Trending

TW Cahyono                 
644 3 2
Opini Akademisi February 27 5 Min Read

Dampak Krisis Ukraina-Rusia terhadap Ketahanan Pangan




Keputusan Rusia untuk menyerang Ukraina akan berdampak naiknya harga gandum dan jagung dunia. Diketahui, Rusia adalah salah satu eksportir gandum besar dunia. Sepuluh persen produksi gandum dunia dihasilkan Rusia dan mampu menguasai pasar internasional sebesar 20%. Begitu pula Ukraina, menjadi eksportir besar untuk jagung, minyak goreng dari bunga matahari dan biji gandum. Selama ini, negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara sangat mengandalkan impor gandum dari kedua negara tersebut. Otomatis, perang ini langsung berdampak kepada langkanya gandum di daerah tersebut. Belum lagi dampak akibat terhambatnya transportasi internasional yang juga menambah lambatnya pasokan pangan antar negara, kegiatan ekspor-impor antar negara terganggu meskipun tidak terlibat perang secara langsung.

Pasokan komoditas jagung dunia juga terganggu. Jagung produksi Ukraina termasuk murah karena bukan jagung rekayasa genetik. China sebagai salah satu negara pengimpor jagung mulai mengalihkan dan menaikkan permintaan jagung kepada Amerika, sebagai negara pengekspor terbesar dunia. Tahun lalu, produsen besar jagung juga mengalami penurunan produksinya karena kendala cuaca yang kurang mendukung, terlalu panas. Dari krisis Ukraina ini bisa diprediksi harga pangan gandum dan jagung akan terkerek naik yang berimbas kepada inflasi panga lainnya.

Indonesia sebagai bagian dari ASEAN, meskipun jauh dari daerah konflik yang terjadi, namun diperkirakan juga akan terdampak situasi ekonomi akibat perang ini. ASEAN masih tergantung impor pupuk dari Rusia sebesar 9,74%. Bila sisi input produksi terganggu maka bisa dipastikan akan terjadi kenaikan biaya produksi pertanian yang berujung akan menaikkan harga hasil produknya. Pasokan gandum, oat dan sereal dari Ukraina ke ASEAN sebesar 9,21% sedangkan Rusia sebesar 3,99%. Belum lagi terganggunya transportasi ekspor-impor pertanian yang melalui pelabuhan Laut Hitam akan mengakibatkan terganggunya kelancaran pasokan pangan antar negara. Para ekonom memperkirakan inflasi pangan akibat terganggunya pasokan dan transportasi dari perang ini mencapai 25%.

Ditambah lagi, dengan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dunia akibat perang, maka sangat memungkinkan naiknya harga pangan karena kenaikan biaya transportasi. Negara pengimpor jagung murah untuk pakan ternak seperti China akan mencari alternatif negara lain untuk memasok kebutuhan dalam negeri dan menambah dengan komoditas lainnya sebagai substistusi seperti kedelai. Kekuatan finansial negara China akan mempengaruhi kemampuan akses negara lain dalam persaingan perdagangan internasional. Tentu saja negara dengan modal besar akan lebih menang dan mudah mendapatkan akses pangan dibandingkan negara miskin.

Ketahanan pangan suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan atau kemampuan dalam akses, penyediaan, keamanan dan kestabilan harga pangannya. Terkadang, isu perang ini dimanfaatkan untuk membuat ketidakpastian kondisi yang memungkinkan munculnya situasi kelangkaan. Melihat kasus Indonesia, langkanya minyak goreng dan kedelai menjadi fenomena ekonomi dalam kondisi ketidakstabilan atau terganggunya pasokan pangan. Biasanya, ada pihak tertentu yang melakukan penimbunan dan pengalihan distribusi barang agar terjadi kelangkaan sehingga harga menjadi naik. Bagi negara-negara ASEAN yang mayoritasnya negara agraris, menjamin stabilitas harga akibat buruknya distribusi (sistem perdagangan) yang dikuasai oleh kartel selalu menjadi tantangan dalam pembahasan ketahanan pangan.

Di sisi lain, krisis Ukraina menimbulkan kenaikan harga gandum dunia yang memicu kenaikan pangan berbahan baku gandum seperti roti dan mie instan. Banyak rumah tangga yang semakin terbebani dengan pengeluaran untuk pangan, dan bisa menambah orang miskin baru. Namun, bila negara tersebut mampu memunculkan industri penghasil tepung pengganti gandum seperti singkong, maka hal tersebut menjadi peluang peningkatan produktivitas pertanian dan industrinya. Politisi dan ekonom mengkhawatirkan krisis ini merembet kepada inflasi pangan yang sangat tinggi sehingga menimbukan konflik di masing-masing negara karena banyak rakyat yang tidak mampu untuk membeli makan (menurunnya akses pangan).

sumber gambar: world-grain.com

TW Cahyono                 
644 3 2
Bagikan ini ke sosial media anda

(3) Komentar

Image
Aka 28 February 2022

Bagi pengusaha besar (kartel) di sektro pangan, ini kesempatan menaikkan harganya. Atau mengalihkan ke negara lain yang membutuhkan dg harga lebih tinggi. Di negaranya sendiri bisa terjadi kelangkaan meski melimpah.

Bagikan   

Image
Winarti 3 March 2022

Sebenarnya kalau harga gabah bisa naik...justru bagus...petani kecil bisa merasakan dampak positif...tapi justru bahan pangan yg tidak diproduksi petani yang terus naik...contoh minyak goreng.. Miris...di negeri yang kaya... tapi langka

Bagikan   

Image
Winarti 3 March 2022

Pernah ada inovasi pembuatan tepung Mocaf sebagai pengganti terigu...tapi ternyata tidak mampu berkembang..karena juga ada kepentingan politik di sana..

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.