Opini Akademisi April 4 9 Min Read

Mengenal Lebih Jauh Masjid Cipaganti Peninggalan Hindia Belanda




Masjid Cipaganti tidak hanya menjadi masjid tertua di Bandung, akan tetapi menjadi icon budaya pula. Tentu dikarenakan Masjid Cipaganti merupakan salah satu peninggalan Hindia-Belanda. Asal muasal dibangunnya masjid tersebut, dimulai oleh permintaan Bupati Bandung kala itu yakni Raden Tumenggung Hassa Soemadipradja yang meminta syarat apabila ingin memindahkan pusat pemerintahan Hindia-Belanda ke Bandung. Syarat yang dimaksud adalah dibangunnya sebuah masjid.

Masjid dirancang oleh arsitek yang memiliki darah kebangsaan Belanda yang bernama C.P. Wolf Schoemaker pada tahun 1993. Biaya yang dikeluarkan untuk membangun masjid tersebut dilakukan dengan meminta sumbangan kepada kaum pribumi dan golongan bumiputra. Setidaknya, semua pembiayaan proses pembangunan, benar-benar murni sumbangan dari warga Indonesia, dan pemerintah Hindia-Belanda hanya membantu persoalan dalam proses perizinan saja, selebihnya paling banter adalah sumbangsih pemikiran arsitek kebangsanaan Belanda itu.

Konon Masjid Cipaganti mengalami renovasi berkali-kali untuk menyesuaikan syarat arsitek islam. Sejarah mengatakan bahwa arsitektur Masjid Cipaganti memiliki langgam yang hampir mirip dengan Gereja Bethel. Barangkali, hal tersebut dipengaruhi oleh identitas arsitek kebangsaan Belanda kala itu. Sebab begini, apapun yang kita lakukan, seyoginya tak pernah terlepas dari latar belakang yang kita miliki. Bahkan, dapat mempengaruhi kualitas beserta langgam kehidupan kita.

Jika kita hendak memasuki Masjid Cipaganti, berarti kita sedang mempelajari pergabungan langgam berbagai budaya yang tercipta pada bangunan itu. Ragam akulturasi Budaya Islam, Budaya Lokal Nusantara (Jawa-Sunda), dan Budaya Eropa Barat (Belanda). Selain itu, perpaduan antara langgam Eropa Barat dengan langgam Sunda terlihat jelas pada bentuk atap dan menara yang khas dengan Bangunan Sunda  dan ornament sulur yang ada pada ventilisasi. Langgam Eropa Barat dangat identik dengan penggunaaan kuda-kuda berbentuk segitiga dan penggunaan posisi lahan yang berada pada lahan tusuk. Sedangkan, langgam sunda memiliki ciri khas pada konstruksi atap berbentuk tumpang/bertingkat dengan empat saka guru atau tiang-tiang utama dengan balok yang memanjang yang berada di tengah-tengah ruang solat.

Masjid Cipaganti, memiliki beberapa bangunan yang menjadi penerapan akultrasi budaya yang akan dijelaskan di bawah ini.

Massa Bangunan Masjid

Bentuk massa bangunan masjid, seperti bangunan masjid pada umumnya yakni persegi panjang, langgamnya bak ibarat bangunan kantor dan sekolah. Massa bangunan Masjid Cipaganti terdiri dari satu massa bangunan asli yang berada di tengah  dan dua massa simestris kiri dan kanan. Selain itu, tata letak mihrab dan mimbar haruslah berada di tengah bangunan masjid, sebagai syrat sah di arsitektur islam.

Orientasi Massa Bangun                 

Masjid adalah ibadah islam, sedang pusat islam selalu bersentral di negara timur dalam hal ini adalah Mekkah. Oleh karena itu, penepatan orientasi dalam menentukan arah solat selalu berpatok ke arah Ka’bah sesuai dengan kehendak sejarah pula. Tepatnya menghadap ke arah barat.

Bentuk Atap

Bentuk atap mengadopsi konsep bangunan jawa yang bertipe tajuk bentuk atap runcing kea rah atas yang terdiri dari tiga lapis dan terdapat bulan tabit yang menggambarkan bulan baru. Dan adapun arti bulan sabit dekat dengan masyarakat gurun, termasuk saat perkembangan islam, saat itu bulan dan bintang menjadi navigasi alam saat mengadakan perjalanan di malam hari. Ia pun menambahkan bahwa bulan direpresentasikan sebagai petunjuk dari Allah SWT untuk menjalankan kehidupan.

Elemen dalam Ruang Masjid

Ruang masjid di setiap lini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ruang masjid diantaranya adalah ruang solat (Ruang solat ini seperti masjid pada umumnya yakni dibagi menjadi dua ruang khusu laki-laki dan perempuan, dimana pula ditempat itu terdapat tiang utama yang berwarna hijau dan bertuliskan hamdallah), mihrab dan mimbar, tempat wudu (Tempat wudu anatara laki-laki dan perempuan dibedakan bahkan akses untuk kesana juga dibedakan, berwarna hijau dan hias berbagai tanaman hias yang mendukung keunikan tempat wudu tersebut),

Serambi Masjid

Serambi Masjid Cipaganti memiliki fungsi sosial yakni digunakan untuk berinteraksi sosial (hablun min an-naas)  yang menggunakan konsep jawa. Hal ini yang terkadang absen apabila hendak memahami masjid dalam konteks hari ini. Kadang kala pemahaman perihal masjid hanya dapat digunakan untuk beribadah tanpa adanya fungsi sosial. Padahal jika ingin menelisik secara mendalam bahwa sesungguhnya adanya serambi masjid adalah titik temu para manusia di berbagai latar belakang untuk saling sapa dan belajar. Sebagaimana, sejarah yang mengatakan bahwa masjid kala itu, dijadikan berbagai aktivitas sosial salah satunya adalah belajar.

Ornamen pada Masjid

Ornamen-ornamen pada masjid ini pada bagian luar sangat kental dengan nilai-nilai budaya islam. Tidak hanya ornamen luar yang mengambarkan kebudayaan islam, akan tetapi ornament pada bagian dalam juga dilengkapi dengan sebuah kaligrafi dengan sebuah tiang penyangga di ruang utama, dan juga bagian depan yang dilengkapi dengan kaligrafi. Semua ruangnya berwarna hijau, para pemuka agama sering meyebutkan bahwa hiajau adalah warna kesukaan Nabi Muhammad SAW.

Sumber : https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/adabiya/article/view/842

Sumber Gambar : https://www.99.co/blog/indonesia/masjid-cipaganti/

Miri Pariyas Tutik Fitriyas                  
401 0 4
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.