Opini Akademisi February 26 3 Min Read

Generasi Scopus vs Generasi Originalitas




GENERASI SCOPUS VS GENERASI ORISINALITAS

Dr. Jeanne Francoise

Dosen Prodi Hubungan Internasional President University /

Pendiri Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society)

 

Dalam dunia modern, kita memiliki tahap-tahap untuk diakui menjadi ahli, menjadi pakar, atau menjadi seorang Narasumber di bidang yang kita kuasai. Berdasarkan definisi dari KBBI, kata ‘pakar’ artinya adalah ia yang gemar mengomentari apa saja yang disukainya secara enteng dan seenaknya; orang yang mempunyai keahlian dalam bidang ilmu tertentu, seperti biologi, kimia, fisika; dan ilmuwan yang membantu redaksi suatu majalah mengevaluasi karangan yang akan dimuat dalam majalah. Tentu definisi yang kedua adalah definisi yang mengalami ameliorasi, sebab seorang harus diakui menjadi Pakar dahulu agar berhak menjadi Narasumber dalam suatu acara Seminar, Talkshow, atau Webinar.

Nah problematika yang muncul disini adalah bagaimana ukuran persepsi dan karakter seorang Pakar? Secara persepsi termudah, seorang Pakar adalah yang telah memiliki kualifikasi akademik, Sarjana, Master, dan Doktor di bidang yang linear. Kemudian bisa saja seorang dikatakan pakar karena secara non-akademik atau kegiatan profesionalisme-nya telah memberikannya tupoksi kerja dan wewenang di bidang tertentu, yakni mereka yang telah menisbahkan waktunya sehari-hari di bidang ilmu sosial dan humaniora, sebagai contoh Direktur NGO, ahli bencana, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, kemudian bisa juga ketua komunitas, sekretaris organisasi nasional, petani, peternak, pengrajin, peternak, penggembala, event manager, dan lain sebagainya.

Sejak ditemukannya mekanisme World Wide Web sebagai pengembangan lanjutan Database Internet oleh Tim Berners-Lee pada tahun 1990, akses informasi, berita, dan literatur akademik menjadi semakin mudah didapatkan. Sebelum era Internet, maka seorang penulis, peneliti, dan ahli harus pergi ke perpustakaan di tengah kota untuk mendapatkan bahan materi ajar, melakukan sintesis, mencatat, baru kemudian membuat paparan perkuliahan atau paparan kegiatan rapat-rapat profesi.

Nah, Internet memotong proses panjang tersebut. Internet memudahkan kita dalam mencari data, bahan ajar, pdf jurnal, power point, dan segala informasi tentang sebuah isu. Bahkan sebuah organisasi yang baik ukurannya adalah telah memiliki situs website yang memuat tujuan, visi, dan misi organisasi. Oleh sebab itu, saya menilai Internet adalah tolak ukur atau faktor kelima keberadaan manusia, selain 4 (empat) faktor keberadaan manusia sebelumnya, yakni keberadaan fisik, jiwa, mental psikologi, dan relasi hubungan sosial.

Mungkin pembaca budiman sudah sangat faham dengan kritikan pedas dari Tom Nichols, seorang pakar hubungan internasional dari US Naval War College, melalui bukunya yang berjudul “The Death of Expertise”, bahwa anak muda zaman sekarang memiliki sumber pertama-nya justru dari Internet. Sejarawan modern juga kurang mampu menunjukkan literatur asli dan pertama dari sebuah kajian. Hal ini sungguh amat disayangkan. Seorang sejarawan asal Yahudi di Hebrew University of Jerusalem, Prof. Yuval Noval Harari, juga mengatakan kekhawatiran ini dalam bukunya “Sapiens: A Brief History of Humankind”, bahwa kemajuan teknologi membawa kita kepada sebuah revolusi sosial yang memperpendek banyak hal.

Dalam bahasa saya, perpendekan sosial ini amat terasa dalam proses-proses indah penelitian yang sudah tidak lagi dilakukan. Pada waktu saya SMA dan S1 antara tahun 2003 hingga 2010, saya masih merasakan rasanya berdarah-darah mencari literatur di perpustakaan, melakukan triangulasi data melalui turun observasi ke lapangan, bertemu narasumber, dan membangun komunikasi dengan komunitas di daerah-daerah. Namun ketika saya Master dan Doktor sepanjang tahun 2013 sampai 2021, proses tersebut terpotong dan termudahkan dengan adanya kehadiran Internet. Para Dosen saya juga tidak mempermasalahkan dan cenderung menikmati kemudahan ini. Terlebih masa Pandemi Covid 19 semua proses wawancara penelitian dilakukan secara online.

Tentu kehadiran Internet akan membuat kita merasa menghemat waktu, praktis, dan cepat selesai, namun di dalam bidang ilmu Humaniora, tahapan-tahapan penelitian terutama turun observasi ke lapangan, bertemu narasumber, dan membangun komunikasi dengan komunitas di daerah-daerah tidak bisa tergantikan dengan kehadiran Internet. Terlebih di dalam teori Warisan Budaya, Warisan Pertahanan, Toponimi, dan Filologi, kita diharuskan mencari sumber pertama dari suatu literatur. Misalnya dari Internet kita mendapatkan sebuah jurnal yang merujuk kepada sebuah buku, kemudian buku itu merujuk kepada sebuah bangunan bersejarah di sebuah tempat, nah mau tidak mau, kita harus ke tempat itu, kita harus cek dengan mata kepala sendiri apakah benar asumsi kajian selama ini.

Proses observasi ini kalau meminjam istilah dari para Begawan Ilmu Budaya, Clifford Geertz dan Claude Levi Strauss, adalah sebuah proses ‘jeter les prejudges’ atau membuang prasangka dan melebur ke dalam bangunan bersejarah, masyarakat, dan daerah yang menjadi objek kajian ilmu Humaniora. Terlebih manusia itu alamiahnya akan selalu berubah, berpindah, melakukan revolusi, dan melakukan penemuan-penemuan, sehingga apa yang telah ditulis dalam literatur, belum tentu sama ketika seorang peneliti turun lapangan. Oleh sebab itu kalau kita mau menjadi ahli bidang ilmu Humaniora yang sebenar-benarnya ahli bidang ilmu Humaniora, kita tidak bisa mewakili opini kepakaran kita melalui “proses pendek” yang diberikan oleh Internet.

Gambar 1. Macchu Pichu (Sumber: Google Images, 2022)

Hal kedua yang mau saya kritik adalah tentang Scopus. Indonesia, Malaysia, dan Singapura adalah negara-negara yang terkenal sebagai negara-negara penghasil publikasi jurnal terindeks Scopus tertinggi. Padahal para Editor dan Dewan Redaksi di balik jurnal-jurnal Scopus tersebut belum tentu sama keahliannya dengan kepakaran kita. Sebagai contoh ketika kita berhasil terbitkan jurnal di sebuah jurnal diplomasi budaya yang sudah mendapatkan peringkat Scopus Q1, disitu tentu kita akan merasa bangga, lalu masukkan pada sistem dosen / peneliti, laporkan kepada atasan / Dikti, dan hal ini tentu membantu kita naik jabatan akademik / jabatan penelitian, belum lagi akan meninggikan reputasi kita di mata teman-teman ketika kita share hasil publikasi pada WA Group yang kita punya. Namun sekali lagi, kita perlu merefleksikan dengan serius proses yang kita lakukan ini.

Pepatah Prancis mengatakan ‘la repetition est la mere de la Science’ artinya Kebiasaan adalah awal asali Ilmu Pengetahuan. Apakah kebiasaan menulis jurnal di Scopus itu baik? Tentu saja, apalagi ada peraturan-peraturan akademik untuk mengkondisikan hal ini terjadi. Namun ingat bahwa di dalam luasnya dan dalamnya ilmu Humaniora, kepakaran 1 (satu) orang ahli Humaniora di bidang tertntu tidak bisa disamakan, pasti jauh berbeda, dan akan sangat unik dengan kepakaran orang lain, walaupun di bidang kajian yang sama. Sebagai contoh seorang ahli Toponimi di Bali akan sangat jauh berbeda dengan seorang ahli Toponimi di Skotlandia. Sebab daftar literatur yang dirujuk, unsur-unsur pemikiran mentalitas, makna spiritualitas dan imaji sosio-kultur Bali tidak akan difahami oleh ahli Toponimi di Skotlandia. Begitupun sebaliknya.

Nah, kenapa kita kemudian mempercayakan Scopus sebagai pemegang masa depan kepakaran kita? Padahal kita jelas tahu bahwa para Editor dan Dewan Redaksi di balik jurnal-jurnal Scopus tidak akan sama kadar keahliannya dengan kepakaran kita. Pada akhirnya, ujung daripada judgement terbaik sebagai resolusi konflik ini adalah pembayaran biaya publikasi, yang tentu saja tidak murah bagi Dosen muda atau peneliti muda.

Scopus boleh menjadi salah satu faktor kesuksesan kita, tapi bukan yang prioritas dan bukan satu-satunya. Saran saya akan peliknya masalah jurnal ini adalah kita kembali ke era sebelum era legitimasi Scopus, yakni periode dimana banyak Generasi Orisinalitas itu lahir, yakni generasi yang tidak memotong dan tidak memudahkan proses penelitian, generasi yang siap susah payah menyeberang dermaga bambu untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat di daerah, generasi yang rela terkena malaria karena ingin mengkaji sebuah masyarakat adat, generasi yang membuktikan Novelty-nya selama kurang lebih 2 (dua) tahun, dan generasi yang mampu menunjukkan naskah literatur asli dari sebuah studi kasus. Kita merindukan generasi orisinalitas ini.

Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi sebagai landasan hukum program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka belum secara jelas mendefinisikan signifikansi bahwa output dari sebuah ide atau program adalah harus jurnal Scopus. Penulisan ide atau program ke dalam sebuah jurnal Scopus adalah usulan dari si peneliti atau si dosen sendiri yang biasanya ter-breakdown ke dalam usulan anggaran.

Oleh sebab itu, peneliti atau dosen yang melibatkan siswa dan mahasiswa dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka-nya, hendaknya tidak hanya berfokus pada output Scopus saja, tetapi juga pengembangan karakter siswa dan mahasiswa tersebut, agar mau mengenal dan bersusah payah menghargai proses penelitian, serta menjadi Generasi yang Orisinalitas masa depan. Mereka tidak harus menjadi peneliti atau dosen seperti kita, mereka berhak menjadi apapun yang mereka inginkan, seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya.

 

Salemba, 26 Februari 2022

 

Dr. Jeanne Francoise

Dosen Prodi Hubungan Internasional President University /

Pendiri Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society)

https://www.instagram.com/defenseheritage

Dr. Jeanne Francoise                 
1020 3 11
Bagikan ini ke sosial media anda

(3) Komentar

Image
Dr. Amin Tohari. SAg.,M.Si. 27 February 2022

Pak De yg terhormat, narasi ilmiah panjenengan jempolan dibalik scopusvs orisinalitas tsb, namun agak klilipen dimata sedikit, yakni kata tertentu, bukan tertntu, tetapi kata kalimatnya jempolan.

Bagikan   

Image
EDI MARTONO 27 February 2022

Dan Parahnya di masa Pandemi ini banyak Mahasiswa di permudah dalam pembuatan skripsi sehingga banyak yang cuma mencomot dari internet.

Bagikan   

Image
Sri Idaiani 27 February 2022

Mohon dijelaskan pada saya yg ilmu nya belum banyak ini. Apa hubungan gambar Machu Pichu dengan isi artikel ini ?

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.