by INBIO

"Connecting The Dots of Sciences"

Trending

Amay Suryadi                 
393 0 2
Sosial dan Bisnis March 19 5 Min Read

KUNCI KETIKA TERJADI PERSELISIHAN




Perselisihan Hubungan Industrial.

Sebagai makhluk sosial perselisihan ibarat cabai dipasar yang apabila dimakan akan terasa pedas, sehingga sering kita jumpai antar individu dengan individu lain,kecuali orang yang tidak menyukai pedas. Setiap orang memiliki alur hidup yang berbeda-beda sehingga dalam perjalanannya tidak dipungkiri dari istilah konflik,kali ini kita akan bahas persilisihan antar pekerja atau buruh dengan pengusaha dari suatu perusahaan, tentu orang yang berada di dalam perusahaan tersebut memiliki kepentingan masing-masing, perselisihan ini dalam hukum Indonesia dikenal dengan Perselisihan Hubungan Industrial.

Umum kita dengar bahwa perselisihan hubungan industrial ini mencuat karena perbedaan bendapat yang berujung pertetangan. Baik itu dialami Pengusaha maupun gabungan pengusaha dengan buruh atau  pekerja. Maupun antara sesama serikat pekerja atau serikat buruh dalam perusahaan yang sama. 

Perselisihan hubungan industrial yang dimaksudkan  adalah mengenai “perbedaan pendapat yang menyebabkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan terkait hak, perselisihan kepentingan, perselisihan mengenai pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam perusahaan”.

Terdapat beberapa perselisihan yang terjadi di Indonesia khsusnya mengenai hubungan industrial ini , mulai dari perselisihan hak,perselisihan kepentingan,perselisihan PHK,perselisihan antar serikat pekerja atau buruh dalam satu perusahaan.

Jenis perselisihan hubungan industrial ini bisa timbul karena tidak terpenuhinya hak, akibat ada perbedaan pelaksanaan maupun penafsiran terhadap ketentuan dari peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan, maupun perjanjian kerja bersama.

Hak yang dimaksud dalam jenis perselisihan hubungan industrial ini adalah hak normatif. Merupakan  hak yang sudah ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama atau peraturan perundang-undangan. Contoh dari timbulnya perselisihan ini bisa terjadi saat pekerja menolak gaji yang diberikan oleh perusahaan karena tiap pihak memiliki definisi atas gaji yang berbeda dari perjanjian kerja yang sudah dibuat.

Jenis perselisihan hubungan industrial selanjutnya bisa timbul karena tidak ada sama pendapat mengenai pembuatan, dan/atau perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, maupun perjanjian kerja bersama. Sebagai contoh, ketika sebuah perusahaan mengubah isi dari perjanjian kerja tapi tanpa ada kesepakatan dari karyawan yang seharusnya ikut dilibatkan.

Lalu, Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah jenis perselisihan hubungan industrial yang timbul karena tidak ada sama pendapat tentang bagaimana cara mengakhiri hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak. Salah satu contoh kasus yang paling sering terjadi yaitu ketika perusahaan memutuskan hubungan kerja secara sepihak dengan pekerjanya, tapi sayangnya pekerja tersebut tidak setuju dengan keputusan dari perusahaan yang bersangkutan.

Juga, Perselisihan Antar Serikat Pekerja dalam Satu Perusahaan merupakan jenis perselisihan hubungan industrial antara serikat pekerja dengan serikat pekerja lainnya, namun terbatas hanya dalam satu perusahaan.

Timbulnya hal tersebut bisa disebabkan karena tidak adanya persamaan paham mengenai keanggotaan, pelaksanaan hak, serta kewajiban keserikatan pekerjaan.

Pada hakikatnya, tak ada masalah yang tak bisa diatasi, pasti ada solusi atau jalan keluarnya. Maksudnya, setiap perselisihan yang telah kita bahas diatas pasti memilki cara penyelesaiannya. Berbagai kebijakan atau peraturan sudah di atur oleh Undang Undang yang menjadi sumber hukum negara kita yaitu Indonesia dengan sedemikian rupa, diantaranya ; 

1. Perundingan Bipartit

Perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat. 

Perundingan yang dilakukan antara pengusaha maupun gabungan pengusaha dengan serikat buruh. Jika tidak menemukan kata sepakat, para pihak berselisih akan melanjutkan perundingan tripartit. Sedangkan, jika kedua belah pihak menyepakatinya maka dibuat perjanjian bersama dan didaftarkan pada Pengadilan Hubungan Industrial dimana perusahaan berada.

2. Perundingan Tripartit

Perundingan dilakukan oleh pekerja dengan pengusaha dimana melibatkan fasilitator yakni pihak ketiga. Tahapan perundingan tripartit sebagai berikut ini.

a. Mediasi

Proses mediasi dilakukan dengan cara musyawarah yang dipimpin oleh satu orang maupun lebih. Umumnya, proses ini melibatkan mediator dari pihak Departemen Ketenagakerjaan. Jika di dalam tahap mediasi ternyata para pihak terkait mencapai kata sepakat, maka akan dituangkan ke dalam perjanjian bersama yang didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial setempat.

b. Konsiliasi

Proses penyelesaian dilakukan dengan cara musyawarah, di mana terdapat penengah yaitu seorang konsiliator. Konsiliator akan berusaha mendamaikan berbagai pihak yang terlibat untuk mencapai kesepakatan bersama. Tapi, jika dari salah satu pihak tidak sepakat maka konsiliator akan membuat anjuran untuk didaftarkan kepada Pengadilan Hubungan Industrial setempat.

c. Arbitrase

Langkah ini adalah penyelesaian perselisihan yang dilakukan di luar Pengadilan Hubungan Industrial. Proses yang ditempuh yaitu dengan membuat kesepakatan tertulis yang di dalamnya berisi pernyataan para pihak untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial kepada para arbiter. Keputusan arbitrase ini sifatnya final dan mengikat berbagai pihak yang berselisih.

3. Pengadilan Hubungan Industrial (PHI)

Para pihak yang tidak menyetujui dan menolak anjuran dari mediator maupun konsiliator akan melanjutkan perselisihan dengan pengajuan gugatan ke PHI. Berdasarkan Pasal 56 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan di Indonesia, PHI memiliki kompetensi absolut dalam  memeriksa dan memutus perkara, antara lain:

  1. Pada tingkat pertama tentang perselisihan hak
  2. Pada tingkat pertama dan terakhir terkait perselisihan kepentingan
  3. Pada tingkat pertama terkait perselisihan pemutusan hubungan kerja (PHK) 
  4. Pada tingkat pertama dan terakhir terkait perselisihan serikat pekerja atau buruh yang terjadi dalam suatu perusahaan.

 

 

Sebagai renungan : 

Seorang Muslim sejati adalah orang yang berhati-hati dalam segala hal, baik dalam segi pemikiran,perkataan,dan perbuatan. Terlebih, kita sebagai manusia yang hidup saling membutuhkan antar manusia lain tentu harus bisa saling menjaga persaudaraan untuk menegakkan keadilan, entah itu sebagai saudara se-agama,se-keluarga,se-bangsa,se-tanah air.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

«فَمنْ هداه الله سبحانه إلى الأخذ بالحقِّ حيث كان؛ ومع من كان؛ ولو كان مع مَنْ يُبغضه ويُعاديه، ورَدِّ الباطل مع من كان، ولو كان مع من يُحبُّه ويُواليه، فهو مِمَّن هُدي لما اختُلف فيه من الحقِّ»

"Siapa yang Allah beri hidayah untuk mengambil kebenaran di mana pun berada, dan bersama siapa pun kebenaran itu, walaupun bersama orang yang membencinya dan memusuhinya, dan dia membantah kebatilan bersama siapa pun kebatilan itu, walaupun bersama orang yang mencintainya dan loyal kepadanya; maka dia termasuk orang-orang yang diberi hidayah kepada kebenaran yang diperselisihkan oleh manusia."

Sumber: 📚 Ash-Shawa’iqul Mursalah, jilid 2 hlm. 516


AUTHOR

Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

GenerasiPeneliti.id merupakan media online yang betujuan menyebarkan berita baik seputar akademik, acara akademik, informasi sains terkini, dan opini para akademisi. Platform media online dikelola secara sukarela (volunteers) oleh para dewan editor dan kontributor (penulis) dari berbagai kalangan akademisi junior hingga senior. Generasipeneliti.id dinaungi oleh Lembaga non-profit Bioinformatics Research Center (BRC-INBIO) http://brc.inbio-indonesia.org dan berkomitmen untuk menjadikan platform media online untuk semua peneliti di Indonesia.


Our Social Media

Hubungi Kami


WhatsApp: +62 895-3874-55100
Email: layanan.generasipeneliti@gmail.com

Kami menerima Kerjasama dengan semua pihak yang terkait dunia akademik atau perguruan tinggi.











Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.