Trending

Al Mukhollis Siagian                 
206 0 3
Opini Akademisi March 14 4 Min Read

Jebakan Narasi Perang vs Perang Narasi di Indonesia




Negarawan sejati tidak akan pernah memunculkan narasi provokatif untuk dikonsumsi oleh warga negara, sekalipun ada potensi yang mengganggu kedaulatan negeri. Mereka tahu cara terbaik menyelesaikan beraneka persoalan tanpa mengusik kenyamanan warga Negara, tanpa menambah daya khawatir masyarakat atas penghidupannya.

Al Mukhollis Siagian

Reviewer di University of Illinois Research Park

 

Atas apa yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, Indonesia harus belajar banyak hal, terutama kondisi internal sebagai Negara majemuk dan eksternal selaku bagian dunia internasional. Biasanya, tirai panggung di mana pembicaraan masyarakat ditransaksikan cukup terbelah untuk memberikan pandangan yang lebih jelas tentang peran tragedi simbolis dalam membentuk peristiwa permukaan dan arah kehidupan kolektif kita.

Ketika dikontekstualisasikan dengan kondisi Indonesia saat ini, narasi perang penting untuk dianalisis secara mendalam. Mengingat rezim Indonesia hari ini sedang fokus berperang melawan apa yang mereka sebut dengan ‘totaliterisme’ dan ‘radikalisme’. Totaliterisme sering digambarkan dengan narasi-narasi penuh kebencian dan begitu menakutkannya kehidupan negara semasa Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Sedangkan radikalisme sering disematkan pada bagian dari kelompok Islam. Yang dilakukan oleh rezim ini tentu menjadi sangat menarik, terjadinya ‘Narasi Perang’ vs ‘Perang Narasi’ di Indonesia.

Rezim telah menghubungkan musuh mereka dengan penjahat sejarah di masa lalu (Totaliterisme) dan kelompok penjahat dibelahan bumi yang lain (Radikalisme). Dengan melampirkan musuh saat ini ke musuh historis yang diterima secara umum dan spesifik secara budaya, publik memperoleh informasi dengan cara emosional dengan singkat tentang siapa yang dikategorikan orang jahat di negeri ini dan seberapa buruk mereka. Misalnya, di Barat arus utama, penjahat terbesar adalah Nazi. Dengan pengecualian mereka yang memiliki pandangan rasial yang ekstrem, Nazi sama buruknya dengan mereka. Analogi Nazi bekerja sangat luas, bahkan dalam dunia sepak bola. Begitu pula dengan narasi radikalisme (ditujukan pada bagian dari kelompok Islam) dan narasi totaliterisme (ditujukan pada Orde Baru) sedang bekerja diseantero nusantara, bahkan telah menyisip dalam lagu perjuangan mahasiswa “…Indonesia tanpa Orba…”.

Tidak luput dari perhatian meyeluruh bahwa media telah menjadi panggung untuk kontes dramatis atas landasan moral yang lebih tinggi pada isu-isu totaliterisme dan radikalisme. Ini juga didukung era dengan kecanggihan teknologi. Presentasi teatrikal tentang orang, peristiwa, dan hasil merupakan komponen utama dari ‘Narasi Perang vs Perang Narasi’. Kita tidak dapat benar-benar menilai kewajaran atau sebaliknya dari tindakan rezim, mengguncang fondasi masyarakat sipil kita dan berpotensi membentuk siklus ‘dendam peperangan’ yang berimplikasi pada tidak terwujudnya tujuan Negara dan mustahil harmonis.

Dengan tetap memproduksi narasi perang terhadap totaliterisme (yang mungkin diperuntukkan menghadang gerak politik loyalis Orde Baru), kita sama buruknya dengan rezim Orde Baru yang senantiasa memproduksi perangnya terhadap PKI. Begitu juga dengan narasi perang terhadap radikalisme, sulutan emosi berbasis SARA akan semakin meningkat dan memperkeruh suasana demokrasi. Rezim hari ini semestinya hanya perlu menunjukkan kinerja yang mumpuni dengan tidak sedikitpun mengadopsi sikap dan tindakan buruk pada masa Orde Baru, serta mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan negara.

Secara intuitif, rezim memang pada biasanya menggunakan emosi publik dan menghubungkannya dengan histori untuk memungkinkan masyarakat mengasimilasi peristiwa dengan pola yang sudah dikenal. Masyarakat didorong untuk memahami tindakan mereka, mengasimilasi pada skenario kepentingan nasional. Mari belajar dari daya narasi peristiwa 9/11, sebuah narasi perang yang berhamburan di banyak Negara, termasuk Indonesia yang hingga saat ini masih berfokus pada 'perang melawan teror'. Ketika Negara-negara di dunia fokus untuk bangkit dari dentuman Covid-19 serta mempersiapkan diri atas segala kemungkinan dari konflik antara Rusia dan Ukraina, sedangkan kita belakangan ini masih meributkan apakah Munarman (mantan petinggi FPI) sebagai teroris atau tidak, Pidato Presiden Joko Widodo di depan petinggi TNI dan Polri jangan mengundang ustad radikal (mengidentifikasi seseorang untuk dikategorikan ustad radikal sepertinya butuh waktu panjang), dan serangan KKB di Puncak Papua awal bulan ini.

Kita paham kekhawatiran rezim atas hal-hal yang dapat memicu perpecahan masyarakat. Namun pernahkah rezim berpikir bahwa kondisi demikian muncul sebagai akibat dari ‘Narasi Perang dan Perang Narasi’ yang diproduksi oleh rezim. Dan tentunya, secara epik dan emik, gagasan 'perang melawan teror' hanyalah sebuah mata rantai dari perangkat metafora serupa yang telah digunakan dari waktu ke waktu.

Kondisi yang terbentuk dari narasi perang vs perang narasi adalah perpecahan bipolar dalam tubuh masyarakat, Indonesia berada pada posisi ini. Menggambarkan representasi dikotomis dari kancah Negara bangsa, bentrokan kelompok antara dua kekuatan antagonis yang selalu membawa identitas moral. Memonopoli narasi dengan perasaan paling nasionalis dibandingkan kelompok lain, disisi lain memonopoli narasi paling agamais diantara kelompok lainnya, dan sialnya semua harus berkelindan dalam kemasan demokrasi. Seolah-olah kita sedang menghadapi musuh baru. Perang internal ini begitu nyata, kelompok lain yang berlawanan dicirikan sepenuhnya dalam istilah ideologi jahat. Narasi hibrida retoris semacam ini nampaknya begitu laris lintas rezim, semakin menjauhkan Indonesia menuju tatanan Negara mapan yang dewasa lagi bijaksana.

Al Mukhollis Siagian                 
206 0 3
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.