Opini Akademisi May 17 5 Min Read

PSIKOLOGIS : Kemampuan Belajar Setiap Individu Berbeda-beda




Seperti yang kita ketahui pada umum nya bahwa psikologi merupakan hasil analisis yang diperoleh berdasarkan perilaku atau mental seseorang berdasarkan ilmiah yang dilakukan oleh ahlinya, disebut psikolog. Begitupun untuk mengukur suatu kemampuan belajar seseorang, seorang ahli psikologi pasti nya melakukan analisis terlebih dahulu untuk mengetahui hasil atau kemampuan belajar orang tersebut.

Sebenarnya tidak seorang pun yang memilki kemampuan belajar yang persis dengan orang lain. Kemampuan belajar setiap individu pasti memiliki perbedaan, walaupun perbedaan tersebut kecil, tetap saja berbeda.

Tentu kemampuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor fisik,biologi,psikologis seperti:

  1. Bakat,
  2. Minat,
  3. Tingkat kecerdasan,
  4. Umur,
  5. Pengalaman,
  6. Tingkat Pendidikan,
  7. Keadaan Fisik,
  8. Keadaan Psikis.

Seseorang yang belajar sesuatu sesuai dengan bakatnya akan memiliki kemampuan belajar yang lebih besar bila di bandingkan dengan seseorang yang belajar sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya. Demikian pula halnya dengan minat, seseorang yang belajar sesuatu sesuai dengan minatnya akan memiliki kemampuan belajar yang lebih besar bila di bandingkan dengan seseorang yang belajar sesuatu yang tidak sesuai dengan minatnya.

Lalu, apakah kemampuan belajar seseorang bisa dilihat dari kecerdasan nya? 

Jawabanya ya, karena umumnya yang kita tahu bahwa kecerdasan seseorang di kuantifikasikan dengan IQ (Intelegensia Quetient). IQ adalah angka perbandingan yang umumnya di gunakan untuk mengukur sebuah kecerdasan seseorang.

Proses perhitungannya pun cukup unik yaitu dengan cara membandingkan umur mental seseorang dengan umur kronologisnya lalu dikalikan dengan 100. Apabila seseorang memperoleh angka 100 dari perbandingan tersebut maka orang tersebut memiliki tingkat kecerdasan normal. Apabila seseorang memperoleh angka dibawah 100, misal 50, maka tingkat kecerdasan orang tersebut setengah dari rata-rata orang yang normal. Tetapi apabila angka orang tersebut diatas 100, misal 150, maka tingkat kecerdasan orang tersebut satu setengah kali dari rata-rata orang yang normal alias memiliki kercerdasan yang tinggi. Jadi, besar kecilnya kemampuan belajar seseorang dipengaruhi oleh tinggi nya IQ.

Ada kecendrungan bahwa orang yang IQ-nya tinggi akan memiliki IA yang tinggi juga, IA adalah Intelectual Ability (Kemampuan Intelektual). Ibarat pisau yang terbuat dari baja akan memiliki kecendrungan lebih tajam dibanding pisau yang terbuat dari besi biasa. Sebaliknya orang yang IQ- nya rendah akan memiliki IA yang rendah pula. Tapi ada juga seseorang yang memliki IQ rendah bisa saja memiliki IA yang lebih tinggi, ini biasanya dimiliki oleh orang yang senantiasa terus menerus melakukan kebiasaan tersebut sehingga timbul istilah "bisa itu karena terbiasa". Ibarat sebuah pisau yang terbuat dari besi biasa yang ia asah terus sehingga hasilnya menjadi tajam.

Nah, dalam hal IQ yang mengasahnya adalah proses belajar. Jadi manusia yang tidak pernah melakukan proses belajar, artinya otaknya tidak pernah dipakai berpikir, atau tidak pernah diasah, sehingga akan menjadi tumpul. Sebaliknya orang yang belajar terus, yang berarti otaknya dipakai berpikir terus, justru akan menjadi tajam. Berlainan dengan baju, apabila baju kita pakai terus akan menjadi usang, tetapi kalau otak kita yang tidak pernah dipakai berpikir, justru akan menjadi usang.

Selain itu, umur juga akan mempengaruhi kemampuan belajar seseorang. Secara garis besar kemampuan belajar seseorang akan terus bertambah sejalan dengan bertambahnya umur. Hal ini disebabkan semakin bertambah sempurnanya fungsi otot dan indra, terutama indra penglihatan dan pendengaran. Melalui kedua indra inilah rangsangan belajar yang paling banyak masuk ke tubuh seseorang. Kemampuan belajar seseorang akan mencapai maksimal umumnya pada usia 25 tahun. Kemudian akan menurun secara gradual karena semakin menurunnya fungsi otot dan indra, dan akan terjadi penurunan yang mencolok pada umur 60 tahun.

Kemampuan belajar seseorang juga dipengaruhi oleh pengalamannya. Semakin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang akan semakin besar kemampuan belajar yang dimilikinya. Dengan pengalaman yang dimilikinya seseorang akan lebih mudah menghubung-hubungkan materi yang dipelajari dengan pengalaman yang sudah dimiliki. Proses menghubung-hubungkan ini, dalam kaitannya dengan belajar disebut proses asosiasi.

Dengan proses asosiasi ini orang akan lebih mudah mempelajari sesuatu. Sebaliknya orang akan sulit mempelajari sesuatu yang sama sekali asing baginya, misalnya petani akan mudah belajar menggunakan pupuk urea untuk padi sawahnya karena sebelumnya dia sudah pernah menggunakan pupuk ZA dan hasilnya baik. Tetapi petani tersebut akan merasa kesulitan untuk belajar menggunakan pupuk urea kalau sebelumnya dia tidak pernah menggunakan pupuk apa pun untuk padi sawahnya. Contoh lainnya adalah: Murid-murid lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas akan lebih mudah mempelajari Ilmu Hayat atau Botani di universitas ketimbang murid-murid lulusan dari Sekolah Menengah Umum, karena murid-murid lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas sudah memiliki pengalaman tentang botani. Semakin banyak pengalaman yang dimiliki oleh seseorang akan semakin besar peluang orang tersebut untuk belajar. Orang yang banyak pengalamannya itu ibarat permata yang belum digosok. Digosoknya adalah melalui proses belajar.

Lalu, Tingkat pendidikan juga mempengaruhi kemampuan belajar seseorang Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin besar kemampuan belajarnya. Hal ini disebabkan orang tersebut semakin terlatih untuk belajar, dan semakin banyak "trick" belajar yang sudah mereka miliki.

Keadaan fisik juga mempengaruhi kemampuan belajar seseorang. Orang yang sudah letih atau capek, dirinya sudah tidak siap untuk belajar, sehingga kemampuan belajarnya pun akan menurun. Demikian pula orang yang sedang sakit kemampuan belajarnya akan menurun karena dirinya tidak siap untuk belajar.

Keadaan psikis juga mempengaruhi kemampuan belajar seseorang. Orang yang sudah bosan, dirinya tidak siap untuk belajar, sehingga kemampuan belajarnya pun akan menurun. Demikian pula orang yang sudah jenuh kemampuan belajarnya akan menurun karena dirinya tidak siap untuk belajar.

Dengan penjelasan tersebut jelas bagi kita bahwa kemampuan belajar setiap individu itu berbeda. Ada individu yang dapat belajar secara cepat, tetapi ada pula yang proses belajarnya lambat. Ada pula individu yang dapat belajar banyak, tetapi ada juga yang baru belajar sedikit saja sudah capek, sudah letih, sudah mengantuk atau sudah bosan. Seorang pengajar harus dapat menyadari hal-hal seperti ini. Implikasi yang harus dilakukannya dalam mengajar adalah menerapkan prinsip individualisasi yaitu harus dapat menghormati adanya perbedaan individu, sehingga tidak ada satupun individu pelajar yang merasa dirugikan dalam melaksanakan kegiatan pembelajarannya, misalnya bagi pelajar-pelajar yang cepat, pengajar sudah menyiapkan bahan pengayaan (enrichment), dan bagi pelajar-pelajar yang lambat sudah disiapkan pula bahan penyembuhan (remedial). Dengan perlakuan ini tidak ada satu pun pelajar yang akan merasa dirugikan, semuanya akan merasa dibantu proses belajarnya dengan baik. Sehingga mereka akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sama.

UPAYA PENGAJAR DALAM MENGATASI KEMAMPUAN BELAJAR YANG BERAGAM

Untuk mengatasi kemampuan belajar yang beragam ini, pengajar dapat melakukan pengelompokan pelajar berdasarkan kemampuan belajarnya, misalnya pelajar yang cepat dikelompokkan dengan yang cepat, sedangkan pelajar yang lambat dikelompokkan dengan yang lambat. Lalu untuk setiap kelompok diberikan perlakuan yang berbeda, yaitu kelompok pelajar yang cepat cukup belajar hanya pada pagi hari saja, sedangkan kelompok pelajar yang lambat harus belajar pagi dan sore hari.

Di samping itu, menyadari adanya kemampuan belajar setiap individu yang berbeda ini maka dalam membantu proses belajar seluruh pelajarnya. pengajar sebaiknya menggunakan gabungan berbagai metode pembelajaran, jangan hanya menggunakan satu metode pembelajaran saja, sehingga setiap pelajar akan mendapatkan rangsangan belajar yang memadai sesuai dengan kemampuan belajarnya masing-masing. Kalau hanya menggunakan satu metode pembelajaran saja kemungkinan yang dilayani hanya sebagian kecil pelajar.

 

 

Catatan : Semoga ada manfa'at dan kebaikan untuk kita semua, Aamiin.

Amay Suryadi                 
186 0 2
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.