Opini Akademisi May 3 9 Min Read

Sejauh Apa Kita Mengenal Islam?




Berhubung masih suasana lebaran, ada banyak hal yang berputar-putar di kepala saya dalam menyoroti tingkah laku penganut agama islam, baik secara individu maupun sebagai masyarakat kolektif, seterusnya sebagai penduduk mayoritas. Pengakuan manusia terhadap Tuhan pada hakikatnya adalah fitrah yang terdapat didalam diri manusia semenjak pertamakali ruhnya ditiupkan didalam Rahim seorang calon ibu. Khususnya bagi seorang anak yang terlahir dari seorang muslim terdapat satu sunnah yang perlu dilakukan yaitu mengumandangkan adzan dan iqomah selang beberapa saat setelah dilahirkan.

Mengenal islam adalah suatu matastudi yang sangat kompleks, sebagaimana kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, pada saat yang sama, secara tidak langsung mengenal islam menjadi bagian dari suatu upaya untuk mengenali diri sendiri. ada 1001 pertanyaan yang muncul dibenak terkait islam, dan tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain berusaha mencari tahu. Ada satu pertanyaan yang cukup mendasar, mengapa islam sebagai agama mayoritas tapi penerapan hukumnya sangat tebang pilih ? tidak perlu jauh-jauh meninjau pada negara atau masyarakat, cukup diitinjau dari diri kita sendiri, mengapa?

Tahun 1924, adalah tahun kesedihan bagi seluruh ummat islam sejagat raya, sebuah kerajaan yang menerapkan hukum islam telah terpapar paham eropa, yaitu sekulerisme yang telah mengikis sedikit demi sedikit penerapan hukum-hukum islam, ibarat membesarkan anak ular, sang pewaris telah menerkam tuannya sendiri. artinya, islam saat itu dihancurkan tepat dari dalam, bukan dari serangan perang dihantam meriam atau nuklir dan semacamnya.

Indonesia adalah salah satu negara yang terdampak dari keruntuhan Turki utsmani, dalam film Nusantara yang mendeskripsikan bagaimana peran kerajaan Utsmani untuk memperjuangkan syiar islam di nusantara serta secara bersamaan dalam rangka menumpas serangan-serangan kolonialisme eropa yang datang bertubi-tubi dari pulau ke pulau. Semenjak keruntuhan tersebut, satu persatu daerah nusantara ditaklukkan oleh penjajah. Namun, tidak dengan syiarnya, prajurit-prajurit islam yang tersisa masih setia sebagai pewaris agama, kalau dalam buku pelajaran sekolah kita mengenal istilah wali songo, sejumlah nama dan kisah pejuang- pejuang islam seperti Tuanku Imam Bonjol, KH Ahmad Dahlan, dan begitu banyak nama lainnya. Mengingkari peran para ulama tersebut, sama saja mengingkari sejarah bangsa tentunya.

Jika Albert Einsten menyatakan bahwa “ilmu tanpa agama adalah pincang, dan agama tanpa ilmu adalah buta” maka terdapat juga pepatah yang menyatakan Ilmu membuat hidup lebih mudah, seni membuat hidup lebih indah, agama membuat hidup lebih terarah.”. sehingga antara ilmu, agama dan seni adalah tiga hal penting dalam hidup kita yang saling berkaitan satu sama lain. Pentingnya penerapan seni untuk syiar islam telah disadari sepenuhnya oleh para mujahid. dengan seni, menegakkan agama islam menjadi sesuatu yang tidak monoton dan terasa sulit. Indonesia punya begitu banyak kesenian dan menjadi tradisi turun temurun yang sangat kental dengan nilai syiar islam, diantaranya seperti upacara tabuik yang dimiliki oleh masyarakat pariaman, meski pelaksanaannya cukup kontroversial bagi kalangan ilmuan dan pengamat, namun tradisi ini masih bertahan hingga saat ini, tradisi ini bahkan mampu memancing kedatangan wisatawan kedaerah tersebut. penggunaan alat musik sebagai media syiar islam juga tidak kalah menarik, seperti salawek dulang, dulang atau sebuah baki yang dipukul untuk mengiringi lirik yang dibawakan, lirik tersebut bermuatan ajaran-ajaran islam, dan makin dikembangkan dengan lirik terkini sebagai upaya untuk berdaptasi dengan perkembangan serta kebutuhan masyarakat agar tidak tergerus zaman.

Apabila penggunaan seni sebagai upaya syiar nilai islam di nusantara, maka paham sekulerisme adalah upaya serangan dari luar islam agar umatnya semakin asing dengan agamanya sendiri, sebagaimana diceritakan diawal bahwa paham sekulerisme yang disusupkan dari dalam telah nyata menyebabkan kehancuran Turki ustmani, Indonesia sebagai bekas wilayah jajahan eropa menjadikan sebagian besar hukum-hukum yang berlaku dari dulu hingga saat ini telah didominasi oleh hukum eropa, termasuk hukum pemerintahannya, sehingga tidak perlu heran dengan narasi-narasi radikalisme, antitoleransi, atau bahkan difitnah teroris apabila penerapan hukum islam terlalu dipaksakan dinegara ini, karena akan diserang dengan narasi anti toleransi dan pemecah belah, pola ini akan terus berlaku setiap menyikapi isu- isu sensitif mengenai islam. Sekulerisme adalah paham yang berupaya memisahkan agama dari kehidupan, yang menekankan persoalan agama cukup berlangsung dimasjid, sementara diluar itu tidak perlu membawa persoalan agama.

Berbicara soal islam, adalah pembicaraan yang sangat kompleks dan panjang, sepanjang riwayat peradaban manusia, meski begitu tetaplah penting untuk dipahami untuk didalami, setidaknya, setelah komitmen kita terhadap agama pasca ditinggal Ramadhan tahun ini, semoga ditahun islam yang baru, menjadi semangat untuk memperbaharui kembali perhatian kita terhadap islam, seperti halnya setiap tahun baru masehi kita senantiasa memanjatkan harapan-harapan dan resolusi, maka begitu halnya dalam menyambut bulan syawal tahun ini.

 

Nia Ramadhani                 
73 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.