Opini Akademisi April 14 9 Min Read

Al-Quran adalah Healing Terbaik




Akhir-akhirnya ini kata “healing” , menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan, bukan!? Semua kalangan baik muda dan tua, berlomba-lomba menyematkan kata itu dalam bentuk bongkahan  kalimat “Aku butuh healing, nih!” Kalimat itu pun amat terasa ketika dibenturkan dalam situasi yang amat genting selama dua tahun terakir ini. Ya, situasi pandemi itu.

Media pun turut andil dalam situasi tersebut, tak heran apabila semua iklan, ataupun platform lainnya menawarkan cara jitu menemukan self healing. Tak jarang pula tema tersebut menjadi nilai tawar untuk dipasarkan di khalayak umum. Mungkin para pembaca yang budiman boleh tak setuju! Namun, realita membenarkan hal  itu, bukan?

Terlepas dari pada itu, seyogyanya ada hal yang luput dari ingatan dan praktik kita selama ini, soal  tema tersebut yakni agama, mengapa, agama? Dan ada apa dengan agama? Lantas, tak jarang dari kita mengklaim bahwa agama dan self healing  tak memiliki korelasi apapun. Kita sering menganggap agama hanya sekedar mengatur soal ubudiyah (ibadah) manusia dengan tuhannya selebihnya “tidak ada” diskusi yang mendalam  untuk didiskusikan sebagai media knowledge transformation bagi para umat.

Sebuat saja literatur yang tak pernah usang dimakan oleh zaman yakni “Al-Quran”. Menurut Wijaya (2021) Al-Quran is healing book. Al-Quran bak mutiara yang tak pernah pudar kemilaunya. Jika pembaca yang budiman membaca kitab tersebut, memungkinkan akan menemukan makna-makna yang selalu relevan dalam konteks hari ini, sama halnya dengan terma self healing .

Al-Quran sebagai media penyembuhan dan terapi berbagai macam penyakit. Salah satu konsep yang termaktup di Al-Quran adalah kata “Asy-Syifa”. Para ahli agama mengatakan bahwa konsep Asy-Syifa merupakan salah satu metode/cara penyembuhan kejiwaan dari persoalan kehidupan yang amat carut marut (gangguan psikis). Sama halnya dengan kondisi hari ini, yang sudah sering kita sebut seperti mental illness. Hingga kita membutuhkan pengobatan atas diri kita.

Sesungguhnya, pada posisi tersebut lah Al-Quran merupakan tempat terbaik untuk healing. Sebab, Al-Quran berisikan pedoman moral yang melampaui zaman, yang mana jika kita membaca dan mendengarkan dapat menghidupkan dan mententramkan jiwa yang penuh dengan kegundahan ini. Sebagaimana Wijaya menarasikan hal yang sama bahwa “Al-Quran berfungsi sebagai penenang hati (penyembuh hati) yang dapat memberikan ketentraman pada pembacanya.

Al-Quran menjadi salah satu petunjuk atas kesembuhan itu. Terdapat delapan kali penyebutan soal itu, salah satunya di surah Al-Isra ayat 82 yang artinya “Dan kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidak lah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” .

Dalam kajian Wijaya pula menyebutkan bahwa kata “penawar”, tidak hanya pengobatan soal penyakita badaniyah (fisik), namun soal kejiwaan sebagaimana diskusi kami di atas. Artinya, Al-Quran juga merupakan sumber kebahagian yang patut ditelisik, sebuah kekuatannya agar kepercayaan menjadi berlipat ganda akan keajaiban Al-Quran. Para pemuka agama pun menyebutkan Allah tidak menurunkan dari bumi dan langit sebagai penawar yang lebih umum, lebih bermanfaat, lebih besar efektif untuk meghilangkan penyakit dari pada Al-Quran.

Perlu diingat para pembaca yang budiman! Bahwa Al-Quran sebagai obat, memiliki sejarah yang mestinya patut dipelajari pula. Pelajaran ini sering kita sebut sebagai “Asbabun Nuzul” atau latar belakang lahirnya sebuah Surah Al Isra ayat 82 yang dijelaskan oleh Thabathaba’i yang mengatakan bahwa karakteristik Al-Quran dan fungsinya sebagai penawar penyakit mental. Kemudian dalam riwayat ahli Tafsir (Ibnu Mardawaih) yang juga menjelaskan bahwa suatu ketika ada seseorang yang hendak meminta nasehat kepada Rasulina (Nabi Muhammad SAW) akan kegemangan hidupanya, lalu Rasul yang bersabda “Hendaklah dirimu membaca Al-Quran”.

Kesimpulan, yang telah dijelaskan oleh Wijaya dalam artikelnya soal self healing  yang pendekatanya menggunakan semiotika Roland Barthes pada surah Al-Isra’ ayat 82, ia memaparkan begitu apik nan lugas soal pemahaman pengobatan dalam islam bahwa “doa dan zikir” adalah tawaran yang diajurkan oleh Rasulina. Apabila dengan doa dan zikir tidak cukup untuk menghilangkan kegalauan yang ada dalam dirinya, maka sesungguhnya terdapat kondisi hati yang perlu diobati secara ekstra.

Doan dan zikir memiliki  kandungan obat di antaranya adalah tauhid rububiyah (pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunyaNya pemelihara alam semesta), tauhid uluhiyyah (pengakuan bahwa Allah satu-satuNya bentuk dan wajib disembah), tauhid ‘ilmi (pengakuan bahwa Allah satu-satuNya yang Maha Mengetahui), mensucikan Allah dari anggapan bahwa Dia menzhalimi hamba-Nya), pengakuan seorang hamba bahwa dialah yang halim, bertawassul, memohon pertolongan hanya kepada-Nya), pengakuan hamba menaruh harapan kepada-Nya, mewujudkan sikap bertawakal bahwa Allah lah yang mampu mengobatinya, hendaklah ia menggiringi harinya ke dalam lauratan suci ayat-ayat Al-Quran, beristigfar, bertaubat, melaksanakan sholat, dan mengakui tidak memiliki daya dan upaya, menyerahkannya kepada Allah.

Artinya, penyembuhan patut diikut dengan harapan dan keyakinan akan kesembuhan pernyakit tersebut. Nah, apakah pembaca budiman sekalian, akan kembali menempatkan Al-Quran sebagai salah satu book healing??? Selamat mencoba!!!

Sumber

https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/adabiya/article/view/924

Sumber Gambar

https://plus.kapanlagi.com/manfaat-membaca-al-quran-secara-rutin-baik-untuk-spiritual-kesehatan-fisik-e92ddb.html

Miri Pariyas Tutik Fitriyas                  
132 0 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.