik berkebangsaan Turki, yang saat ini aktif mengajar di Amerika Serikat.

Kuru, pada 2019 menerbitkan buku penting keduanya berjudul Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment: A Global and Historical Comparison.

Buku inilah yang membuat Kuru pantas diacu sebagai salah satu peneliti dan pemikir Muslim yang serius dalam menerawang masa depan peradaban Islam.

***

Sejauh pengamatan saya, Kuru amat berbeda dari Nasr, Attas, atau Allawi dalam penglihatan dan visinya soal peradaban Islam.

Meskipun begitu, dalam hal definisi, mereka semua sepakat bahwa peradaban Islam adalah situasi sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sains, yang diciptakan dan dijalani oleh kaum Muslim dunia.

Sebelum lebih jauh, buku Kuru di atas sebenarnya tidak sedang berbicara soal visi sang penulis akan masa depan peradaban Islam.

Yang Kuru lakukan adalah pembeberan bukti-bukti historis era keemasan Islam, hal-hal yang membuatnya tercipta, dan hal-hal yang membuatnya sirna.

Buku Kuru ini adalah soal sejarah, soal masa lalu, atau paling tidak soal masa kini, namun bukan masa depan.

Meski demikian, terdapat benang merah antara pemikiran Kuru soal masa lalu Islam, dengan cita-citanya yang tersirat soal masa depan kaum Muslim.

Penjelasan Kuru soal sebab-sebab kemunduran peradaban Islam sejak abad 12 hingga kini dalam buku setebal hampir 500 halaman ini sudah pasti bukan sekadar untuk dibaca sebagai pendamping minum kopi di pagi atau sore hari.

Langsung atau pun tidak, Kuru menulis buku ini untuk dipakai oleh masyarakat Muslim dunia sebagai panduan untuk menciptakan kondisi peradaban Islam yang lebih baik.

***

Nasr, Attas, dan Allawi begitu gusar dengan kekalahan umat Islam dalam hal kemakmuran ekonomi dan kemajuan sains dari dunia Barat.

Dengan penuh semangat, ketiganya menyalahkan kolonialisme Barat atas dekadensi moral masyarakat Muslim, begitu juga atas ketertinggalannya.

Walhasil, solusi yang Nasr, Attas, dan Allawi sodorkan adalah mewujudkan kembali supremasi Islam, melalui penciptaan sains Islam, ekonomi Islam, politik Islam dan pandangan-dunia Islam.

Menurut mereka, hanya dengan mempererat diri pada doktrin Islam dan menolak segala resep kemajuan modern, maka peradaban Islam bisa mengharapkan masa depan cerahnya.

Berbeda dari tiga punggawa Islamisasi itu, Kuru skeptis terhadap argumen yang menuduh Barat dan penjajahannya sebagai biang keladi kemunduran Islam.

Analisis Kuru justru membawa bukti sebaliknya; bahwa ada faktor internal yang menyebabkan kemunduran tersebut.

Selain itu, Kuru berbeda dari ketiganya juga berkenaan dengan isu demokrasi. Nasr, Attas, dan Allawi melihat demokrasi sebagai model pemerintahan Barat, dan oleh karena itu berseberangan secara diametral dengan model Islam.

Sebaliknya, Kuru lebih visioner, karena bersikap optimis pada demokrasi, disebabkan elemen-elemen demokrasi yang positif bagi kemanusiaan, seperti kebebasan, kekuasaan rakyat, dan konstitusi.

Oleh karena itu Kuru memakai demokrasi dan demokratisasi sebagai salah satu tolok ukur maju atau tidaknya negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim hari ini.

Dan ternyata sebagian sangat besar dari negara-negara tersebut berada dalam cengkeraman otoritarianisme, hingga detik ini.

Perbedaan Kuru yang lain, dari tiga tokoh Islamisasi di atas, adalah soal keyakinan pada sains modern dan ekonomi modern.

Sudah final bagi tiga tokoh tadi bahwa sains modern dan ekonomi modern adalah sumber bencana bagi cara berpikir dan gaya hidup Muslim saat ini.

Sebaliknya, Kuru membuat kita ingat lagi kepada Pervez Hoodbhoy, fisikawan Muslim asal Pakistan, yang pernah menyatakan bahwa kemajuan Muslim bergantung pada kontribusi mereka dalam hal sains modern dan ekonomi yang menunjangnya.

Semua perbedaan antara Kuru dan mazhab Islamisasi adalah bukti konkrit perihal visi masa depan peradaban Islam Kuru yang jauh lebih realistis.

Dalam rekomendasinya, Kuru menyarankan supaya negara-negara Muslim, secara esensial, mulai menghapus persekutuan ulama dan negara, memberi ruang kebebasan bagi kelas intelektual, dan menjamin kebebasan serupa bagi kelas pedagang dan borjuasi.

***

Buku Kuru mengajukan dua teori penting. Kekuatan dua teori ini terletak dalam, pertama, sanggahannya atas teori yang berlawanan, dan kedua, dalam ketajaman analisa yang menghilangkan kebingungan kita akan penyebab kemunduran di dunia Islam.

Teori pertama Kuru berkata bahwa Islam secara esensial bukan agama yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kebebasan, demokrasi, dan kemajuan.

Buktinya, ada era emas dalam sejarah Islam, antara abad 9 dan 11 Masehi, di mana kebebasan, toleransi, pemisahan agama dan negara, serta kemajuan sains tumbuh secara subur.

Teori Kuru yang pertama membantah mazhab pemikiran esensialisme yang berpikir bahwa Islam, dalam esensinya sebagai agama, memang tidak cocok dengan kebebasan dan kemajuan.

Pada teori yang kedua, Kuru menyatakan bahwa aliansi ulama dan negara merupakan penyebab internal dan efisien dari kemunduran peradaban Islam.

Di akhir abad 11 Masehi, persekutuan negara militer dengan kelas ulama menyingkirkan kelas intelektual dan kelas borjuasi dari jantung dunia Islam.

Sudah sejak lama kelas ulama merasa gusar dengan kebebasan kelas filsuf dan intelektual. Ulama melihat para filsuf sebagai musuh dalam selimut.

Semakin terpelajar masyarakat disebabkan oleh sains dan filsafat, para ulama semakin kehilangan pengikut dan pengaruh.

Kala ulama memperoleh dukungan politik dari negara, semua aliran pemikiran harus menjalani sensor dan inkuisisi.

Dalam proses inkuisisi ini, kehormatan dan nyawa para filsuf dipertaruhkan, sekaligus kesahihan sains dan filsafat dijatuhkan.

Hingga kini kita mengira bahwa ulama dan negara harus bersanding dan membangun sebuah negara Islam. Fakta temuan Kuru mengenai hal ini justru mengejutkan.

Ternyata, persekutuan ulama dan penguasa yang mewujudkan negara-agama bukan bawaan Islam, melainkan sisa-sisa pemikiran Sassanid-Persia.

Dengan kata lain, Kuru ingin menyampaikan kepada kita saat ini bahwa ideologi negara Islam tidak berasal dari Islam.

***

Dalam buku ini ada dua faktor yang Kuru lihat sebagai pencipta kemajuan saintifik dan kemakmuran ekonomi di era emas Islam abad 9 hingga 11 Masehi.

Pertama, ia diciptakan oleh kerjasama kosmopolitan antar beragam orang dari beragam bangsa dan beragam agama: Muslim Sunni, Muslim Syiah, Kristen, Yahudi, Zoroastrian, dan bahkan sarjana-sarjana agnostik.

Dominasi Muslim tidak menghalangi sarjana dan filsuf Muslim untuk bekerja sama dan belajar dari kelebihan umat dan bangsa yang lain.

Inilah alasan utama mengapa sampai bisa filsafat dan sains orang-orang Yunani diterjemahkan oleh orang-orang Kristen dan lalu diajarkan kepada orang-orang Muslim.

Bukan semata kosmopolitanisme dalam bidang sains dan budaya, ia juga merambah bidang ekonomi.

Secara bebas semua orang bisa berdagang, dan pasar-pasar menjadi tempat publik paling ramai kedua setelah universitas dan perpustakaan. Kebebasan pasar berarti tidak adanya monopoli penguasa negara atas ekonomi rakyat.

Kerja sama demi pengembangan sains dan budaya, serta rute-rute perdagangan bebas yang tercipta, menjadi prakondisi bagi kelas ilmuwan dan kelas pedagang untuk tumbuh subur saat itu, yang berdampak pada kemajuan peradaban.

Kedua, kala itu otoritas penguasa negara tidak berada dalam satu aliansi dengan kelas ulama. Dua kelas ini terpisah, tidak saling memanfaatkan.

Menurut Kuru, pemisahan antara kelas agamawan dengan kelas penguasa telah secara substansial menjamin dinamisme dan kebebasan kelas ilmuwan dan saintis saat itu.

***

Kemudian cerita berubah kala abad 11 berakhir dan abad 12 bermula. Kuasa khalifah Abbasiyah semakin lemah seiring menguatnya pengaruh politik Syiah.

Yang terakhir ini bahkan mampu membangun satu dinasti di wilayah Mesir, bernama dinasti Fatimiyah.

Merasa terancam oleh kebangkitan Syiah secara politik dan budaya, Abbasiyah mengeluarkan dekrit untuk menyatukan kekuatan sultan-sultan Sunni dan ulama-ulamanya.

Sebagai salah satu poin dektrit adalah menyingkirkan pengikut aliran pemikiran Syiah, Mu’tazilah, dan falasifah (para filsuf) dari wilayah kekuasaan Sunni.

Dekrit khalifah Abbasiyah dari Baghdad disambut oleh amir-amir mereka dari Asia Tengah bernama kesultanan Seljuk.

Mereka ini tak terbayangkan kekuatan militernya, sanggup dalam waktu singkat menduduki Asia Tengah, Irak, Iran, dan Anatolia.

Melalui Seljuk, ulama-ulama Sunni yang sudah sejak lama tak nyaman dengan kebebasan akademik dan kebudayaan para filsuf Muslim akhirnya memiliki kekuasaan untuk menertibkan masyarakat dari pemikiran-pemikiran para filsuf yang dinilai sesat dan bid’ah oleh para ulama.

Sementara ulama Sunni menciptakan ortodoksi yang memakai kekuasaan negara untuk menghukum para filsuf, penguasa Seljuk mempersempit kebebasan pedagang demi memperkaya kesultanan melalui pemungutan pajak tanah.

Seljuk mengakhiri kebebasan ekonomi zaman pertengahan Islam yang cukup progresif, dan akhirnya memulai feodalisme.

***

Gelombang aliansi ulama dan negara sejak dimulai oleh Seljuk terus berdampak selama abad-abad selanjutnya, tanpa kenal henti.

Ia hanya terhenti kala modernisme Barat datang ke dunia Islam di abad 19 Masehi, dan mengajukan kapitalisme juga kebebasan berpikir.

Keberlanjutan gelombang yang negatif inilah yang sering luput dari banyak sejarawan sebelum Kuru.

Kuru menemukan bahwa model aliansi ulama-negara tidak berhenti di Seljuk, namun dikopi terus menerus, bahkan sampai ke era tiga kesultanan Islam terakhir: Usmani-Turki, Safawi-Iran, dan Mughal-India.

Titik problematik aliansi antara penguasa agama dengan penguasa negara adalah kontribusinya dalam membatasi kebebasan berpikir dan berinovasi para filsuf dan ilmuwan.

Karena dianggap melawan hukum Tuhan dan kesepakatan kaum ulama, banyak filsuf, sufi, dan pemikir bebas Muslim yang harus dipersekusi, bahkan berakhir di tiang gantungan.

Ajaran rasional dan metode-metode ilmiah mereka diharamkan. Mempelajari filsafat dan sains dilarang.

Dan semua ini dilakukan untuk membuat kaum Muslim mementingkan hanya pengetahuan tekstual dari hadits, fikih, dan tafsir.

Sampai hari ini sebenarnya banyak negara berpenduduk Muslim masih merasakan riak-riak gelombang aliansi ulama-negara yang dikatakan oleh Kuru.

Di negeri seperti Indonesia, kelas ulama selalu merasa memiliki hak untuk memberi hukuman kepada siapa saja yang dianggap sesat atau menyimpang dari pendapat mereka.

Mereka selalu bisa memakai ruang-ruang publik secara bebas untuk mengagitasi massa, yang berujung pada persekusi atas golongan yang dianggap tidak sejalan dengan aliran ulama mayoritas.

***

Sewaktu membicarakan kondisi terkini masyarakat Muslim, Kuru menggarisbawahi tiga fenomena utama: kekerasan, otoritarianisme, dan ketertinggalan dalam sains dan ekonomi.

Kuru mengajak pembacanya memeriksa akar-akar tiga fenomena tersebut di masa lalu. Melalui proses retrospektif, satu hal ditemukan untuk diwaspadai. Ia adalah kelestarian aliansi ulama dan negara di dunia Islam.

Sebagai konsekuensi temuan Kuru, masa depan peradaban Islam yang lebih bebas, adil, demokratis, dan maju, bergantung pada independensi semua kelas-kelas strategis di suatu negara.

Kelas penguasa, kelas intelektual, kelas pedagang, dan kelas ulama harus saling terpisah satu sama lain.

Di balik tajamnya kritik Kuru atas aliansi ulama-negara, terletak kepedulian Kuru akan masa depan kehormatan kelas ulama itu sendiri.

Tiap kali para ulama beraliansi dengan negara, mereka hanya menjadi pelayan bagi kepentingan penguasa otoriter dan totaliter.

Padahal, Tuhan jelas memberkahi mereka pengetahuan agama bukan untuk menjadi pelayan nafsu berkuasa seseorang, melainkan untuk membina kebijaksanaan masyarakat yang mempercayakan agamanya kepada mereka. []

Ibnu Rusyd                 
994 0 7
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.