Opini Akademisi April 14 9 Min Read

Keunikan Tradisi Menikah di Suku Samin




Suku Samin merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia dari pendalaman Blora, Jawa Tengah. Banyak orang menyebutnya sebagai ajaran samin atau disebut juga Pergerakan Samin/Saminisme. Orang yang pertama kali membawa ajaran tersebut adalah Samin Surosentiko. Ia mengajarkan sedulur sikep, yang memiliki arti dalam mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Misalnya, dengan menyatakan sikap untuk tidak membayar pajak dan menolak segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kolonial.

Penolakan tersebut, seyoginya bagian dari penguatan nilai adat atau sering disebut dengan kearifan lokal. Nilai itu pun lambat laun menjadi hukum adat, yang “wajib” dilaksankan oleh masyarakat Suku Samin. Tidak hanya pengaturan soal sistem pemerintahan sebagaimana yang telah diutarakan di atas. Namun, soal tatanan kehidupan pun di atur agar mecapai sebuah kesejahteraan Suku Samin sesuai dengan adat mereka. Salah satunya yakni perihal pernikahan.

Pernikahan adalah sebuah ritual suci untuk mengikatkan antara perempuan dan lelaki dalam satu hubungan yang telah terjadi sejak dahulu. Namun, pernikahan tidak hanya terbatas pada pengetahuan teoritis semata, akan tetapi diwujudkan dalam beberapa nilai adat atau tradisi, seperti yang dilakukan oleh Suku Samin. Proses pernikahan suku samin memiliki keunikan tersendiri dan menjadi ciri khas mereka. Tahap proses penikahan di antaranya sebagai berikut.            

Pertama, tahap nyumuk merupakan salah satu tahap awal orang tua calon pengantin si lelaki untuk datang ke rumah si perempuan, tujuanya menjadi pintu masuk mengetahui seluk beluk calon pengantin perempuan. Tidak hanya itu, namun digunakan untuk menjalin silaturahmi antar masyarakat samin dan mengungkap tujuan awal “mengapa hendak bersilaturahmi ke rumah calon perempuan”. Selain itu, pada tahap ini, perempuan tidak diperkenankan terlibat . Bagi masyarakat Suku Samin, untuk menghindari gegauan si perempuan.

Kedua, ijab atau mblase gunem, adalah proses tanggapan dari pihak perempuan yang akan disampaikan oleh walinya dan menujukkan kesediannya untuk menikahi anaknya. Jawaban baik, penolakan atau pun penerimaan merupakan salah satu tanggapan yang telah dipikirkan oleh pihak perempuan. Oleh karena itu, mestinya pihak lelaki harus menerima segala bentuk keputusan dari pihak perempuan. Dan pada tahap ini perempuan diperbolehkan hadir.

Jika dalam proses tersebut, memiliki jawaban “iya”. Maka setelah proses ijab wali pengantin perempuan dipersilahkan untuk kembali ke rumah dan menunggu dalam waktu satu hari hingga tujuh hari untuk masuk ke dalam tahap berikutnya.

Ketiga, kabul atau ngendek, salah satu respon yang diekspresikan dengan menyatakan ridho dari orang tau pengantin pria untuk menikahi seorang wanita yang menjadi pilihanya. Pada tahap ini lelaki menyatakan ikatan pernikahanya secara langsung serta memberikan simbol mahar cincin kepada perempuannya.

Selain pentingnya proses kabul, namun ada yang paling fundamental yang perlu menjadi ingatan yang tak boleh dilupakan yakni Rabi Siji Selawase (seseorang harus memiliki satu pasangan). Mereka menyakini menikah adalah tradisi sakral nan suci, karena mengandung ikatan antara dua insan dalam membentuk keluarga. Oleh karena itu, dalam praktik akan atau ijab diwajibkan menggunakan bahasa Jawa, menganut tradisi terdahulu. Pada kata yang sering diucapkan berikut ini “Wit jeng nabi, kulo lanang bakal rabi tata jenang wedok pengaran kukuh demen janji”. Dalam proses ijab terdapat sebuah kukuh janji yang menandakan makna kesetian. Apabila itu diingkar akan mendatangkan mala petaka.

Keempat, adalah tahap dimana seorang laki-laki dipaksa untuk memberikan pembuktian bahwa ia telah menikahi seorang perempuan sebagai pendamping hidupnya. Artinya, pada tahap ini adalah pertanggung jawaban lelaki untuk mengenalkan si perempuan yang telah berstatus menjadi istrinya ke khalayak umum, utamanya kepada keluarga pengantin perempuan, dan pemuka adat. Proses ini dinamakan pasekan

Namun, ada yang menjadi polemik apabila dibenturkan dalam nilai islam, misalnya, dalam proses akad yang menempati posisi penting dalam pernikahan. Menurut literatur agama banyak yang membahas bahwa akad tergolong syarat dan rukun nikah, sehingga jika akad tidak sesuai maka konsekuensinya pernikahan tersebut tidak “sah”. Namun, apabila berkaitan dengan Suku Samin hal itu tak dapat digunakan. Dikarenakan mereka memiliki tradisi yang sudah sejak turun temurun digunakan oleh generasi ke generasi lainnya.

Tentu, dalam hal ini nilai islam dan nilai adat tak bisa dihapuskan, sebab keduanya sama-sama mengatur hal baik. Namun, yang diperlukan adalah harmonisasi akan ajaran tersebut soal menikah, terlebihnya melihat atau menyikapi relita adat Samin di tengah modernitas umat. Maka, nilai adat lebih utama untuk menuju kemashalatan umat.

Sumber

https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/adabiya/article/view/962

Sumber Gambar

https://m.tribunnews.com/regional/2019/04/26/mengintip-pernikahan-warga-samin-untuk-pertama-kalinya-dicatatkan-ke-negara

Miri Pariyas Tutik Fitriyas                  
132 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.