Opini Akademisi April 4 3 Min Read

Pandemi Covid-19 dan Perilaku Transgresif Remaja: Ditinjau dari WhatsApp Group Pornografi




Pada era digital yang kita nikmati bersama ini, tidak bisa dipungkiri bahwa peredaran pornografi semakin marak. Berbanding lurus dengan perkembangan teknologi yang ada. Sehingga bahasan tentang pornografi dengan sendirinya menjadi penting untuk publik, mengingat peredaran konten pornografi sangat cepat dan begitu banyak dalam jaringan. Secara sederhana, yang dikatakan dengan pornografi terdiri dari beberapa bentuk, mulai dari gambar, sketsa, ilustrasi, tulisan, suara, animasi, bunyi, gambar bergerak, kartun, percakapan, pertunjukkan umum dalam bentuk pesan suara yang melanggar norma kesusilaan dan mengandung kecabulan. Merujuk dari data aduan yang dihimpun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia 2019 yang terdiri dari 18 kategori, termasuk didalamnya pornografi. Bahkan persoalan pornografi paling banyak menjadi aduan dan menjadikan persoalan tersebut pada posisi pertama dengan jumlah aduan 1.009.558 dari total aduan 18 kategori dengan jumlah 1.161.590. Data ini menunjukkan bahwa peredaran pornografi online begitu marak.

            Para peneliti telah lama memperingatkan bahwa pornografi memiliki dampak negatif yang membahayakan pada semua aspek, terutama remaja. Mulai dari kesehatan fisik, kesehatan mental, psikologis, penurunan daya kreativitas dan produktivitas, porno aksi, pencabulan, prostitusi, perselingkuhan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Tidak sedikit remaja yang menjadi korban kebebasan media sosial, terutama pada tontonan pornografi. Dan tidak butuh waktu yang lama pula bagi remaja terpapar kecanduan pornografi online, kemudian secara bertahap kecanduan pornografi internet memicu terjadinya perilaku menyimpang seperti perilaku seksual pranikah. Perilaku seksual pranikah pada remaja dapat terjadi disaat remaja ingin mencoba secara nyata tentang fantasi yang mereka saksikan dari pornografi online untuk dipraktekkan pada teman lawan jenisnya.

Apabila peredaran pornografi dimasa sebelum Pandemi Covid-19 melanda sudah tinggi, lantas bagaimana dengan dimasa Pandemi Covid-19? Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, terutama pada kalangan remaja yang masih labil dan aktivitas sekolahnya harus berbasis internet. Berdasarkan pertanyaan diatas, penulis yang resah, kemudian mengubahnya menjadi sebuah ketertarikan melakukan penelitian dengan judul “Pandemi Covid-19 dan Perilaku Transgresif Remaja: Ditinjau dari WhatsApp Group Pornografi”. Penelitian ini memeriksa sifat dan prevalensi risiko serta menginterpretasikan bukti mengenai faktor-faktor yang meningkatkan bahaya akibat penggunaan teknologi online dan kaitannya dengan pornografi online bagi remaja untuk menginformasikan basis pengetahuan akademis dan praktisi. Kajian dalam penelitian ini adalah pornografi online yang terorganisir dalam group media sosial online bernama WhatsApp Group (WAG). Para remaja yang tergabung dalam WAG secara sadar dalam wadah saling tukar konten pornografi, mulai dari video, gambar, suara, dan bahkan ada yang sampai menawarkan jasa Video Call Sex (VCS). Perilaku sexting (pesan berisikan seks) dari 14 remaja berusia 17 tahun disebabkan oleh tingkat aktivitas seksual teman sebayanya, kemudian merambah lebih luas sebagaimana virus Covid-19 melanda dunia.

Semenjak wabah penyakit baru yang disebut dengan Covid-19 menyebar di seluruh wilayah dunia. Pandemi ini berdampak pada seluruh penduduk, termasuk remaja, dalam aktivitas fisik, intelektual, emosional, dan seksual. Penulis sadar bahwa selama pandemi, ketika emosi memuncak dan remaja lebih terisolasi secara sosial daripada sebelumnya, pornografi online meningkat. Pornografi online merupakan fenomena yang relatif baru dan oleh karena itu studi tentang hal ini terbatas. Pornografi online berbeda dari pornografi dimasa sebelum internet dan platform media sosial berbasis onlinenya begitu variatif dan canggih. Perbedaan ini terletak pada konten online yang bersifat aktif dan portabel, memungkinkan akses cepat dan mudah dari berbagai perangkat elektronik. Partisipasi di dalamnya bersifat pribadi dan anonim, yang memungkinkan remaja untuk mencari materi yang akan tidak tersedia di media tradisional seperti televisi. Selain itu, sulit bagi orang tua untuk memantau media online, seperti smartphone.

Dengan pandemi Covid-19 dan penutupan sekolah selama berbulan-bulan atau lebih, remaja tidak lagi berada di bawah pengawasan guru, komunitas, dan keluarga mereka karena perubahan prioritas yang dipaksakan. Berdasarkan temuan penelitian ini, seluruh pengisi WAG Pornografi adalah remaja dengan rentang usia 12-19 tahun. Artinya para remaja yang tergabung dalam WAG Pornografi berada pada usia sekolah dan mereka memasuki WAG secara sadar. Semakin banyak waktu yang dihabiskan remaja untuk tetap tergabung dalam WAG Pornografi menimbulkan kemungkinan mereka menjadi korban cyber atau pelaku semakin besar. Terutama bagi remaja dengan keterampilan digital yang lebih maju terlibat dalam aktivitas online berpotensi melakukan penyimpangan lebih tinggi. Salah satu factor menarik dari para remaja cenderung mengakses pornografi online di WAG adalah bentuk coping dalam menghadapi masa pandemi yang mendatangkan stres.

Studi penelitian ini memperjelas kalkuasi risiko terhadap remaja dari akibat pornografi online. Pertama, remaja tanpa risiko online (70% dari sampel mereka) dari kelompok risiko online sedang (24%), yang umumnya tingkat risiko online rendah meningkat pada pertengahan masa remaja dan kelompok berisiko tinggi online (hanya 6%). Sebagian besar kelompok pertama (tanpa risiko online) juga tidak terlibat dalam risiko offline. Kedua, kelompok risiko online lebih cenderung menjadi pencari sensasi dan memiliki kepuasan hidup yang lebih rendah dan/atau kesulitan keluarga, mendukung temuan di atas tentang faktor risiko. Hal ini menunjukkan bahwa, di antara pencari sensasi atau remaja yang menghadapi masalah, internet memberikan kesempatan khusus bagi remaja untuk bereksperimen dengan perilaku transgresif.

Paparan konten seksual yang tersedia secara terorganisir di WhatsApp Group berkontribusi besar pada perkembangan awal kepercayaan dan sikap seksual pada remaja secara buruk yang berkesinambungan. Sehingga konsumsi pornografi secara terus-terusan dilakukan oleh remaja yang berpengaruh negatif pada seksualitasnya. Faktor lingkungan juga mempengaruhi tingkat kerentanan remaja terhadap penyediaan pornografi online. Namun penulis mengontekstualisasikan faktor lingkungan dalam penelitian ini adalah kondisi lingkungan belajar remaja yang dituntut harus menggunakan teknologi online dikarenakan pandemi Covid-19.

Meskipun sebagian besar remaja selama menjadi penikmat sensasi pornografi online pada tahap kognitif dan afektif mungkin tidak mengalami konsekuensi yang jauh, dalam beberapa kasus mungkin ada penurunan daya, peningkatan praktik masturbasi dan penurunan minat pada seks, karena memperoleh gap besar antara apa yang mungkin dan apa yang difantasikan. Permasalahan empiris terkait kondisi ini dapat dilihat dari perselingkuhan oleh salah satu maupun keduanya dari pasangan suami istri. Studi tentang remaja dan pornografi online melalui WAG juga pernah dilakukan oleh Rettob N., dan Murtiningsih, (2021) di SMKN X Jakarta Timur dengan temuan bahwa terdapat signifikansi yang tinggi antara penggunaan media sosial WhatsApp berkonten pornografi dengan perilaku seksual berisiko pada remaja. Hal ini menunjukan bahwa apabila pengunaan media sosial WhatsApp berkonten pornografi negatif berbanding lurus dengan kesempatan dan fantasi yang kuat bagi remaja untuk melakukan perilaku seksual berisiko.

Selain itu, aktivitas para remaja dalam WAG juga memperlihatkan kegiatan jual beli atas barang dan jasa konten pornografi. Konten pornografi yang dijual adalah foto, video, dan Video Call Sex (VCS), kemudian menawarkannya kepada peserta lainnya yang tergabung. Studi serupa tentang kegiatan jual beli atas barang dan jasa konten pornografi di media sosial online bernama Twitter pernah dilakukan oleh Krisma dan Waluyo B., (2020) dengan temuan konten pornografi yang dijual adalah foto dan video pengguna Twitter itu sendiri yang memuat unsur kecabulan kepada pengguna Twitter. Dalam hal ini, salah satu temuan menarik yang memperlihatkan kecanduan atas pornografi online bagi remaja telah memasuki stadium tertinggi. Dimana terdapat 60 remaja mengalami tindakan penipuan dari orang-orang yang mengatasnamakan penyedia jasa pornografi online dan juga penyedia jasa seksual offline. Total biaya dari para korban penipuan tersebut senilai 36 jt rupiah dengan nilai pengeluaran setiap korban yang variatif. Pengguna akun WhatsApp yang paling banyak diadukan pada penulis adalah +62-8524-5801-XXX.

Dalam hal kesimpulan substantif, penulis mencatat bahwa para remaja yang bergabung di WAG Pornografi telah menjadikan pesan seksual (sexting) dan pornografi online sebagai kebutuhan, kemudian menunjukkan para remaja telah terpapar kecanduan pornografi online stadium tertinggi. Keterjangkauan layanan teknologi dan kondisi pandemic Covid-19 yang memaksa remaja harus bersentuhan dengan media online setiap harinya telah menjadi pemicu yang kuat dari kecanduan stadium tertinggi tersebut. Pun penelitian telah menemukan bukti yang kuat bahwa risiko online bagi remaja tengah mengalami perilaku transgresif destruktif, mengubah perilaku remaja secara besar-besaran yang menyimpang dan tidak sehat.

Pada era digital yang kita nikmati bersama ini, tidak bisa dipungkiri bahwa peredaran pornografi semakin marak. Berbanding lurus dengan perkembangan teknologi yang ada. Sehingga bahasan tentang pornografi dengan sendirinya menjadi penting untuk publik, mengingat peredaran konten pornografi sangat cepat dan begitu banyak dalam jaringan. Secara sederhana, yang dikatakan dengan pornografi terdiri dari beberapa bentuk, mulai dari gambar, sketsa, ilustrasi, tulisan, suara, animasi, bunyi, gambar bergerak, kartun, percakapan, pertunjukkan umum dalam bentuk pesan suara yang melanggar norma kesusilaan dan mengandung kecabulan. Merujuk dari data aduan yang dihimpun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia 2019 yang terdiri dari 18 kategori, termasuk didalamnya pornografi. Bahkan persoalan pornografi paling banyak menjadi aduan dan menjadikan persoalan tersebut pada posisi pertama dengan jumlah aduan 1.009.558 dari total aduan 18 kategori dengan jumlah 1.161.590. Data ini menunjukkan bahwa peredaran pornografi online begitu marak.

            Para peneliti telah lama memperingatkan bahwa pornografi memiliki dampak negatif yang membahayakan pada semua aspek, terutama remaja. Mulai dari kesehatan fisik, kesehatan mental, psikologis, penurunan daya kreativitas dan produktivitas, porno aksi, pencabulan, prostitusi, perselingkuhan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Tidak sedikit remaja yang menjadi korban kebebasan media sosial, terutama pada tontonan pornografi. Dan tidak butuh waktu yang lama pula bagi remaja terpapar kecanduan pornografi online, kemudian secara bertahap kecanduan pornografi internet memicu terjadinya perilaku menyimpang seperti perilaku seksual pranikah. Perilaku seksual pranikah pada remaja dapat terjadi disaat remaja ingin mencoba secara nyata tentang fantasi yang mereka saksikan dari pornografi online untuk dipraktekkan pada teman lawan jenisnya.

Apabila peredaran pornografi dimasa sebelum Pandemi Covid-19 melanda sudah tinggi, lantas bagaimana dengan dimasa Pandemi Covid-19? Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, terutama pada kalangan remaja yang masih labil dan aktivitas sekolahnya harus berbasis internet. Berdasarkan pertanyaan diatas, penulis yang resah, kemudian mengubahnya menjadi sebuah ketertarikan melakukan penelitian dengan judul “Pandemi Covid-19 dan Perilaku Transgresif Remaja: Ditinjau dari WhatsApp Group Pornografi”. Penelitian ini memeriksa sifat dan prevalensi risiko serta menginterpretasikan bukti mengenai faktor-faktor yang meningkatkan bahaya akibat penggunaan teknologi online dan kaitannya dengan pornografi online bagi remaja untuk menginformasikan basis pengetahuan akademis dan praktisi. Kajian dalam penelitian ini adalah pornografi online yang terorganisir dalam group media sosial online bernama WhatsApp Group (WAG). Para remaja yang tergabung dalam WAG secara sadar dalam wadah saling tukar konten pornografi, mulai dari video, gambar, suara, dan bahkan ada yang sampai menawarkan jasa Video Call Sex (VCS). Perilaku sexting (pesan berisikan seks) dari 14 remaja berusia 17 tahun disebabkan oleh tingkat aktivitas seksual teman sebayanya, kemudian merambah lebih luas sebagaimana virus Covid-19 melanda dunia.

Semenjak wabah penyakit baru yang disebut dengan Covid-19 menyebar di seluruh wilayah dunia. Pandemi ini berdampak pada seluruh penduduk, termasuk remaja, dalam aktivitas fisik, intelektual, emosional, dan seksual. Penulis sadar bahwa selama pandemi, ketika emosi memuncak dan remaja lebih terisolasi secara sosial daripada sebelumnya, pornografi online meningkat. Pornografi online merupakan fenomena yang relatif baru dan oleh karena itu studi tentang hal ini terbatas. Pornografi online berbeda dari pornografi dimasa sebelum internet dan platform media sosial berbasis onlinenya begitu variatif dan canggih. Perbedaan ini terletak pada konten online yang bersifat aktif dan portabel, memungkinkan akses cepat dan mudah dari berbagai perangkat elektronik. Partisipasi di dalamnya bersifat pribadi dan anonim, yang memungkinkan remaja untuk mencari materi yang akan tidak tersedia di media tradisional seperti televisi. Selain itu, sulit bagi orang tua untuk memantau media online, seperti smartphone.

Dengan pandemi Covid-19 dan penutupan sekolah selama berbulan-bulan atau lebih, remaja tidak lagi berada di bawah pengawasan guru, komunitas, dan keluarga mereka karena perubahan prioritas yang dipaksakan. Berdasarkan temuan penelitian ini, seluruh pengisi WAG Pornografi adalah remaja dengan rentang usia 12-19 tahun. Artinya para remaja yang tergabung dalam WAG Pornografi berada pada usia sekolah dan mereka memasuki WAG secara sadar. Semakin banyak waktu yang dihabiskan remaja untuk tetap tergabung dalam WAG Pornografi menimbulkan kemungkinan mereka menjadi korban cyber atau pelaku semakin besar. Terutama bagi remaja dengan keterampilan digital yang lebih maju terlibat dalam aktivitas online berpotensi melakukan penyimpangan lebih tinggi. Salah satu factor menarik dari para remaja cenderung mengakses pornografi online di WAG adalah bentuk coping dalam menghadapi masa pandemi yang mendatangkan stres.

Studi penelitian ini memperjelas kalkuasi risiko terhadap remaja dari akibat pornografi online. Pertama, remaja tanpa risiko online (70% dari sampel mereka) dari kelompok risiko online sedang (24%), yang umumnya tingkat risiko online rendah meningkat pada pertengahan masa remaja dan kelompok berisiko tinggi online (hanya 6%). Sebagian besar kelompok pertama (tanpa risiko online) juga tidak terlibat dalam risiko offline. Kedua, kelompok risiko online lebih cenderung menjadi pencari sensasi dan memiliki kepuasan hidup yang lebih rendah dan/atau kesulitan keluarga, mendukung temuan di atas tentang faktor risiko. Hal ini menunjukkan bahwa, di antara pencari sensasi atau remaja yang menghadapi masalah, internet memberikan kesempatan khusus bagi remaja untuk bereksperimen dengan perilaku transgresif.

Paparan konten seksual yang tersedia secara terorganisir di WhatsApp Group berkontribusi besar pada perkembangan awal kepercayaan dan sikap seksual pada remaja secara buruk yang berkesinambungan. Sehingga konsumsi pornografi secara terus-terusan dilakukan oleh remaja yang berpengaruh negatif pada seksualitasnya. Faktor lingkungan juga mempengaruhi tingkat kerentanan remaja terhadap penyediaan pornografi online. Namun penulis mengontekstualisasikan faktor lingkungan dalam penelitian ini adalah kondisi lingkungan belajar remaja yang dituntut harus menggunakan teknologi online dikarenakan pandemi Covid-19.

Meskipun sebagian besar remaja selama menjadi penikmat sensasi pornografi online pada tahap kognitif dan afektif mungkin tidak mengalami konsekuensi yang jauh, dalam beberapa kasus mungkin ada penurunan daya, peningkatan praktik masturbasi dan penurunan minat pada seks, karena memperoleh gap besar antara apa yang mungkin dan apa yang difantasikan. Permasalahan empiris terkait kondisi ini dapat dilihat dari perselingkuhan oleh salah satu maupun keduanya dari pasangan suami istri. Studi tentang remaja dan pornografi online melalui WAG juga pernah dilakukan oleh Rettob N., dan Murtiningsih, (2021) di SMKN X Jakarta Timur dengan temuan bahwa terdapat signifikansi yang tinggi antara penggunaan media sosial WhatsApp berkonten pornografi dengan perilaku seksual berisiko pada remaja. Hal ini menunjukan bahwa apabila pengunaan media sosial WhatsApp berkonten pornografi negatif berbanding lurus dengan kesempatan dan fantasi yang kuat bagi remaja untuk melakukan perilaku seksual berisiko.

Selain itu, aktivitas para remaja dalam WAG juga memperlihatkan kegiatan jual beli atas barang dan jasa konten pornografi. Konten pornografi yang dijual adalah foto, video, dan Video Call Sex (VCS), kemudian menawarkannya kepada peserta lainnya yang tergabung. Studi serupa tentang kegiatan jual beli atas barang dan jasa konten pornografi di media sosial online bernama Twitter pernah dilakukan oleh Krisma dan Waluyo B., (2020) dengan temuan konten pornografi yang dijual adalah foto dan video pengguna Twitter itu sendiri yang memuat unsur kecabulan kepada pengguna Twitter. Dalam hal ini, salah satu temuan menarik yang memperlihatkan kecanduan atas pornografi online bagi remaja telah memasuki stadium tertinggi. Dimana terdapat 60 remaja mengalami tindakan penipuan dari orang-orang yang mengatasnamakan penyedia jasa pornografi online dan juga penyedia jasa seksual offline. Total biaya dari para korban penipuan tersebut senilai 36 jt rupiah dengan nilai pengeluaran setiap korban yang variatif. Pengguna akun WhatsApp yang paling banyak diadukan pada penulis adalah +62-8524-5801-XXX.

Dalam hal kesimpulan substantif, penulis mencatat bahwa para remaja yang bergabung di WAG Pornografi telah menjadikan pesan seksual (sexting) dan pornografi online sebagai kebutuhan, kemudian menunjukkan para remaja telah terpapar kecanduan pornografi online stadium tertinggi. Keterjangkauan layanan teknologi dan kondisi pandemic Covid-19 yang memaksa remaja harus bersentuhan dengan media online setiap harinya telah menjadi pemicu yang kuat dari kecanduan stadium tertinggi tersebut. Pun penelitian telah menemukan bukti yang kuat bahwa risiko online bagi remaja tengah mengalami perilaku transgresif destruktif, mengubah perilaku remaja secara besar-besaran yang menyimpang dan tidak sehat.

Al Mukhollis Siagian                 
335 0 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.