Trending

Dr. Jeanne Francoise                 
390 0 0
Opini Akademisi March 3 5 Min Read

Minggu Warisan Pertahanan (Defense Heritage) 28 Februari - 3 Maret 2022




 

 

Mulai Senin, 28 Februari hingga Kamis, 3 Maret 2022, Indonesia mengalami minggu spesial, yakni minggu bertoleransi. Semantik kata ‘spesial’ disini sangat berbeda dengan hari-hari ‘spesial’ misalnya 2 Februari 2022 (02 02 2022) atau 22 Februari 2022 (22 02 2022). Spesial-nya minggu bertoleransi 28 Februari hingga 3 Maret adalah karena terdapat 3 (tiga) hari raya dari 3 (tiga) agama yang diakui di Indonesia.

Senin 28 Februari adalah Hari Isra Miraj bagi Umat Muslim, Rabu, 2 Maret adalah Hari Rabu Abu (Ash Wednesday) sebagai awal memasuki Masa Prapaskah bagi Umat Katolik Romawi, dan Kamis, 3 Maret adalah Hari Raya Nyepi bagi Umat Hindu. Di antara ketiga hari tersebut, jangan lupakan bahwa pada hari Selasa, 1 Maret nanti adalah Peringatan Penyerangan Umum 1 Maret 1949 sebagai salah satu narasi warisan pertahanan (defense heritage) bagi bangsa Indonesia. Apabila Saudara ke Yogyakarta, maka telah terdapat Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dibangun sebagai pertanda (signifie) bahwa perjuangan dan perlawanan dari Indonesia telah terjadi dan benar adanya.

Perjuangan dan perlawanan dari pihak Indonesia tersebut tidak terlepas dari peristiwa narasi warisan pertahanan sebelumnya dan menjadi rentetan narasi warisan pertahanan berikutnya. Peristiwa sebelumnya yakni Pertempuran Ambarawa dan Pertempuran Surabaya sepanjang bulan Oktober-November 1945 yang ditandai dengan objek-objek warisan pertahanan di Ambarawa dan Surabaya, Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang Januari 1947 yang ditandai dengan Monumen Peringatan Perang 5 Hari, kemudian Agresi Militer Belanda I Juli-Agustus 1947 dan Agresi Militer Belanda II Desember 1948. Sedangkan rentetan peristiwa narasi warisan pertahanan berikutnya yakni Perebutan Yogyakarta menjadi ibukota negara pada Juni 1949 atau ditandai dengan Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Oleh sebab itu sebagai orang Indonesia bukanlah kebetulan kalau 28 Februari hingga 3 Maret 2022 kita merayakan minggu warisan pertahanan (defense heritage week), sebab bukan hanya peringatan Serangan Umum 1 Maret yang kita kenang, tetapi juga perayaan hari keagamaan untuk 3 (tiga) agama yang diakui di Indonesia. Pengakuan akan hari keagamaan adalah hal praktis pengakuan terhadap Tuhan YME yang telah dirumuskan ke dalam Pancasila sila pertama. Lantas apa kaitannya Pancasila dengan Warisan Pertahanan?

Gambar 1. Monumen Peringatan 1 Maret 1949 sebagai salah satu warisan pertahanan (defense heritage) bangsa Indonesia (Sumber: www.defenseheritage.org , 2022)

Agaknya saya selalu mengulang-ngulang bahwa mantan Menteri Agama RI, Prof. Munawir Syadzali, pernah mengatakan bahwa Indonesia bukan negara agama, bukan pula negara sekuler. Di dalam kajian Disertasi saya tentang Warisan Pertahanan (defense heritage), defense heritage tidak melulu berfokus kepada objek-objek atau bangunan bersejarah yang terlihat mata, tetapi juga nilai-nilai perjuangan sebuah bangsa. Dalam konteks Indonesia, warisan pertahanan tak kasat mata bagi bangsa Indonesia (intangible defense heritage for Indonesian people) adalah Pancasila, Bahasa Indonesia, dan mem-Batik, sebab ketiga hal tersebut akan melekat sebagai jati diri kita selama kita mengaku menjadi orang Indonesia.

Sekarang kita menuju pada pertanyaan kritis dimana kah letak Pancasila di antara ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu Agama dan ilmu Sosial, termasuk Teori Sekularisme? Tentu pertama-tama kita harus mendalami Wawasan Pancasila itu sendiri. Kita sudah mengenal istilah Wawasan Nusantara dan Wawasan Kebangsaan, namun justru kita tidak mempromosikan Wawasan Pancasila. Merujuk pada artikel saya sebelumnya tentang “Bangsa dan Negara Indonesia berdasarkan Teori Warisan Pertahanan” di Indonesia Defense Magazine Edisi November 2021, disitu sudah dijelaskan dengan gamblang bahwa objek-objek warisan pertahanan hanyalah pelengkap dari narasi perjuangan dan pertahanan bangsa Indonesia periode 1511 hingga 1949. Nah, narasi Pancasila sebagai benteng perjuangan dan pertahanan bangsa Indonesia inilah yang harus lebih banyak dipromosikan.

Tentu kita harus hati-hati menyandingkan Pancasila dengan Konsep Toleransi, sebab keduanya memiliki ontologi keilmuan yang berbeda. Pancasila adalah sebagai sebuah ideologi negara Indonesia dan warisan pertahanan tak kasat mata yang khas bagi bangsa Indonesia, sementara Toleransi adalah sebuah konsep yang punya standarisasi yang universal dan berlaku di semua negara bangsa di dunia. Oleh sebab itu tidak tepat kalau Pancasila dan Toleransi seolah-olah didekatkan secara paksa. Warga negara Amerika, Jerman, Jepang misalnya bisa saja menjadi seorang yang Toleran, tanpa harus menjadi Pancasilais, sebab mereka bukan Warga Negara Indonesia. Namun ketika kita mengaku diri sebagai Warga Negara Indonesia, maka sudah pasti kita secara sadar menjadi Pancasilais.

Menjadi Warga Negara Indonesia otomatis menjadi Pancasilais, sehingga frasa “Menjadi Pancasilais” disini tidak perlu kemudian menjadi hal yang istimewa, di-spesial-kan, atau disebutkan secara khusus, bahkan di-kubu-kan. Menjelang Pilkada DKI 2017 hal ini sangat tajam terjadi. Seolah-olah golongan yang menjadi Nasionalis pro-NKRI adalah mereka yang mengaku diri “Saya Pancasilais”. Sementara golongan religius yang pro-agama, seolah-olah menjadi anti-Pancasila bahkan dicap radikalis. Adalah benar benih-benih radikalisme itu perlu diwaspadai, namun bukan berarti kemudian kaum religius secara dadakan dicap anti-Pancasilais. Secara Semantik, di dalam Sila Pertama Pancasila sendiri jelas dituliskan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Artinya Pancasila sendiri justru hanya mengenal orang-orang yang religius. Pancasila sila pertama tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak mengakui keberadaan Tuhan.

Dalam poin “Ketuhanan Yang Maha Esa” Pancasila ini jelas terkandung makna Religiusitas, namun belum mensyaratkan tindakan Spiritualitas. Pngakuan akan Tuhan itu urusan Religiusitas, kalau hubungan dengan sesama akibat ber-Tuhan, itu urusan Spiritualitas. Nah di Indonesia perihal Religiusitas-Spritualitas ini jelas terlihat dalam hal Turisme. Wilayah-wilayah yang memprioritaskan Spiritualitas, cenderung menjadi wilayah favorit bagi turis lokal dan mancanegara. Namun wilayah-wilayah yang lebih memprioritaskan Religiusitas, maka cenderung sektor pariwisata-nya kurang berkembang. Agaknya perdebatan ini juga dibahas oleh ahli Pariwisata, Mehrnoosh Bastenegar & Ali Hassani (2018), dalam artikel jurnal mereka yang berjudul “Tolerance, a spirituality strategy or a strategic spirituality in development of creative tourism”.

Kalau di wilayah-wilayah yang memiliki objek-objek warisan pertahanan, tentu diharapkan pemangku kepentingan dan masyarakat di wilayah-wilayah itu menjadi pribadi yang lebih Spritualitas, sebab fokus pariwisata warisan pertahanan berfokus pada narasi perjuangan dan perlawanan bangsa Indonesia, agar seluruh dunia tahu bahwa kita adalah bangsa yang pantang menyerah, pejuang, dan mencintai keadilan.

Perlu diingat bahwa pada periode warisan pertahanan bangsa Indonesia 1511 hingga 1949, orang Indonesia di masa itu cenderung menjadi pribadi yang Spiritualitas dalam proses Menjadi Indonesia (Becoming Indonesia), sebab orang Indonesia di masa itu lebih melihat kepada kesatuan dan kemanunggalan melawan musuh bersama, yakni Kolonialisme. Apabila Saudara berkesempatan melakukan observasi objek-objek warisan pertahanan di sekitar Jawa Tengah, maka akan terdapat narasi-narasi dari masyarakat setempat tentang tempat-tempat yang dianggap kramat dan berkekuatan “sakti” karena mampu mengusir penjajah.

Tentu hal-hal ini tidak bisa di-logika-kan dan lantas langsung diremehkan, sebab kita tetap harus meyakini bahwa tradisi lisan dan legenda yang diceritakan turun-temurun adalah salah satu pelengkap tentang bagaimana kita dapat mengenal diri kita, kemampuan dan keterbatasan kita, memahami sejarah pertahanan Indonesia dengan segala objek warisan pertahanan-nya, membebaskan pikiran kita tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di era warisan pertahanan, dan berujung pada mencerahkan jiwa kita bahwa sudah sejak abad ke-7 semangat Pancasila telah mengalir di denyut nadi kita sehingga sudah tidak asing lagi kalau kita selayaknya bisa membuka diri dan pikiran menjadi bagian dari masyarakat modern yang sadar warisan pertahanan. Selamat Minggu Warisan Pertahanan. Salam bela negara!

 

Salemba, 27 Februari 2022

 

Dr. Jeanne Francoise

Dosen Prodi Hubungan Internasional President University /

Pendiri Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society)

https://www.instagram.com/defenseheritage

 

Dr. Jeanne Francoise                 
390 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.