Trending

Hafiz Muchti Kurniawan                 
237 0 2
Sains dan Teknologi December 13 9 Min Read

MENGKAJI TEORI RELATIVITAS EINSTEIN DALAM KISAH ASHABUL KAHFI




Waktu merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia dan tiap manusia akan terus berpacu dengan waktu sampai batas yang ditetapkan Allah SWT. Bahkan dalam salah satu surah dalam Al-Qur’an, Allah SWT memperingatkan agar manusia tidak lalai  dengan waktu. Dalam ilmu Fisika waktu juga dibahas  dalam Fisika klasik maupun Fisika Modern seperti yang ada dalam teori relativitas einstein. Teori relativitas yang dikemukakan oleh Albert einstein (1879-1955) adalah teori yang mengkaji tentang bagaimana suatu kecepatan dan percepatan benda yang diukur secara berbeda melalui kerangka acuan.

Berbicara tentang waktu kita pastinya ingat kisah para ashabul kahfi di dalam Alqur’an yang tidur di gua selama 309 tahun tapi merasa hanya beberapa jam saja tanpa makan dan minum, bagaimana bisa? Fenomena ini nampaknya mampu dijelaskan dalam Fisika Modern melalui teori relativitas yang dirumuskan oleh Albert Einstein seorang Fisikawan abad 19. Einstein menerangkan bahwa waktu ditentukan dari massa dan kecepatan. Dalam teori relativitas ini menjelaskan bahwa Jika suatu benda atau apapun yang bergerak dengan kecepatan tertentu (mendekati kecepatan cahaya), maka benda tersebut akan mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang (Length Constraction).

Teori Relativitas Waktu Ditinjau dari Perspektif al-Qur'an - Tanwir.ID

Albert Einstein (1879-1955). penemu Teori Relativitas

Di dalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 18, Allah SWT berfirman:

Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.” (QS 18:18)

Perhatikan kalimat “…Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri…” berarti mereka di dalam gua dalam keadaan bergerak atau digerakkan dengan kecepatan tertentu. Pertanyaannya berapa kecepatan mereka bergerak? Sehingga mereka bisa bertahan hidup dari zaman ke zaman selama 309 tahun? Mari kita telaah, berdasarkan informasi yang berasal dari Al-Quran, kita bisa melakukan analisis untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan sekaligus membuktikan kebenaran kisah Ashabul Kahfi dalam Al-Quran.

Dari Al-Quran diperoleh informasi bahwa waktu menurut mereka (Ashabul Kahfi yang bergerak) t0 = 1 hari. Sedangkan waktu yang sebenarnya adalah t1 = 309 tahun, dikonversi ke hari menjadi = 109386 hari (berdasarkan tahun qomariah 1 tahun = 354 hari) dan c adalah kecepatan cahaya.

berdasarkan rumus dilatasi waktu :

Description: dilatasi waktu

Didapatkan :

Description: penjabaran rumus

Dan jika nilai t1 dan t0 dimasukkan ke dalam rumus :

Description: Perhitungan

V2 = 0,99999.C2

V = 0,999999.C

Dari penyelesaian rumus di atas, sangat jelas bahwa kecepatan para ashabul kahfi  bergerak atau digerakkan ke kanan dan ke kiri mendekati kecepatan cahaya, maka ini membuktikan bahwa peristiwa tersebut sangatlah masuk akal untuk terjadi.

Kemudian lanjutan ayat tersebut berbunyi.

…Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka…

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa orang yang melihat mereka ketakutan?

Berdasarkan penjelasan teori relativitas diatas, dijelaskan bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi (mendekati kecepatan cahaya) maka akan mengalami dilatasi waktu dan juga akan mengalami kontraksi panjang (length constraction);

Description: Apa Itu Teori Relativitas? - Kelas Pintar

Anggaplah tinggi badan rata-rata para ashabul kahfi = L0, dan Kecepatan gerakan kanan ke kiri = 0,9999999.C (mendekati kecepatan cahaya), maka kita bisa mendapatkan nilai L (Panjang para ashabul kahfi ketika bergerak yang diamati pengamat).

L = 0 (nol)

Dari penyelesaian persamaan di atas diketahui bahwa panjang tubuh para ashabul kahfi saat bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya adalah 0 (nol). Artinya para Ashabul Kahfi ini hampir tidak terlihat wujudnya oleh pengamat yang melihatnya dari luar. Karena gerakannya adalah bolak-balik maka sesuai dengan hukum fisika tentang gerak bahwa sebuah benda yang bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah semula (bolak–balik), maka benda tersebut akan berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Contoh jika anda melemparkan suatu benda keatas maka benda tersebut sebelum jatuh kebawah akan berhenti sepersekian detik diudara. Pada saat berhenti sesaat ini, maka panjangnya akan kembali seperti semula. Sehingga setiap saat mereka akan berubah dari ukuran semula… mengecil… menghilang… membesar… ukuran semula. Begitu seterusnya. Dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana wujud mereka. Tentulah sangat mengerikan bukan?

Ilustrasi konstraksi panjang

Penjelasan berikutnya dalam ayat di atas.

Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,” (QS 18:11)

Mengapa Allah SWT menutup telinga mereka?

Menurut hukum fisika bahwa apabila suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi, maka akan terjadi patahan gelombang (supersonic fracture) yang dapat mengakibatkan ledakan suara yang luar biasa kuatnya, hingga mampu memecahkan gendang. Misalnya pada pengemudian pesawat supersonic dapat mengakibatkan suara yang meledak-ledak dan meruntuhkan bangunan dan kaca-kaca di sekitarnya.

Demikian pula dengan Ashabul Kahfi, bahwa gerakannnya mendekati kecepatan cahaya sehingga juga berlaku patahan-patahan gelombang (supersonic fracture), yang akan menimbulkan ledakan suara seperti halnya pesawat supersonic. Oleh karena itu sesuai dengan ayat 11 surat Al Kahfi telinga mereka ditutup selama beberapa tahun, ternyata guna melindungi gendang telinga meraka dari ledakan-ledakan suara yang ditimbulkan dari gerakan mereka yang terlalu cepat.

Dari analisis yang telah dilakukan kita dapat membuktikan secara ilmiah bahwa kisah Ashabul Kahfi benar adanya. Dan dapat dijelaskan secara ilmiah melalui hukum-hukum Fisika. analisis diatas juga membuktikan bahwa sesuatu yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Ini membuktikan bahwa akal manusia itu terbatas, karena mungkin akal manusia belum mampu mencerna dan menganalisis hal-hal tersebut.

Wallahu a’lam bishowab.

Hafiz Muchti Kurniawan                 
237 0 2
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.