by INBIO

"Connecting The Dots of Sciences"

Trending

Shipa Rifelina                 
731 0 0
Opini Akademisi May 12 3 Min Read

Cara Otak Mengambil Keputusan




Dalam pembuatan suatu keputusan sangat diperlukan objektifitas yang memungkinakan tidak adanya kecenderungan disebabkan oleh hal-hal tertentu. Perlu kita ketahui bahwa proses pengambilan keputusan itu berada di otak kita. Terdapat tiga bagian di dalam otak; otak logika, emosional, dan primitif yang akan membantu kita sehari-hari. Otak logika (neocortex) mengatur cara berpikir rasional kita. Otak emosional (limbik) mengatur emosi. Sedangkan otak primitif (reptile) mengatur kebutuhan dasar kita seperti bernafas, lapar, dan lain-lain.

Dalam mengambil keputusan, kita dibantu oleh dua bagian otak yaitu otak logika dan otak emosional. Apapun yang kita terima melalui panca indera akan diproses oleh salah satu atau kedua otak tersebut sebelum kita memberikan respon.

Secara umum, otak logika akan memroses terlebih dahulu terhadap segala apa yang kita terima (baik dalam bentuk visual, suara, maupun sentuhan).

OTAK LOGIKA => OTAK EMOSIONAL => RESPON

Otak logika kemudian akan memberikan hasil analisis kepada amigdala di otak emosional untuk memutuskan respon emosi yang tepat. Saat kita dalam kondisi tenang dan tidak stress, otak logika bekerja sangat baik. Misalnya ketika kita mendengar bunyi keras, maka kita akan mengindentifikasi dan menganalisis bunyi tersebut sebagai drumb band lewat, sehingga respon yang kita berikan kembali tenang (tidak perlu dikhawatirkan).

Pada kondisi khusus atau bahaya, otak logika terkadang di ‘bypass’ oleh otak emosional.

OTAK LOGIKA => OTAK EMOSIONAL => RESPON

Contohnya, saat kita mendengar bunyi ledakan yang sangat dekat, kita langsung merasa takut dan lari untuk berlindung. Otak emosional melihat dunia secara ‘hitam atau putih’ (lari atau tidak lari). Bypass oleh otak emosional terjadi ketika kita dalam kondisi cemas, stres, panik, dan marah. Hal ini yang menyebabkan pada kondisi marah atau kesal kita sukar untuk mengambil keputusan yang tepat secara logika. Seperti orang yang bersenggolan mobil di jalan raya, emosi otomatis keluar, itu bypass.

Contoh lainnya yaitu ketika kita kesal dan cenderung melakukan emotional buying. Otak kita mengatakan kita kurang bahagia, lalu tanpa berpikir panjang kita mengambil semua baju dan sepatu di setiap rak. Namun ketika kita sudah tenang, baru menyadari bahwa kita terlalu banyak membeli baju dan sepatu.

Seseorang dengan kecerdasan emosional (EQ) tinggi umumnya mampu mengendalikan diri dengan baik. Salah satu cara agar tidak terjebak dalam keputusan emosional adalah dengan berlatih mengendalikan stres dan amarah serta beraktivitas positif untuk mebangun mindfulness. Pengambilan keputusan merupakan kombinasi dari otak (logika dan emosional). Gunakanlah dengan bijak!

 

Referensi

Diano, M., et al., Amygdala Response to Emotional Stimuli without Awareness: Facts and Interpretions. Frontiers in Psychology, 2017. 7.

LeDoux, J., The emotional brain. Phoenix. 1998, Orion Books Ltd.

Charoensukmongkol, P., Benefits of Mindfulness Meditation on Emotional Intelligence, General Self-Efficacy, and Perceived Stress: Evidence from Thailand. Journal of Spiritualiy in Mental Health, 2014. 16(3): p. 171-192.


AUTHOR

Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

GenerasiPeneliti.id merupakan media online yang betujuan menyebarkan berita baik seputar akademik, acara akademik, informasi sains terkini, dan opini para akademisi. Platform media online dikelola secara sukarela (volunteers) oleh para dewan editor dan kontributor (penulis) dari berbagai kalangan akademisi junior hingga senior. Generasipeneliti.id dinaungi oleh Lembaga non-profit Bioinformatics Research Center (BRC-INBIO) http://brc.inbio-indonesia.org dan berkomitmen untuk menjadikan platform media online untuk semua peneliti di Indonesia.


Our Social Media

Hubungi Kami


WhatsApp: +62 895-3874-55100
Email: layanan.generasipeneliti@gmail.com

Kami menerima Kerjasama dengan semua pihak yang terkait dunia akademik atau perguruan tinggi.











Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.