Opini Akademisi May 9 9 Min Read

Mengenal Mohammad Natsir, Sang Pemimpin Legendaris di Partai Masyumi




Mohammad Natsir, salah satu pemimpin atau ketua Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) dikenal sebagai sosok yang legendaris, karena pengaruhnya amat besar di partai tersebut. Dirinya dikenal sebagai tokoh intelek, jago dan fasih bicara soal-soal agama, serta ia terkenal alim. Sehingga tidak heran jika Mohammad Natsir selalu terpilih sebagai ketua saat muktamar partai Masyumi.

Seperti buku yang ditulis Johan Prasetya, "Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan", Mohammad Natsir dilahirkan di kampung Jembatan Berukir, sekarang kota ini masuk dalam wilayah kecamatan Lembah Gumanti, kabupaten Solok, provinsi Sumatra Barat.

Ayahnya bernama Mohammad Idris yang merupakan juru tulis di kantor Kontroler di Maninjau, dan kemudian menjadi sipir di Bekeru (Sulawesi Selatan). Sedangkan ibunya bernama Khadijah hanya seorang ibu rumah tangga.

Masa pendidikan Mohammad Natsir bermula di Hollands Inlandsche School (HIS) Adabiyah Padang, tetapi bertahan hanya beberapa bulan saja. Selanjutnya, ia pindah ke HIS Pemerintah di Solok yang dilalui hanya tiga tahun. Terakhir, Mohammad Natsir berhasil menyelesaikan pendidikannya di HIS Padang pada tahun 1923.

Tidak berhenti sampai di situ, Mohammad Natsir kembali melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)-sekarang setingkat SMP-di Padang. Di MULO, Natsir mendapat beasiswa dua puluh ribu rupiah setiap bulan dari pemerintah Belanda. Setelah tamat di MULO, ia kembali melanjutkan pendidikan di Algemeene Middelbare School (AMS) di Bandung dan berhasil lulus tahun 1930 dengan prestasi yang mengesankan.

Selama belajar di AMS, Mohammad Natsir mulai aktif berorganisasi dan banyak belajar kepada tokoh-tokoh agama dan pemikir bangsa. Natsir aktif menjadi anggota di Jong Islamieten Bond (JIB) cabang Bandung. Di JIB, ia bertemu tokoh gerakan politik, seperti Haji Agus Salim, H.O.S Tjokroaminoto, dan Syekh Ahmad Syurkati. Selain itu, Natsir juga banyak belajar dari Ustadz Ahmad Hassan, ulama yang dikenal berpaham radikal dari organisasi Persatuan Islam (PERSIS).

Peran dan perjuangan Mohammad Natsir untuk meraih kemerdekaan dan setelah kemerdekaan juga tidak boleh diragukan, prestasinya sebagai tokoh agama dan jurnalis amat dikenal. Mohammad Natsir banyak memberikan pelajaran agama di beberapa sekolah menengah, seperti sekolah MULO Javastraat di Bandung dan sekolah guru di Gunung Sahari.

Mohammad Natsir juga merintis sekolah dengan sebutan Pendidikan Islam (Pendis) pada tahun 1930, dengan tujuan ingin membangun pendidikan sesuai dengan hakikat ajaran islam, namun bercorak modern. Enam tahun kemudian, tepat Maret 1936, Mohammad Natsir mendirikan Pesantren PERSIS di Bandung.

Selain kiprahnya di dunia pendidikan, Mohammad Natsir juga tokoh populer di panggung politik. Tahun 1938, Mohammad Natsir menjadi anggota Partai Islam Indonesia (PII) cabang Bandung. Hingga akhirnya, tahun 1940-1942, Mohammad Natsir berhasil menjadi ketua PII Bandung.

Pada masa pendudukan Jepang, terjadi kebijakan untuk merangkul golongan Islam, sehingga dibentuk Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI). Seiring dengan perkembangannya, pada tanggal 7 November 1945 MIAI berubah menjadi Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). 

Pada Muktamar IV di Yogyakarta 15-19 Desember 1949, Mohammad Natsir terpilih menjadi Ketua Pimpinan Pusat Partai Islam Masyumi. Pada pemilu 1955, Masyumi di bawah kepemimpinan Mohammad Natsir tampil sebagai Partai besar di Indonesia. Salah satu keunggulan partai ini karena memiliki kelompok tink tank yang bisa diandalkan, yaitu gabungan tokoh-tokoh muslim yang berpendidikan Barat namun berlatar belakang pesantren.

Usai Indonesia merdeka, Mohammad Natsir menjadi Menteri Penerangan dalam kabinet Sutan Sjahrir. Presiden Soekarno pernah tidak mau menandatangani sesuatu keterangan pemerintah jika bukan Mohammad Natsir yang menyusunnya.

Di akhir masa-masa kariernya, Mohammad Natsir pernah masuk penjara karena membentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada era Demokrasi Terpimpin tahun 1958. Nanti pada tahun 1966, Mohammad Natsir dibebaskan pada masa Orde Baru.

Munculnya Orde Baru, justru tak membuat Mohammad Natsir mendapatkan angin segar, ia tak mendapat tempat dan kedudukan di pemerintahan, padahal kemampuannya tak perlu diragukan. Meski begitu, sikap kritis Mohammad Natsir tetap digencarkan. Ia tak sungkan memberikan kritik tajam pada hal yang mendasar kepada pemerintah Orde Baru.

Akibatnya, Mohammad Natsir dicekal ke luar negeri tanpa proses pengadilan. Pencekalan itu pun berlangsung hingga ia meninggal. Mohammad Natsir meninggal pada tanggal 6 Februari 1993, dengan usia 85 tahun.

 

Referensi: 

Prasetya, Johan. “Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan.” Penerbit Saufa. 

Sumber gambar : Wikipedia


 

Budi Prathama                 
107 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.