Opini Akademisi May 16 9 Min Read

Mendalami Ayat Ilahi pada Bait Puisi Traherne




 

Pengantar

Sastra dan jalan ketuhanan merupakan dua hal yang sangat dekat. Pada bait-bait puisi, seseorang bisa menemukan jalan menuju Tuhannya. Rangkaian kata yang ditulis dan dibaca menunjukkan kedekatannya pada pencipta. Tak jarang seseorang menemukan hidayah saat membaca rangkaian kata indah pada kitab suci.

Bagi penyair, kata adalah media untuk berekspesi. Baginya aksara akan menemukan dan sekaligus meninggalkan jejak yang dalam. Sebuah petilasan tentang hakikat manusia, dari mana berasal, dan mau kemana akan menuju. Puisi terdiri dari untaian kata yang bermakna. Pada puisi, pembuatnya akan menyadari siapa dirinya. Pada puisi juga, seseorang memahami dirinya diantara ciptaan lain yang ada di semesta. Pada puisi, jiwa-jiwa akan merdeka menuangkan isi pikirannya.

 

Mengenal Penyair Thomas Traherne

Dunia sastra patut berbangga memiliki Thomas Traherne  (1636 atau 1637 –  27 September 1674). Penyair Inggris ini hidup di masa abad ke-17, seorang pendeta Anglican, dan penulis naskah agama. Traherne mendapatkan gelar Bachelor of Divinity dari Oxford dan gelar MA di Brasenos. Anak seorang pembuat sepatu ini percaya bahwa cahaya merupakan bayang-bayang Tuhan. Bagi Traherne, cahaya dan manifestasinya adalah segalanya untuk memasukkan Tuhan dalam jiwa, menyalakan pelita harapan untuk mendapatkan jiwa bersih, tanpa dosa dengan bantuan Tuhan. Disebut sebagai penyair terpelajar, Traherne membangun citra Tuhan pada setiap ciptaan-Nya.

Traherne berpendapat bahwa dunia bukanlah teka-teki, melainkan visi yang dapat memberikan kepuasan spiritual di mana cahaya adalah sumber segalanya untuk membangun kembali jiwa manusia yang sunyi dan tandus. Traherne mengabdikan hidupnya untuk mencari alasan di balik setiap ciptaan. Dengan itu, dia bergerak maju dan berjalan lebih dekat dengan Tuhannya untuk mengabadikan dan mempertahankan ciptaan jiwanya juga sehingga dapat melindungi dari kutukan. Penyair yang oleh kritikus disebut berpenglihatan cahaya ini merenungkan setiap komposisi ciptaan Sang Pencipta. Dia menyarankan manusia untuk melakukan pengabdian dan tidak terjebak aspek duniawi.

Traherne mengenalkan hal baru melalui pandangan keilahian pada zamannya, sebuah jalan untuk melahirkan diri baru menuju identitas jalan kearah penyucian dan keselamatan. Dibanding penyair lain, Traherne unggul pada ide pengabdian dan keilahian ini di abad ketujuh belas dan setelahnya.

 

Jalan Ketuhanan

Traherne tidak menganggap pengetahuan sebagai akhir dari kehidupan manusia. Oleh karena itu ia berusaha untuk mendapatkan rahmat, cinta, dan belas kasihan Sang Pencipta. Seperti seorang sufi, Traherne tidak terbiasa dengan kesenangan hidup dan materi duniawi. Dia menjadikan dirinya sebagai pengikut yang paling rendah dari kesenangan itu. Pendekatan filosofi optimis Thomas Traherne membentuk dan menghidupkan kembali jati diri sejati dari proyeksi jiwa menuju keselamatan melalui pengabdian yang besar dan teguh kepada Tuhan. Jalan kerahiban ditempuhnya untuk menyucikan diri menuju jalan Tuhannya. Pada jalan itu, dia menemukan ketenangan. Dalam "Innocence", ia menceritakan perjalanan ketenangan jiwa menuju pengabdian untuk memiliki keselamatan yang sempurna.

No darkness then did overshade,

But all within was pure and bright,

No guilt did crush, nor fear invade

But all my soul was full of light.

A joyful scene and purity

Is all I can remember.  (“Innocence”; baris 5-10)

 

Traherne ingin menempati jalan mencapai Tuhan dan menelitinya melalui rasa praktisnya tentang semangat pengabdian yang luar biasa, menggerakkan pikiran/jiwanya melampaui kebutuhan dan pemenuhan fisiknya. Traherne percaya bahwa kebenaran dan kebaikan identik dan dekat satu sama lain. Benar dan baik, dua hal yang akan selalu berjalan bersama. Melalui doa terus-menerus kepada Tuhan, dia menghapus semua keraguan dari hatinya untuk sampai pada kesimpulan: Pencipta segala ciptaan. Dia ingin menyampaikan pesan pencerahan kepada umat manusia abad ketujuh belas dan setelahnya untuk mengabdi dan beriman kepada Tuhan. Ini adalah solusi dan jalan menuju Tuhan. Centuries of Meditations merupakan karya Traherne yang telah menciptakan sensasi sastra setelah resmi diterbitkan pada tahun 1908 dan dikenang hingga kini.

 

Doa dalam pandangan Traherne

Traherne percaya dengan doa. Dia sungguh-sungguh menjamin fakta tentang doa dan mengatakan"Saya harus berdoa, berdoa, berdoa. Saya harus mengerahkan seluruh tenaga dan hati saya ke dalam doa. Apa pun yang saya lakukan, saya harus berdoa. Dengan semua doa dan permohonan, berdoa di semua musim dalam Roh, dan mengawasinya dalam semua ketekunan dan permohonan untuk semua rahasia". Doa menjadi sarana yang ditetapkan Tuhan di mana hati tidak akan dibebani dengan kekhawatiran hidup. Pada bait puisinya, Traherne menulis:

 

A serious meditation did employed

 My soul within, which taken up with joy

 Did seem no outward thing to note, but fly

 All objects that do feed the eye.

 While it those very objects did

 Admire, and prize, and praise, and love, (baris 13-18)

 

Hanya dengan doa tulus, seperti yang dikatakan Traherne, seseorang dapat dengan mudah menerima iman dan percaya kepada Tuhan, berkomunikasi dengan Tuhan dan bahkan merasakan kehadiran Tuhan di dalam hati. Orang yang sampai pada hal ini akan merasakan kedamaian yang datang dari arah yang tak terduga. Traherne berpendapat orang yang menghabiskan sedikit waktu dalam doa tidak akan siap untuk kedatangan Tuhan. Untuk dapat bersaksi tentang siapa dirinya, seseorang harus menghambakan diri sepenuhnya agar selamat. Penulis sependapat penghambaan mutlak seorang manusia hanya bisa ditujukan kepada penciptanya, bukan menghamba kepada yang lain. Hati-hati dengan menundukkan diri kepada dzat selain pencipta, karena manusia bisa terjerumus kepada kemaksiatan.

Doa akan memperkuat rohani seseorang. Melalui doa, Traherne menyebut "Dosaku terungkap. Saat aku berlutut di hadapan Tuhan dan berdoa 'selidiki aku, ya Tuhan, dan kenali hatiku: coba aku, dan kenali pikiranku, dan lihat apakah ada seburuk apapun jalanku”.  Dengan mendekat pada Tuhan, akan diberikan kebersihan hati sehingga dapat menyadari dosa-dosa sekecil apapun itu. Sebagai balasannya, Tuhan akan memberikan ampunan dan menyucikan jiwa, mempersiapkannya terhubung dengan rahmat dan cinta-Nya, dan dengan demikian melahirkan jiwa yang tenang.

My soul did kneel

In admiration all the day. No lust, nor strife,

Polluted then my infant life.

No fraud nor anger in me moved

No malice jealousy or spite;

All that I saw I truly loved.

Contentment only and delight

Were in my soul. O Heav'n what bliss

Dis I enjoy and feel!

What powerful delight did this

Inspire! For this I daily kneel (baris 26-36)

 

Religiusitas Traherne ditunjukkan di Inggris abad ke-17 dan memiliki kesamaan dengan zaman sekarang. Pada era VUCA dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, terdapat perubahan paradigma pada bidang agama.  Manusia banyak yang mendewakan isi dunia sehingga agama dipandang sebelah mata. Membangkitkan kembali identitas jiwa berarti menghidupkan kembali ide-ide pengabdian dan manifestasinya dalam jiwa.  Pengabdian dan doa yang tulus kepada Tuhan pasti akan melindungi seseorang, karena untuk mendapatkan keselamatan jiwa seseorang harus menahan diri dari belenggu kepemilikan Tuhan, meninggalkan substansi materialistis dan duniawi.

Doa merupakan sarana manusia untuk berhubungan dengan Tuhan, berisi permohonan dari seorang hamba kepada penciptanya. Doa adalah inti ibadah sekaligus sebagai wujud penyerahan diri kepada pemilik alam, wujud bahwa manusia tunduk dan membutuhkan sang pengabul doa. Dengan berdoa, Tuhan akan mencintainya, mengabulkan apa yang menjadi pintanya. Jika tidak mau berdoa, maka itulah manusia sombong yang merasa dirinya besar. Maka seberapa sombongnya dia, dibandingkan dengan penguasa alam semesta ini, bahkan terhadap hal yang kecil saja --seperti virus-- manusia bisa kalah? Traherne sudah mengingatkan kita lewat bait puisinya, bahwa pada rangkaian kata ada Tuhan disana.

 

Sumber:https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/adabiya/article/view/1314/724

Jamila Lestyowati                 
184 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.