Opini Akademisi April 29 9 Min Read

Stoikisme Resep Untuk Menghadapi Kolektivisme




     Indonesia terkenal dengan istilah bhineka tunggal ika, keberagaman yang dimiliki indonesia menjadikan kalimat tersebut sebagai semboyan pemersatu yang diharapkan mampu menangkis segala bentuk potensi konflik dari keberagaman tersebut. Dengan kebergaman yang berlimpah, terdapat hak-hak  individu yang perlu dilihat sebagai independensi yang harus dihargai satu sama lain. Pengabaian terhadap hak individu akan menciderai hak asasi kemanusiaan, hal ini yang seringkali menjadi kritik atau upaya antithesis yang perlu dijawab bersama-sama dengan berlakunya penerapan kolektivisme yang mayoritas dianut oleh negara timur.

     Ciri-ciri masyarakat kolektif adalah sangat menghargai hal-hal yang berkaitan dengan kelompok dan merasa tidak bisa dipisahkan dari kelompok, entah itu teman, keluarga, atau komunitas yang lebih besar. Perlaku orang-orang yang ada di negara koletif akan cenderung mencari kesesuaian dan keterkaitan dengan masyarakat. Oleh karena itu, setiap individu seringkali sangat terkait dengan kelompok dimana dia tinggal, dan cenderung akan memiliki ketakutan tertentu jika melanggar norma-norma sosial, sehingga individu akan memilih patuh terhadap nilai-nilai yang diterapkan di dalam kelompok (Gorodnickhenko & Roland, 2015).

       Hidup ditengah kepungan masyarakat yang kolektif akan menyulitkan untuk survive bagi kalangan individu yang masih labil dalam mengelola emosi. Hal ini lebih dikaitkan karena kesamaan persepsi mayoritas dianggap sebagai kebenaran yang berlaku, sehingga dengan mudah mendiskreditkan sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan kebenaran yang berlaku tersebut.  sehingga akan menjadi  tantangan tersendiri bagi pihak yang tidak berjalan pada track yang distandarisasikan.

      Perilaku kolektivisme yang dianut dalam sebuah negara tentunya memberi implikasi tersendiri bagi setiap individu yang memformulasikan serta menerapkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan. sekalipun perbedaan itu sebagai bagian dari kemajuan pemikiran ataupun pengetahuan. beberapa yang kurang beruntung justru mendapat perlakuan diskrimanatif yang tidak mengenakkan. Kolektivisme dianut oleh suatu kelompok masyarakat berkembang, harusnya perlu ada upaya untuk perlahan- lahan menempat-nempatkan kolektivisme ini dalam hal positif paa kehidupan faktual.

      Salah satu implikasi kolektivisme yang kental sehingga berpotensi menyerang pribadi individu, kerap kali ditandai dengan gejala penyakit mental, kecenderungan untuk menetapkan suatu kebenaran berdasarkan pendapat mayoritas membawa tekanan tersendiri bagi pihak-pihak yang berada pada kondisi tidak dapat memenuhi standarisasi mayoritas tersebut. pada lain sisi, banyak hal diluar kendali dalam diri manusia. permasalahan ini semakin diperumit oleh masifnya penggunaan teknologi informasi digital yang kerap digunakan sebagai media untuk mengekspos berbagai hal yang terjadi ditengah masyarakat serta media sosial secara tidak langsung menjadi sarana menciptakan atensi publik, pemahaman, serta penyaturan standarisasi yang berlaku. Seringkali individu yang tidak siap dengan pergulatan tersebut ketika memasukinya, berakhir pada serangan terhadap kesehatan mental. Kondisi ini diungkap oleh beberapa aktor-aktor konten kreator, seperti Fery Irwandi, seorang youtuber yang sering menyoroti fenomena tersebut didalam video yang diangkatkannya, mulai dari kisahnya tentang upaya untuk melakukan detox media sosial sehingga membawanya pada kualitas hidup yang lebih baik, hingga ulasannya seputar stoikisme sebagai paham yang cocok untuk menghadapi dinamika media sosial. Seperti potongan puzzle beberapa video yang disuguhkan oleh Fery Irwandi telah berhasil mendeskripsikan fenomena kolektivisme- yang pada alasan tertentu dapat memberi pengaruh negatif bagi kesehatan mental terutama dalam pengaplikasiannya melalui berbagai macam platform media sosial, teori stoikisme dapat ditawarkan untuk menghadapi fenomena- fenomena tersebut.

      Lantas, apa itu stoikisme? Pembahasan ini mulai ramai setidaknya dalam dua tahun terakhir, beberapa youtuber sudah ikut mengulasnya dengan kemasan menarik sesuai dengan ciri khas masing-masing. penulis menilai menjadi stoikis cukup kuat sebagai penawar dalam meredakan sedikit gejala mental akibat budaya kolektivisme yang dianut sebagian besar masyarakat Indonesia. menjadi seorang stokis adalah upaya untuk tidak berfokus pada pandangan orang lain yang merupakan sesuatu yang bersifat eksternal dan sulit untuk di kontrol.

     Meskipun pembahasannya mulai ramai baru-baru ini, namun aliran filsafat ini kemunculannya sudah sangat lama, Stoikisme adalah aliran filsafat kuno yang didirikan di Athena oleh pedagang Fenisia Zeno dari Citium sekitar tahun 301 SM. Awalnya disebut Zenonisme tetapi kemudian dikenal sebagai Stoikisme karena Zeno dan para pengikutnya bertemu di Stoa Poikilê, atau Painted Porch.

      Filosofi stoikis juga menyarankan bahwa kita tidak perlu khawatir tentang hal-hal di luar kendali kita karena segala sesuatu dalam hidup dapat dibagi menjadi dua kategori. Hal-hal yang ada dalam kendali kita dan terserah pada diri kita dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Namun yang menjadi permasalahan ketika apa yang kita lakukan berasal dari kebutuhan dasar kita untuk disukai dan diterima oleh orang lain. Penolakan dari kelompok sosial memiliki dampak. berapa banyak waktu dan usaha yang kita habiskan untuk mencoba memenangkan persetujuan orang lain? Kita menghabiskan uang yang tidak kita miliki, untuk membeli barang-barang mewah yang tidak kita butuhkan, untuk mengesankan seseorang yang tidak kita pedulikan. Pilihan karir atau gaya hidup kita berpusat pada bagaimana orang lain memandang kita, daripada apa yang terbaik untuk kita. Sebaliknya, negarawan Romawi Cato berusaha menjalani kehidupan yang independen dari pendapat orang lain. Dia akan mengenakan pakaian yang paling aneh dan berjalan di jalanan tanpa mengenakan sepatu. Itu adalah caranya membiasakan dirinya untuk malu hanya pada apa yang pantas dipermalukan, dan membenci semua jenis aib lainnya.

       Menjadi stoikis ditengah masyarakat kolektivsme dalam beberapa sisi terutama untuk hal-hal yang sifatnya pribadi atau menyangkut hak dasar individu sangat penting untuk menjaga kesehatan mental seseorang, karena tidak ada yang lebih penting dari kesehatan mental seseorang sehingga harus dijaga oleh satu sama lain dalam lingkup kehidupan toleransi yang utuh. Keberagaman yang mengaminkan perbedaan pendapat seharusnya tidak dipergunakan untuk menyerang pribadi seseorang ketika ia memilih jalan berbeda atau mengalami nasib yang berbeda dari pandangan umum yang dianggap ideal. Begitupun bagi setiap pribadi yang memilih menjadi seorang stoikis, yang ide dasarnya adalah mencari kebahagiaan dengan hanya berfokus pada apa-apa yang bisa ia kendalikan, belakangan filosifi ini menjadi pilihan sikap ditengah keterbatasan kita dalam mengontrol beberapa hal.

Referensi

https://www.untukyangterbaik.com/stoikisme-bagaimana-stoikisme-dapat-membuat-hidup-anda-menjadi-lebih-baik/

http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/40677/1/14510036_BAB%20I_BAB%20V_DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/49621/1/SAFINATUNNAJAH-FPSI.pdf

http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-01%20Berlian%20Gressy%20Septarini,%20Pengaruh%20Budaya%20Kolektivisme.pdf

 

Nia Ramadhani                 
116 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.