Trending

mansurni abadi                  
235 1 1
Opini Akademisi March 16 9 Min Read

MEWASPADAI GELOMBANG NEO-PRASANGKA




Masalah utama kita diera digital ini selain pada persoalan realitas yang terlalu melampau serta susahnya kita untuk up-to-date mengikuti perkembangan apalagi bagi generasi sebelum y atau z . juga ada masalah seputar  jerat purbangsangka/ Prasangka yaitu suatu kondisi pra pengetahuan yang harus ditingkatkan menjadi kondisi berpengetahuan.  Isu-isu kebangsaan seringkali ditangkap dengan prasangka, hasilnya percakapan masyarakat digital hingga sampailah ke ranah offline pun hanya terjebak pada ketakutan-ketakutan yang tidak mendasar.

 Dalam konteks masyarakat yang beragam jika prasangka ini terus-menerus  dipelihara maka persatuan yang selama ini kita rajut akan terwarisi dalam bentuknya rapuh,yang kelak akan mencerai-beraikan bangsa kita sebagaimana yang terjadi di wilayah Balkan, ydalam ranah digital studies  wilayah baklan di sematkan kata cyber di depannya  untuk mengambarkan fenomena perpecahan dalam masyarakat yang beragam karena pengaruh digital (Baca lebih lanjut tentang Cyberbalkanization).

Sebenarnya prasangka tidak perlu wujud di era digital yang mana pengetahuan sudah bebas layaknya udara. Tapi selalu  ada paradox yang menyertai kebebasan, yaitu menjebak kita pada kondisi kelebihan menerima informasi-informasi yang nyatanya tidak dapat kita cerna seutuhnya. Namun mau bagaimana lagi Dogma manusia modern itu “tangkap,unggah, sharing” sebagaimana penegasan Yuval Noah Harari dalam dua best seller-nya Homo Deus dan Homo Sapiens.

Oleh karena itu, Literasi digital hanyalah omong kosong, bukan saja soal  formalitasnya di tataran birokrasi namun dengan rangkaian tour webinar antar kota-kabupaten-bahkan provinsi tapi juga pada gelombang baru eksistensi di ranah individual yang sudah  terlalu over yang terus menerus menuntut kita untuk melepaskan diri dari budaya berpikir apalagi mengingat akan konsekuensi moral.

F. Budiman Hardiman dalam bukunya Aku Klik Maka aku, bahkan mengingatkan jika eksistensi manusia modern itu bergeser ke budaya klik dan ketik yang hari demi hari kian mendefinisikan kekitaaan kita. Jalan pintas memperoleh pengetahuan dari ranah digital ini kemudian memaksa kita terbiasa menjadi penafsir sekaligus penyebar dari yang  kita tafsirkan dengan hanya bermodalkan viralitas dan informasi yang memantik emosi. Kita menyebut zaman ini sebagai pasca-keberan dimana tidak ada lagi batas antara mana yang benar dan salah.

Perihal post-truth ini saya jadi teringat dengan efek ilusi kebenaran dari Lynn Hasser Dkk pada tahun 1977 yang menegaskan kecenderungan pada diri setiap manusia untuk mempercayai informasi yang salah sebagai suatu kebenara, setelah adanya proses pengulangan yang sistematis. Praksis dari teori ini saya rasa relevan untuk kita terapkan secara sederhana dalam bentuk keluar dari setiap grup-grup di media sosial yang banyak berisi konten-konten yang memantik prasangka

Meretas Purbangsangka

Neo-prasangka 5.0 saya menyebutnya karena memakai medium teknologi untuk menyebarkan kedangkalan di ranah publik adalah produk dari demokrasi digital yang kebablasan dimana moral dan etika apalagi soal hukum bukan lagi sebagai panglima. Kita cenderung berkomunikasi dengan orang lain diranah ini dengan arogan seolah-olah kita sedang berkomunikasi dengan entitas yang bukan manusia.

Kerjasama antar elemen masyarakat selalu digaungkan disamping literasi digital untuk mengatasi merebaknya prasangka karena pengaruh dunia digital. Praksisnya,ada banyak cara salah satunya  dengan menggunakan kesempatan akses internet untuk belajar mandiri, memperkuat rasa ingin tahu, memperhebat kepedulian sosial,dan selalu memunculkan keberpihakan pada kepentingan publik (common good). tapi ada tahapan-tahapan yang perlu kita lalui sebagai pra-kondisi untuk mencapai kesemua itu dengan terlebih dahulu meretas akar-akar yang menjadi penyebab neo-purbangsangka terjadi.

Meretas purbasangka di era digital harus dimulai dari literasi berdemokrasi yang inklusif, agar lepas dari jerat politik sebagai penyebab utama timbulnya prasangka.  Politik pada dasarnya baik hanya saja ada sebagian strategi didalamnya yang terus menerus membumikan prasangka. hal ini disatu sisi berguna untuk menguatkan sentimen yang berujung kefanatikan buta tapi disisi lain berguna untuk menjauhkan masyarakat dari hal-hal yang sebenarnya subtansial.

Kita selama ini terjebak pada yang citra, apalagi politik di era digital itu identik dengan citra yang terus menerus di propagandakan dengan cara-cara yang lebih efektif dari sebelumnya , kita selalu dibuat kagum dengan sosok pemimpin yang turun mengecek saluran air ataupun yang lantang meneriakkan takbir tapi lupa ada penindasan struktural yang masih belum mereka selesaikan.

Soal pencitraan saya jadi teringat dengan Novel Rasiah Nu Goreng karangan Soekria-Johana di tahun 1928, isinya  tentang pencitraan yang masih  kontekstual dengan kebudayaan digital kita  hari ini. Buku berbahasa Sunda ini menceritakan bagaimana Karnadi, seorang yang pandai mematut- matut dirinya yang tidak istimewa (goreng patut) itu. Kalau dalam istilah sekarang adalah pencitraan.

"Ari watekna karnadi teh sok wani ka nu teu puguh, ngajujur napsu, hayang ka nu lain layak, miasih nu lain tanding. Tapi mungguhing manusa, sanajan nyucud goreng patut, tuna pangabisan, sok rajeun aya bae momonesna teh. Nya kitu deui Karnadi, jaba ti bida ngabeberes carita teh, tapi oge bisa ngahariring, calakan kana guguritan, nya teu wudu oge sorana teh rada ngeunah." ( hal 8)

Dari Novel lama ini ternyata budaya itu telah ada , tapi Begitulah budaya politik akan selalu penuh dengan pencitraan dan media digital memainkan peranan dalam menguatkannya, harus kita akui hari ini banyak yang seperti Karnadi. Besar dalam pencitraan, kosong dan rapuh dalam argument yang mereka mainkan hanyalah citra,citra,dan citra lalu bergerak sedikit ke sentimen .

Sebenenarnya Kluster pro dan anti pemerintah hanyalah bukti kedangkalan kita dalam memahami keadaan. Kita yang berteriak oligarkhi,misalnya dengan memihak pada si A,B,C, atau D, hanyalah diperalat oleh jerat politik kotor yang pada akhirnya kita akan disuguhkan sajian jabatan tangan diantara mereka dalam satu jabatan padahal dahulu kita mati-matian membela mereka.

Kemudian yang selanjutnya,kita harus  meretas keterasingan  dengan budaya ilmu. Modal utama keterlepasan dari jerat  prasangka di zaman digital itu sebenarnya  litelatur dan logika.  Namun untuk paham akan keduanya, kita harus insaf terhadap budaya ilmu  yang sesungguhnya, bukan pseudo-ilmu yang dihembuskan oleh para pseudo-scientist. oleh karena itu hal yang paling mungkin kita lakukan di tengah zaman overloud informasi ini dengan menyadari keterbatasan kita ditingkatan pengetahuan, pemahaman,apalagi pengamalan.  Dahulu sewaktu bersekolah di Filipina, guru saya mengingatkan idealnya ketika kita hendak memahami sesuatu dengan baik, cukup pilih 3 buku atau dalam artian lain sumber yang terbaik sekaligus terpercaya yang membahas tentang hal itu. Kemudian bacalah dengan baik lalu setelahnya sebisa mungkin kita mengkoneksikan diri kita dengan orang yang paham akan permasalahan itu.

            Namun Masalahnya, pada era “semua serba tersedia” ini, kita kerap melihat ada banyak orang yang merasa expert di bidang tertentu hanya dengan membaca wikipedia & ‘status’ di sosial media. Sekarang banyak orang yang kaya informasi tapi minim ilmu, dengan beraninya mendebat para ahli yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk mendalami satu bidang keilmuan tertentu.

            Rasa-rasanya keinsafan kita dengan budaya ilmu harus diarahkan untuk mewarnai kebudayaan pasca filsafat dimana Dalam “kebudayaan pasca-filsafat”, yang tumbuh adalah dialog terus menerus antara sains, sastra, seni, teknologi, agama, dan lain-lain. Tak ada  hierarki antara mereka.  Jika ada bayangan filsafat, maka ia sebuah  “edifying philosphy”, yang mencerahkan dan bersama-sama menjadi percakapan yang merupakan “jalan baru yang lebih baik, lebih menarik, lebih berbuah”.

            Logika sebagai elemen utama disamping literasi perlu juga digalakkan di  ranah pendidikan terutama yang menyentuh bidang-bidang digital, generasi muda perlu diajar untuk memiliki keterampilan metakognitif yaitu kemampuan untuk berpikir tentang berpikir, ini sangat penting agar tidak terus menerus terjebak pada bias kognitif yang disebut WYSIATI,’What You see is all there is’, WYSIATI ini mengacu pada fakta bahwa kita biasanya membuat penilaian berdasarkan informasi yang kita miliki, tidak perduli betapa tidak lengkapnya itu. Kita kemudian merekasa sulit untuk menghargai bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahuai seperti yang sudah saya  jelaskan sebelumnya, keinsafan untuk mengakui keterbatasan itu barang yang mahal. Oleh karena itu ,kita terus menerus merasa sulit tuntuk menghargai bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui, makanya keterampilan metakognitif itu dibutukan. Ibaratnya, kita mengembangkan pola berpikir ala detektif.    

mansurni abadi                  
235 1 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(1) Komentar

Image
Salam Lovi 12 October 2022

Terima kasih atas informasinya. Perlahan, Indonesia mulai mengimplementasi teknologi yang canggih semacam Virtual Reality, Augmented Reality, bahkan Metaverse. AR Indonesia pun sekarang semakin banyak dan berkembang pesat sehingga memudahkan kita untuk mengikuti perkembangan teknologi. Tetapi, ada kalanya pengguna juga harus lebih waspada di dunia cyber.

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.