Opini Akademisi April 11 9 Min Read

Keberagaman Paham Islam di UIN Raden Mas Said, Seberapa Besar Toleransinya?




Solo punya cerita indah mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia, tentu hal ini tak terbantahkan oleh catatan sejarah. Bahkan, Solo juga memiliki predikat sebagai pusat pergerakan nasional ketika menjelang kemerdekaan, salah satu penyumbang jasa dan peranan melawan kolonialisme Belanda yakni Organisasi Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Samanhudi dan kemudian berahli menjadi Sarekat Islam yang dipimpim oleh HOS Cokrominoto.

Oleh karena itu, tak mengherankan apabila Solo menjadi pusat pergerakan nasional dan juga dianggap sebagai pusat islam politik di Indonesia. Sebab, sedari awal Solo mengambil peranan dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan menggunakan alat instrumen agama sebagai pergerakannya. Sehingga, perkembangan organisasi agama atau organisasi masyarakat (ORMAS) di Solo semakin hari semakin menjamur hingga saat ini.

Ditambah dengan perubahan atmosfer politik Indonesia dari otoritarian ke arah politik demokrasi telah memunculkan sebuah konstelasi gerakan yang spesifik di Solo. Dalam hal ini adalah gerakan agama yang bersifat radikalisme, diantaranya Jama’ah Islamiyah (Jl, lahir pada 1993) yang didirikan oleh Abu Bakar Ba’syir, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI, lahir 1999), atau Jamaah Ashorut Tauhid (JAT, Lahir 2008), FPIS, Laskar Jundullah, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Hawariyyun, dan lain sebaginya.

Seyogyanya, keragaman paham agama pun hadir di lingkungan perguruan tinggi. Tiga kampus tersebar dan memiliki pergaulan ideologi yang cukup berragam yakni Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Universitas islam Negeri Raden Said Surakarta.

 

Paham Radikalisme Mengalir ke Perguruan Tinggi   

Paham radikalisme tidak hanya tersebar di lingkup masyarakat, khusunya Solo Raya. Namun, merambah ke dunia pendidikan, utamanya Perguruan Tinggi. Permasalahan yang paling krusial yaitu terciptanya perilaku intoleransi terhadap adanya aliran agama maupun agama yang berbeda dengan mereka. Hal ini pun diperunyam dengan adanya organisasi mahasiswa yang bersifat eksklusif.

Satu di antara contoh yang menjadi sebuah kebenaran yang tak terbantahkan di tahun 2006 yaitu mahasiswa UIN Raden Mas Said terlibat dalang dari meninggalnya Dr. Azahari  dalam sebuah penyergapan oleh Densus 88 di Kota Batu Malang. Sehingga pada akhirnya mahasiswa dari jurusan syariah tersebut tidak lagi melanjutkan kuliahnya.

Tidak hanya itu, pada tahun 2017 di UIN Raden Mas Said terjadi aksi demonstrasi yang menolak kegiatan bedah buku yang dilakukan oleh tokoh Syiah di Indonesia yakni Haida Bagir. Kelompok demostran menolak adanya kegiatan tersebut, dengan alasan bahwa kampus seperti UIN Raden Mas Said yang menjadi kampus keberagaman tidak boleh tercemar dengan adanya aliran Syiah, yang mereka anggap sesat.

Sifat intoleransi ini tidak hanya mengganggu kenyamananan dalam dunia pendidikan, akan tetapi juga meyumbang jurang keretakan persatuan dan kesatuan atau bahkan malah mendegredasi ideologi Pancasila, dimana termaktup pada sila ketiga “Persatuan Indonesia”, yang semestinya harus dijalankan dan dipraktikan, terutama soal toleransi. 

Kesimpulannya, perguruan tinggi di Solo menjadi pusat pergaulan yang dikelilingi oleh paham radikalisme. Jika tidak diminimalisir akan mengakibatkan terciptanya generasi yang bermental gemar menghakimi, tanpa menjadi pembelajar yang ulung. Inilah sebuah realita di dunia pendidikan kita saat ini, jika pendidikan yang menjadi episentrum peradaban saja terkepung dengan paham semacam itu. Lantas, bagaimana menjarah peradaban yang penuh dengan pengetahuan?

UIN Raden Mas Said digadang-gadang menjadi kampus keberagaman di Solo Raya. Namun, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa terdapat peristiwa mahasiswa yang terpapar paham radikalisme, sehingga menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

UIN Raden Mas Said dan Gerakannya

Oleh karena itu, akan dimulai dengan penguatan lembaga. Dalam hal ini pihak kampus UIN Raden Mas Said melakukan pencegahan dan deteksi dini untuk meminimalisir adanya pergerakan mahasiswa yang mengarah ke aliran radikal. Meminjam perkataan Talcott Parsons yang menjelaskan secara lihai agar organisasi sosial dapat bertahan, maka sistem harus memiliki empat langkah dan hal ini yang sedang dipraktikkan oleh UIN Raden Mas Said diantaranya adalah adaptation (adaptasi), goal attainment (pencapaian tujuan), integration (integrasi), dan latency (pemelihara pola-pola).

Adaptasi disini bermakna menyesuaikan dengan lingkunganya. Artinya, apabila ingin melakukan perubahan, maka harus melakukan perubahan dengan cara megetahui akar permasalahan, lalu mencari solusi berupa teknik dan strateginya. Ketika adaptasi telah didapatkan perlu kiranya membuat sebuah pencapaian tujuan yang hendak dilakukan. Selanjutnya adalah dengan cara integrasi, yaitu dapat diartikan sebagai sebuah pengaturan bagian yang telah ada untuk penguatan kelembagaan. Berkaitan dengan integrasi ini, UIN Raden Mas Said melakukan suatu pengaturan lembaga-lembang agar tidak dimasuki oleh kelompok garis keras yang menyasar anggotanya. Dan terakhir, adalah dengan cara pemeliharaan pola-pola, salah satu yang dapat dialukan adalah dengan melakukan edukasi dalam menumbuhkan penyadaran.

Setidaknya, empat langkah tersebut yang diadopsi oleh UIN Raden Mas Said, untuk mencegah adanya penyebaran atau perluasan aliaran radikal. Tidak hanya terhenti pada empat langkah, akan tetapi pencegahan aliran tersebut juga dilakukan melalui kebijakan yang menciptakan ruang toleransi. Misalnya dengan cara “Rumah Modernisasi Beragama”, “Pusat Studi Pancasila dan Kebangsaan”, dan “Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara”.

Agar khalayak umum mengetahui, khususnya mahasiswa. Diperlukan kegiatan kampanye moderasi beragama secara masif guna menjadi alarm akan pentinganya toleransi beragama. Kampanye yang digunakan dengan cara memanfaatkan platform media sosial  yang ada serta memasukan tema “Moderasi Beragama” dalam lini kegiatan yang diselenggarakan oleh semua elemen di bawah naungan UIN Raden Mas Said.

Dilansir juga oleh Kemetrian Agama yang mengatakan bahwa perguruan tinggi menjadi kunci dalam mengentaskan aliran paham radikalisme yang berlaku di Indonesia utamanya, bagi perguruan tinggi yang memiliki “note” sebagai perguruan tinggi islam. Sebab, islam seyogyanya sudah sejak dulu memiliki visi sebagai agama yang Rahmatan lil 'Alamin, dimana menumbuhkan dan menciptakan kedamaian dan menebar kasih sayang tanpa pandang bulu.

 

Tingkat Moderasi Mahasiswa UIN Raden Mas Said

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Fuadi dengan judul “Ketahanan Moderasi Beragama Mahasiswa di Tengah Pot Gerakan Keagamaan di Surakarta”  memuat beberapa respon mahasiswa terhadap kampanye tema moderasi beragama di anataranya sebagai berikut.

Pertama, jika mengacu pada latar belakang pendidikan mahasiswa kebanyakan adalah berasal dari Madrasah Aliyah, dan beberapa berasal dari SMA atau SMK. Mengetahui latar belakang pendidikan formal mahasiswa menjadi intrumen awal untuk mengetahui akan seberapa besar toleransi mahasiswa terhadap perbedaan. 

Kedua, berkaitan pada poin pertama yang memiliki tujuan penguatan nilai agama. Penelitian kedua di pusatkan pada riwayat pendidikan non-formal pada mahasiswa. Mahasiswa lebih banyak tidak pernah mengikuti Pondok Pesenatren, Taman Pendidikan Al-Quran, serta Madrasah Diniyah. Artinya, peningkatan pengetahuan yang moderat dibutuhkan agar terjadi pemerataan pengetahuan tersebut.

Ketiga, keyakinan dan penerimaan bahwa Pancasila sebagai ideologi NKRI. Jawaban mereka hampir 100% percaya, namun ada sebagian mahasiswa yang tidak miliki keyakinan atas ideologi yang salama ini dianut bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mahasiswa kampus tersebut masih memiliki sikap moderat terhadap ideologi negara yang cukup tinggi.

Keempat, soal toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Para mahasiswa menunjukkan angka yang cukup relevan dimana tetap melakukan kegiatan misalnya menengok mahasiswa yang berbeda aliran , tradisi, dan asal.

Kelima, soal dakwah yang dilakukan oleh walisongo dengan pendekatan budaya. Mahasiswa merespon bahwa melakukan dakwah dengan menggunakan pendekatan akultrasi nilai agama dan budaya perlu dilakukan. Hal ini pun menjadi salah satu faktor penguat toleransi.

Terakhir, dilakukan penelitian terhadap sikap mahasiswa terkait ekpresi budaya dalam beribadah. Kebanyakan dari mahasiswa menjawab netral yang berkaitan dengan pernyataan bahwa pakaian agamis dan sorban lebih penting digunakan dalam kegiatan keislaman. Artinya, kebebasan berpakaian dalam melakukan kegiatan kampus tanpa adanya keterbatasan menjadi sebuah penilaian akan toleransi yang tinggi.

Survei di atas pada hakikatnya dapat dilihat dari segi positif dan negatif. Positifnya adalah mahasiswa kampus UIN Raden Mas Said masih memiliki rasa toleransi yang tinggi. Namun, di samping itu masih ada beberapa mahasiswa yang memiliki paham islam yang radikal. 

Sumber:

https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/adabiya/article/view/1072

Sumber Gambar :

https://regional.kompas.com/read/2021/05/02/135109578/keresahan-polisi-soal-paham-radikalisme-di-kalangan-milenial?page=all

Miri Pariyas Tutik Fitriyas                  
121 1 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(1) Komentar

Image
28 April 2022

Tak bermutu,

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.