by INBIO

"Connecting The Dots of Sciences"

Trending

Kaprian Alsyah Kurnia                 
146 0 4
Sains dan Teknologi January 2 9 Min Read

Spesies Asing Invasif, Sepele Tapi Mengancam Ketahanan Suatu Negara!




Siapa yang belum pernah mendengar "Spesies asing invasif"? ya, mungkin bagi sebagian orang belum pernah mendengar kalimat ini, atau mungkin pernah mendengarnya namun kurang tertarik untuk mengulik lebih dalam informasinya. Eitsss, tapi sekarang kamu harus tahu apa itu sebenarnya "Spesies asing invasif" itu!. Menurut (Tjitrosoedirjo et al., 2016) spesies asing atau alien adalah spesies yang dibawa atau terbawa masuk ke suatu ekosistem secara tidak alami. sedangkan spesies invasif adalah adalah spesies, baik spesies asli maupun bukan, yang secara luas mempengaruhi habitatnya, dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi, atau bahkan membahayakan manusia (Tjitrosoedirjo et al., 2016). Karena memang spesies-spesies yang termasuk ke dalam "Spesies asing invasif" itu dapat mengancam ketahanan suatu negara apabila tidak ditangani secara serius. Namun yang perlu kita garis bawahi disini adalah Spesies asing tidak selalu invasif, spesies invasif belum tentu berasal dari luar/asing. Yang kali ini akan kita bahas adalah "Spesies asing invasif".

Spesies asing invasif atau dikenal juga sebagai Invasive Alien Spesies (IAS) adalah spesies yang diintroduksi baik secara sengaja maupun tidak disengaja dari luar habitat alaminya, bisa pada tingkat spesies, subspesies, varietas dan bangsa, meliputi organisme utuh, bagian-bagian tubuh, gamet, benih, telur maupun propagul yang mampu hidup dan bereproduksi pada habitat barunya, yang kemudian menjadi ancaman bagi biodiversitas, ekosistem, pertanian, sosial ekonomi maupun kesehatan manusia, pada tingkat ekosistem, individu maupun genetik (CBD-UNEP 2014). Melihat gambaran dari bahaya spesies asing invasif ini, Perhatian terhadap IAS ini semakin meningkat dengan disepakatinya UN-CBD (the United Nations Convention on Biological Diversity) oleh sejumlah besar negara di dunia, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brazil, pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992, termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati (KLHK, 2015). Timbul pertanyaan, Apakah spesies asing invasif ini sudah masuk ke Indonesia? Apakah sudah ada bukti dampak dari ancaman spesies asing invasif ini?. Jawabannya sudah masuk dan sudah ada dampak kasus dari ancaman spesies asing invasif ini.

Kita sama-sama mengetahui bahwasanya Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai Mega-Biodiversity dan memiliki spesies endemik yang cukup banyak, baik dari Flora maupun fauna yang ada. Namun, tentu dengan kekayaan keanekaragaman hayati ini kita juga perlu menjaganya, bukan hanya menikmati dan memanfaatkannya saja. Kita harus bisa menanggulangi adanya penurunan keanekaragaman hayati, ancaman atas penurunan ini muncul dari berbagai aspek, dan tidak menutup kemungkinan berasal dari spesies asing invasif yang masuk ke Indonesia. Masuk dan menyebarnya jenis invasif, baik yang berasal dari dalam negeri (antar pulau dan lokal/setempat) maupun luar negeri (asing) menyebabkan semakin terdesaknya jenis-jenis dan ekosistem asli yang ada di Indonesia (KLHK, 2015). Sebagai contoh beberapa populasi ikan endemik yang terancam punah  adalah ikan lais kaca (Kryptoperus minor), ikan parang-parang bengkok (Macrochirichtys marcrochirus), ikan sepat mutiara (Trichopodus leerii), dan ikan ridiangus (Balantiocheilos melanop-terus) yang terdapat di perairan Hutan Harapan di Jambi (sukmono et al., 2013). Dan contoh ikan asing invasif yang sudah masuk yaitu ikan Zebra yang ada di danau Beratan (Sentosa et al.,2013). Sedangkan contoh flora asing invasif yang sudah masuk seperti Akar kala (Clidemia hirta) di Resort Sukaraja Atas, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Sayfulloh et al., 2020). 

Tak hanya keanekaragaman hayati saja yang akan terancam, melainkan dari sisi ketahanan pangan dan ekonomi juga dapat mengancam Indonesia akibat adanya spesies asing invasif ini. Salah satu contoh yang viral pada tahun 2019 yaitu hama S. frugiperda.  Sebagai bukti kasus pada tahun 2018 yang telah terjadi di Brasil yaitu serangan hama S. frugiperda menyebabkan penurunan hasil biji jagung hingga 34% yang setara dengan US$ 400 juta per tahun (Ganiger et al., 2018). Pada jagung di seluruh dunia, misalnya, Brasil (34% kehilangan hasil), Zimbabwe (11,57% kehilangan hasil) (Baudron dkk. 2019), Kenya (lebih dari 30% kehilangan hasil) (Groote dkk., 2020) dan India (33% kehilangan hasil) (Balla et.al., 2019). Hama ini juga sudah masuk ke Indonesia, Semenjak pertama kali S. frugiperda dilaporkan menyerang ladang jagung di bagian utara Pulau Sumatera, hama ini sekarang telah menyebar di beberapa daerah ladang jagung lainnya seperti Lampung serta di Jawa bagian barat dan Sulawesi (Trisyono et.al., 2019). 

Oleh karena itu, jika spesies asing invasif dianggap sepele dan sebelah mata oleh suatu negara termasuk Indonesia. hal ini bisa mengakibatkan penyebaran dari spesies asing invasif ini dapat merubah, merusak, bahkan mengancam suatu ekosistem yang telah ada, termasuk ketahanan negara tersebut. Sehingga perlu adanya pemeriksaan yang ketat terhadap para wisatawan mancanegara, maupun wisatawan Indonesia yang berlibur ke luar negeri yang hendak masuk kembali ke Indonesia. Tak hanya itu, perdagangan/pembelian Flora atau Fauna luar dan dalam negeri juga harus diseleksi dan diperiksa bagaimana status dari Flora dan fauna tersebut dan menindak tegas bagi para pelanggar.


Editor:     Rezekinta Syahputra Sembiring                 

AUTHOR

Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

GenerasiPeneliti.id merupakan media online yang betujuan menyebarkan berita baik seputar akademik, acara akademik, informasi sains terkini, dan opini para akademisi. Platform media online dikelola secara sukarela (volunteers) oleh para dewan editor dan kontributor (penulis) dari berbagai kalangan akademisi junior hingga senior. Generasipeneliti.id dinaungi oleh Lembaga non-profit Bioinformatics Research Center (BRC-INBIO) http://brc.inbio-indonesia.org dan berkomitmen untuk menjadikan platform media online untuk semua peneliti di Indonesia.


Our Social Media

Hubungi Kami


WhatsApp: +62 895-3874-55100
Email: layanan.generasipeneliti@gmail.com

Kami menerima Kerjasama dengan semua pihak yang terkait dunia akademik atau perguruan tinggi.











Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.