Opini Akademisi August 17 9 Min Read

MERDEKA DARI KORUPSI: MENYEMAI INTEGRITAS DARI HATI




Pagi ini saya mengikuti upacara bendera di GKN Yogyakarta. Saat Merah Putih dikibarkan bersamaan dengan dikumandangkannya Indonesia Raya, saya merenung. Kemerdekaan yang sudah didapatkan selama 77 tahun, apakah kemerdekaan yang dirasakan sebanding dengan rentang waktu itu? Bukan waktu yang sebentar jarak masa sejak tahun 1945. Bahkan itu melewati umur saya. Jika bicara individu, usia 77 tahun adalah usia yang matang, penuh kebijaksanaan. Usia yang ditunggu-tunggu nasihatnya oleh anak cucu, hidupnya diberkahi dengan keajaiban karena aura positifnya yang dapat dirasakan orang lain.

Negara dalam pandangan saya, seperti individu, berjalan meniti hidupnya dengan kompetensi yang dimilikinya. Saya jadi berfikir jauh. Negara yang menurut para ahli merupakan organisasi kekuasaan, dia menjadi alat yang memiliki tujuan untuk mengatur masyarakat yang ada di dalamnya menggunakan kekuasaan tersebut. Tentu dengan trias politica yang ada padanya, negara diharapkan bisa menghadirkan tujuan yang jauh itu semakin dekat, sehingga bisa dilihat di pelupuk mata. Tak jarang tujuan yang jauh itu terasa semakin jauh karena perilaku anggotanya. Jika negara adalah integrasi antara pemerintah dan rakyat, individu di dalamnya dianggap sebagai bagian integral dari negara, maka ia memiliki kedudukan serta fungsi dalam menjalankan sebuah negara.

Benang merahnya adalah tiap warga negara, termasuk saya, Anda, dia, mereka, dan kita semua yang hari ini mengaku ada merah putih dalam diri, merupakan bagian integral dari Indonesia. Sebuah negara yang seperti tanah surga. Apakah ini semacam surga yang tak dirindukan? Ketika negara tak lagi punya kuasa atas dirinya. Korupsi merajalela dengan berbagai nama dan bentuknya. ICW menyebutkan terdapat 553 penindakan kasus korupsi yang dilakukan oleh Aparat Penegak Hukum sepanjang tahun 2021 dengan 1.173 tersangka dan potensi kerugian negara sebesar Rp29,438 triliun. Data menunjukkan bahwa dari kasus korupsi yang ada, sebagian besar pelakunya adalah anggota DPR/DPRD, pihak swasta, disusul pejabat pemerintah (https://acch.kpk.go.id/id/statistik/tindak-pidana-korupsi/tpk-berdasarkan-profesi-jabatan). Kasus korupsi seperti ini sepertinya muncul bersaut-sautan seperti suara ayam berkokok di pagi hari pertanda malam sudah beranjak pergi. Dia baru akan berhenti saat matahari pagi mulai menyinari.

Dari sisi pelaku korupsi tersebut, kelihatannya berkaitan dengan kekuasaan yang dimiliki. Kekuasaan dan korupsi, dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pernyataan Lord Acton dari Universitas Cambridge, ”Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely”. Kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut.

Sejarah menceritakan bahwa sejak zaman kerajaan sampai penjajahan korupsi itu sudah terjadi. Upeti yang harus diserahkan rakyat kepada penguasa menjadi sejarah yang akan selalu dikenang. Keruntuhan VOC di akhir tahun 1799 itu tidak disebabkan oleh gempa bumi atau badai angin, tetapi oleh salah urus atau korupsi ( Basyaib, 2004). Korupsi yang menurut asal katanya berarti bobrok, rusak, busuk menjadi budaya yang mengakar kuat sehingga perlu energi besar untuk memberantasnya. Maka siapapun yang memiliki rasa nasionalisme dan kebangsaan yang tinggi akan sepakat bahwa korupsi harus dibasmi.

Pemberantasan korupsi dilakukan melalui tiga strategi, yang sering disebut sebagai trisula pemberantasan korupsi, yaitu penindakan, perbaikan sistem, dan pendidikan. Terus, sebagai bagian integral dari sebuah bangsa, apa yang kita lakukan?

Integritas

Saat tangan tak mampu menjangkau jauh, saat diri tak punya kendali atas apa yang terjadi, dan saat nurani pun tak lagi dimiliki, sebuah nilai diperlukan di sana. Integritas. Kata yang mudah diucapkan namun belum tentu semudah untuk melakukan. Integritas adalah kesesuaian antara pola pikir dari hati yang luhur, perkataan yang benar, dan perbuatan yang baik. Kesesuaian ini tercermin dari kehidupan sehari-hari seseorang. Dia bisa menjadi teladan bagi orang lain. Dia tidak ragu menyatakan kebenaran dan mempertahankannya meskipun di situsai yang sulit. Integritas itu berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-pinsip moral.

Warrent Buffett menyebutkan jika Anda mencari seseorang untuk dipekerjakan, maka carilah tiga kualitas yaitu integritas, kecerdasan, dan energi. Jika mereka tidak memiliki yang pertama, maka dua hal lainnya akan membunuhmu. Jika kamu mempekerjakan seseorang tanpa integritas, kamu benar-benar ingin mereka menjadi bodoh dan malas." Hal ini menjabarkan betapa integritas sudah menjadi prasyarat penting untuk sebuah aktivitas. Integritas berarti bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut (nilai-nilai dapat berasal dari nilai kode etik di tempat dia bekerja, nilai masyarakat atau nilai moral pribadi).

Integritas Bangsa

Banyak contoh negarawan, tokoh bangsa, individu baik pada masa lalu maupun sekarang yang memiliki nilai-nilai integritas ini. Seorang office boy yang mengembalikan uang Rp100 juta dia adalah pribadi berintegritas. Walaupun dia memiliki peluang besar untuk kaya, namun mengambil sesuatu yang bukan haknya tidak dilakukannya karena yakin bahwa hal itu melanggar nilai-nilai moral. Seorang pegawai negeri yang menolak pemberian uang atas pekerjaannya adalah berintegritas karena dia melakukan tugas dan fungsinya untuk melayani masyarakat. Seorang Ki Hadjar Dewantara yang makan malam dengan mie godhog selepas pelantikan menjadi menteri adalah tokoh berintegritas dengan menerapkan hidup sederhana. “Lebih baik tak punya apa-apa tapi senang hati daripada bergelimang harta namun tak bahagia, ucapnya. Seorang Baharudin Lopa yang meminta supirnya untuk kembali ke tempat kunjungannya dan meminta agar bensin yang sudah diisikan ke  mobil nya untuk dikeluarkan kembali adalah tokoh berintegritas. Dan masih banyak contoh-contoh teladan implementasi nilai-nilai integtiras dalam diri.

Perilaku di atas bisa dilakukan oleh siapa saja. Hal-hal yang kecil. Tidak mencontek saat ujian, mandiri mengerjakan pekerjaan sendiri, hidup sederhana dan tidak bergaya hidup mewah, berani mempertahankan perilaku dan pendapat yang benar, berani menegur orang lain yang melakukan kesalahan adalah contoh-contoh riil integritas dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Indonesia adalah negara yang besar. Jauh lebih besar dari apa yang Anda bayangkan. Saat mengunjungi tempat tertentu di wilayah Indonesia, saya melihat pemandangan yang luar biasa. Bukan hanya alamnya, wisata, potensi kekayaan yang dimiliki, juga orang-orangnya. Jadi, jika ada pihak-pihak yang ingin mengambil sesuatu dari negara ini tanpa hak, jika ada orang yang ingin merusak Indonesia dengan kelihaiannya, jika ada manusia yang ingin menempuh jalan pintas untuk kekayaan, maka Anda akan berhadapan dengan seluruh rakyat Indonesia. Rakyat yang hari ini merayakan kemerdekaannya. Rakyat yang makin sadar bahwa negeri ini adalah negeri yang harus dilindungi. Jika seperti itu, masih mau korupsi? 

Jamila Lestyowati                 
181 2 4
Bagikan ini ke sosial media anda

(2) Komentar

Image
Endang Mulyati 17 August 2022

Terus menginspirasi masterku, rangkaian kata kata sangat menyentuh dan merasa diri saya belum bisa berbuat untuk negeri ini

Bagikan   

Image
Moedza 21 August 2022

MantaaFF👍👍 master rangkaian katanya dayu mendayu memerindingkan bulu tangan. Karena ditulis dengan penuh integritas.

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.