Opini Akademisi March 8 5 Min Read

Presiden Soeharto Perspektif Warisan Pertahanan




PRESIDEN SOEHARTO PERSPEKTIF WARISAN PERTAHANAN

 

Dr. Jeanne Francoise

Pakar Warisan Pertahanan (Defense Heritage) /

Dosen Prodi Hubungan Internasional President University

 

Artikel ini adalah opini pribadi

 

Akhir-akhir ini publik disuguhi oleh Naskah “Akademik” tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 dan kemudian terdapat Keppres No.2 Tahun 2022 yang menetapkan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 sebagai Hari Kedaulatan Negara. Berdasarkan teori Warisan Pertahanan, terdapat beberapa pemikiran kritis tentang kedua hal tersebut, terutama bagaimana menempatkan Presiden Soeharto sebagai salah satu tokoh yang tidak boleh dihilangkan dan bagaimana seharusnya Hari Kedaulatan Negara tidak hanya spesial hanya terjadi pada Serangan Umum 1 Maret 1949.

Pertama-tama saya akan mengomentari tentang Naskah Akademik sebanyak 138 halaman terbitan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut. Tentu saya sangat mengapresiasi dan bersyukur tentang adanya Naskah Akademik tersebut sebagai sebuah upaya dari Dinas Kebudayaan DIY untuk menambah wawasan khalayak luas tentang Serangan Umum 1 Maret 1949, namun Tim Penulis mungkin semuanya orang yang lahir dan besar di Yogyakarta, sehingga kurang melibatkan tim penulis dari luar Yogyakarta.

Apabila mengingat konsep Etik dan Emik, sebuah Naskah yang berani menyematkan kata “Akademik”, apalagi Naskah yang membahas sebuah sejarah penting sebuah bangsa, maka buku tersebut harus memiliki perspektif yang lebih Nasional, seperti misalnya kita ingin tahu perspektif akademisi atau peneliti asal Aceh, Padang, Palembang, Balikpapan, Makassar, Manado, Ambon, dan Papua terhadap Serangan Umum 1 Maret. Menurut saya apabila Tim Penulis memang semuanya lahir dan besar di Yogyakarta, maka belum cukup mewakili perspektif Nasional tentang adanya peristiwa penting Serangan Umum 1 Maret.

Sebab Serangan Umum 1 Maret adalah peristiwa yang tidak bisa berdiri sendiri, dan akan selalu terkait dengan narasi perjuangan yang ada sebelumnya dan rentetan peristiwa setelahnya. Disinilah Naskah Akademik buatan Tim Penulis DIY belum merujuk sama sekali tentang narasi Warisan Pertahanan.

Kajian Disertasi saya tentang Warisan Pertahanan (Defense Heritage) adalah penelitian pertama di Indonesia yang membahas tentang Warisan Pertahanan, sehingga Disertasi tersebut memiliki previlige untuk mendefinisikan apa itu warisan pertahanan dan menentukan periode warisan pertahanan, terutama apa itu warisan pertahanan bagi bangsa Indonesia dan periode warisan pertahanan bagi bangsa Indonesia, sebab UNESCO sendiri mengatakan bahwa setiap negara berhak mendefinisikan defense heritage-nya.

            Disertasi tersebut telah menyebutkan bahwa teori warisan pertahanan adalah teori untuk mempelajari narasi perjuangan dan pertahanan sebuah bangsa di balik objek bersejarah, bangunan bersejarah, cagar budaya, monumen peringatan, situs kawasan budaya, rumah tua, tempat ibadah agama, dan semua tempat yang mampu menunjukkan adanya narasi sejarah perjuangan suatu bangsa dalam meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Dalam konteks Indonesia, Disertasi tersebut telah menetapkan periode warisan pertahanan bangsa Indonesia adalah antara tahun 1511 hingga 1949. Nah, Serangan Umum 1 Maret 1949 termasuk di dalam periode defense heritage bagi bangsa Indonesia, sehingga saya berhak untuk mengkaji Naskah Akademik Tim Penulis Dinas Kebudayaan DIY dan Keppres No.2 Tahun 2022 tersebut.

Secara ringkasnya, objek-objek warisan pertahanan antara 1511 sampai 1949 tersebut semuanya memiliki satu Benang Merah Segitiga Semiosis Signifiant-Signifie-Referent (penanda-pertanda-rujukan), yakni Menegakkan Kedaulatan Negara Indonesia, dalam prosesnya adalah Meraih dan Mempertahankan Kemerdekaan atau dalam bahasa saya adalah Proses Menjadi Indonesia (Becoming Indonesia).

Oleh sebab itu, sangat tidak tepat apabila hanya Serangan Umum 1 Maret yang dianggap sangat paling spesial dikatakan sebagai Hari yang mewakili Hari “Kedaulatan” Negara, dibandingkan momen-momen narasi perjuangan lainnya seperti misalnya: Pertempuran Ambarawa dan Pertempuran Surabaya sepanjang bulan Oktober-November 1945 yang ditandai dengan objek-objek warisan pertahanan di Ambarawa dan Surabaya, Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang Januari 1947 yang ditandai dengan Monumen Peringatan Perang 5 Hari, kemudian Agresi Militer Belanda I Juli-Agustus 1947 dan Agresi Militer Belanda II Desember 1948. Sedangkan rentetan peristiwa narasi warisan pertahanan berikutnya yakni Perebutan Yogyakarta menjadi ibukota negara pada Juni 1949 atau ditandai dengan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Hal sudah saya tuliskan pula pada: https://generasipeneliti.id/tulisan.php?id=ID2ndB8E6cDA99&judul=Minggu-Warisan-Pertahanan-(Defense-Heritage)-28-Februari---3-Maret-2022

Dengan tegas saya katakan bahwa berdasarkan teori Warisan Pertahanan, setiap momen-momen sejarah tersebut semuanya adalah Hari-Hari Penegakkan Kedaulatan Negara. Tidak bisa ada satu momen bersejarah saling menghilangkan signifikansi momen sejarah lainnya. Selain itu, Naskah Akademik Tim Penulis Dinas Kebudayaan DIY cenderung menempatkan Serangan Umum 1 Maret sebagai ujung final daripada perjuangan melawan Kolonialisme. Apabila Saudara-Saudari cek sendiri ke lapangan dan melihat Monumen Jogja Kembali Juni 1949, objek warisan pertahanan tersebut jelas menunjukkan masih ada narasi perjuangan pasca-Serangan Umum 1 Maret.

Hal kedua yang saya kritisi adalah pada halaman 7-8 Naskah Akademik menyebutkan penggunaan metode sejarah kritis. Tentu perlu dirujuk referensi terkait metode sejarah kritis versi siapa, apakah versi Wilhelm Dilthey, Hans-Gorg Gadamer, W.H Dray, atau R.G. Collingwood, serta “kritis” disini belum menyebutkan apakah lingkup penelitian Fenomenologi, Positivisme atau Post-Positivisme, serta tidak ada pembatasan Rentang Waktu, padahal Naskah Akademik tersebut juga membahas peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Serangan Umum 1 Maret. Oleh sebab itu, Naskah Akademik Tim Penulis Dinas Kebudayaan DIY cenderung bersifat a priori dan mengumpulkan referensi untuk mendukung pendapat-pendapat yang lebih dahulu telah disepakati sebelumnya, bukan “metode sejarah kritis” seperti seharusnya didapatkan oleh para pembaca.

Naskah Akademik itu sama sekali tidak menggunakan teori Warisan Pertahanan yang sebetulnya akan banyak membantu Tim Penulis dalam menentukan siapa berperan sebagai apa di dalam Peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Efek daripada tidak jelasnya metode “kritis” yang dipakai disini terlihat bahwa belum ada penjelasan definisi secara umum “Serangan Umum” disini maksudnya dari mana dan kepada siapa, terjadi dimana, dan siapa yang pertama kali melakukan intervensi. Setelah membaca Naskah Akademik tersebut, pembaca yang awam dan bukan sejarawan, masih belum mendapatkan benak yang rinci untuk membayangkan apa yang terjadi pada Peristiwa Serangan Umum 1 Maret.

L’experience de literature (pengalaman membaca) ini sangat berbeda ketika kita membaca sebuah novel sejarah fenomenal, War and Peace, karya Lev Nikolayevich Tolstoy, pembaca yang paling awam pun jadi memiliki benak rinci apa yang terjadi di Rusia pada abad 19, yakni konflik batin rasa saling mencurigai antara bangsawan Rusia, kaum intelektual, dan kaum buruh. Padahal itu hanya novel, bukan Naskah Akademik.

Kalau Tim Penulis telah dengan sangat baik meringkas Literature Review yang telah membahas Serangan Umum 1 Maret, maka kenapa kemudian ujug-ujug mengkaitkan Serangan Umum 1 Maret sebagai Hari yang paling spesial yang menjukkan Kedaulatan Negara? Hal ini tidak bisa dijawab di dalam benak Tim Penulis saja, tapi bagi kita semua, sebab terdapat Keppres No.2 Tahun 2022 tentang hal ini. Apabila kita diam saja dan setuju, maka kita menghilangkan momen-momen sejarah perjuangan yang saling terkait yang telah saya sebutkan sebelummya dan momen-momen sejarah perjuangan tersebut seolah-oleh bukan Hari Kedaulatan Negara.

Gambar 1. Presiden Soeharto (Google Images, 2022)

Hal terakhir yang saya kritisi adalah Peran Presiden Soeharto. Naskah Akademik tersebut hanya menyebutkan 1 (satu) kali nama Soeharto pada halaman 11, yakni pada Tabel Tinjauan Historiografi Serangan Umum 1 Maret 1949. Saya harus sampaikan bahwa saya bukan seorang fans Presiden Soeharto dan saya banyak mengkritisi kebijakan-kebijakan beliau Era Orde Baru, namun apabila saya dengan setia mengikuti metode penelitian l’histoire longue duree (sejarah total) dan l’histoire de la mentalite (sejarah mentalitas) Marc Bloch dan Pierre Nora, maka letak ketokohan Presiden Soeharto justru yang paling signifikan di antara tokoh-tokoh lain yang disebutkan.

Di dalam metode penelitian l’histoire longue duree (sejarah total) dan l’histoire de la mentalite (sejarah mentalitas) Marc Bloch dan Pierre Nora untuk penelitian Warisan Pertahanan, kedudukan tokoh-tokoh dalam peristiwa sejarah bukanlah sentral, atau bukan l’histoire des grands hommes. Tokoh-tokoh hanya berada pada tataran pertama Segitiga Pertama Analisis Semiosis. Segitiga Kedua adalah tentang ide-ide yang diperjuangkan, misalnya Melawan Kolonialisme dan Segitiga Ketiga adalah tentang Nilai Pertahanan yang konsisten muncul, misalnya orang Indonesia itu Pantang Menyerah.

Nah, justru di antara tokoh-tokoh yang secara a priori dianggap paling berperan oleh Tim Penulis Kebudayaan DIY, saya tidak melihat ada peran langsung tokoh-tokoh tersebut di lapangan. Tokoh-tokoh tersebut tetap ada peran masing-masing, namun lebih banyak dalam hal Diplomasi Pertahanan. Juga amat sangat disayangkan di dalam Keppres No.2 Tahun 2022 tidak menyebutkan sama sekali nama Presiden Soeharto (pada waktu itu Letnan Kolonel) sebagai komandan di lapangan dan tidak ada pula nama atasannya, Kolonel Bambang Sugeng yang memberikan perintah komando bagi Letkol Soeharto.

Disinilah pemikiran kritis saya muncul, bahwa ketika sebuah Keppres mampu menghilangkan nama salah seorang tokoh yang memiliki peran signifikan pada periode warisan pertahanan dan naskah akademik yang dibuat secara a priori, maka cita-cita perombakan metode penelitian sejarah di negeri ini, agar lebih berfokus pada sejarah rakyat sehari-hari dan sejarah orang-orang kecil, masih jauh api dari panggang. Kita masih akan berada pada tataran Segitiga Pertama Analisis Semiosis, maish akan Debat pro-kontra peran para tokoh, dan kemudian melegitimasinya dengan kekuatan politik yang saat itu mendukung tokoh-tokoh tertentu.

Dr. Jeanne Francoise                 
346 1 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(1) Komentar

Image
9 March 2022

Mantap ulasannya Dr.Jeanne, sepertinya antara penulis naskah dan pembuat Keppres, beda tipis pemahamannya tentang warisan pertahanan Indonesia.

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.