Trending

Nur Rahmah Awaliah                 
140 0 1
Acara Akademik March 1 9 Min Read

Mau Tahu tentang Kardiovaskuler dan Psikoneuroimunologi? Ini Dia Sharing Knowledge Keenam Sahabat Taat




Sharing knowledge “Sahabat Taat” kembali selenggarakan webinar pada Ahad, 27 Februari 2022. Webinar kali ini diselenggarakan secara virtual atau daring melalui aplikasi Zoom meeting dengan jumlah partisipan 100 orang meliputi masyarakat umum maupun pakar di bidang kedokteran  dan kesehatan, dipandu oleh moderator Dr. drh. Gondo Mastuti, M.Kes dan Prof. Dr. dr. Anak Agung Raka Sudewi, Sp.S(K).

 

Seperti biasanya, webinar Sahabat Taat diisi narasumber yang sangat luar biasa yaitu: Prof. Dr. I Ketut Sudiana, drs. M.Sc dengan topik Mekanisme Terjadinya Kelainan Cardiovascular yang Diinduksi Faktor Obesitas dengan yang Diinduksi Stres Psikologik dan Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS dengan topik Dampak Perkembangan Psikoneuroimunologi terhadap Penelitian Di Indonesia.

 

Kardiovaskuler

Mekanisme terjadinya kelainan kardiovaskuler yang diinduksi faktor obesitas dengan yang diinduksi stres psikologis merupakan topik pertama yang dibahas di webinar ini. Obesitas merupakan suatu keadaan dimana asupan lebih besar dari pada energi yang dikeluarkan. Hal ini terjadi karena adanya mutasi gen obese (gen leptin) yang mengakibatkan gangguan leptin. Gangguan leptin tersebut mengakibatkan nafsu makan yang meningkat dan penurunan pengeluaran energi sehingga menyebabkan obesitas. Di dalam prosesnya glukosa akan melewati proses penguraian melalui jalur siklus Krebs namun molekul yang tidak dapat diserap akan tersimpan pada jaringan adiposa sehingga menyebabkan obesitas.

 

Obesitas sendiri memiliki dua tipe menurut proses penyebaran lemaknya yaitu: 1. Tipe Android berupa lemak yang tertumpuk pada abdomen (perut), distribusi lemak sentral dan bentuk seperti buah apel. 2.  Tipe Ginoid dimana lemak tertumpuk pada daerah viseral dan vemoral, distribusi lemak periferal dan berbentuk seperti buah pir. Adapun tipe berdasarkan penyebabnya yaitu tipe primer dimana asupan lebih besar dari energi yang dikeluarkan dan tipe sekunder dimana disebabkan oleh hiperkortisol.

 

Beberapa molekul penting yang diperhatikan pada penderita obesitas yang ada kaitannya dengan terjadinya obesitas adalah 1. TNF-a: pada penderita obesitas TNF-a diproduksi oleh jaringan adiposa yang berfungsi mengganggu aktivitas tyrosin kinase pada signal tranduksi pada reseptor insulin dan menghambat penurunan LPL (lipo protein lapase), sehingga terjadi peningkatan FFA (Free Faty Acid). 2. FFA (Free Faty Acid) yang berfungsi mempengaruhi insulin pada proses transport glukosa, mempengaruhi insulin dalam menstimulasi glikogenesis dan menekan oksidasi glukosa.

 

Jadi, bagaimana hubungan antara obesitas dengan terjadinya gangguan kardiovaskuler? Pada penderita obesitas terjadi peningkatan ekspresi TNF-alpha pada adiposit sehingga dapat menghambat aktivitas tyrosin kinase khususnya pada transkripsi insulin reseptor dan menyebabkan insulin reseptor tidak terbentuk dan tidak dapat diikat oleh sel. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya diabetes melitus tipe 2. Terjadinya peningkatan ekspresi TNF-alpha pada adiposit dan penimbunan lemak (TG) pada adiposit meningkat juga  menekan penghambatan LPL sehingga LPL, lipolisis, dan FFA menjadi meningkat serta mengakibatkan terjadinya penghambatan aktivitas insulin dan sel merasakan kekurangan insulin sehingga mempengaruhi aktivitas sel-sel beta pankreas, kondisi tersebut dapat mengakibatkan insulin menjadi meningkat maupun menurun.

 

Saat terjadi DM, berlangsung pula proses hiperglikemia yang diperoleh dari reaksi glikasi sehingga terbentuk basa schiff, fruktosa lisin, dan age-protein ketiga komponen tersebut mengalami oto-oksidasi dan mengakibatkan pelepasan elektron dibantu oksigen sehingga menghasilkan O2-(radikal superokside) yang mempengaruhi nitric oxide dan terjadi penurunan NO (nitric oxide) maka terjadi aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah). Fungsi dari NO  (nitric oxide) yaitu menghambat pelekatan atau agresi trombosit pada endotel, menghambat pelekatan atau agresi monosit pada endotel, melindungi LDL dari proses oksidasi dan mengatur irama vaskuler.

 

Bagaimana hubungan stres psikologis dengan terjadinya gangguan kardiovaskuler? Terjadinya stres dipicu dari lingkungan sekitar sehingga menghasilkan stimulus dalam hal ini akan dirasakan oleh sistem indera berupa pendengaran, penglihatan, pengecapan, perabaan dan penciuman yang akan ditafsirkan sehingga timbul persepsi baik persepsi positif (menafsir suatu objek yang menuju suatu keadaan di mana subjek yang dipandang cenderung diterima karena tidak sesuai dengan pribadinya) dan persepsi negatif (menafsir suatu objek yang menuju suatu keadaan di mana subjek yang dipandang cenderung tidak diterima karena tidak sesuai dengan pribadinya). Stres psikologi juga berkaitan dengan gangguan endotel yang memicu terjadinya cardiovaskuler disease di mana pada saat hormon katekolamin meningkat maka terjadi fase konstriksi yang menyebabkan tekanan darah meningkat dan shear stres - disfungsi endotel meningkat sehingga NO (nitric oxide) menurun. Oleh karena itu, terjadilah gangguan vaskuler.

 

Psikoneuroimunologi

Dampak perkembangan psikoneuroimunologi (PNI) terhadap penelitian di Indonesia merupakan topik kedua yang dibahas di webinar ini. Perkembangan Paradigma PNI dipengaruhi oleh perkembangan konsep psikologi, dimulai dari: konsep Wilhelm Wundt (1879) yang berfokus pada kesadaran. konsep structuralism (Edward Titchener) dan Functionalism (William James) yang berkembang di tahun 1890. Keduanya terjadi pertentangan sehingga perkembangan psikologi terhambat. Konsep Sigmund Freud (1856-1939) yang berfokus pada alam bawah sadar, selanjutnya menjadi dasar psikoanalisis. Konsep John B Watson (1878-1958) yang berfokus pada perilaku kasat mata. Konsep Skinner (1953) yang sepakat dengan konsep John B Watson; mengabaikan peran internal mental event. Konsep Wayne Weiten (2000) yang menjadi dasar ilmu psikologi di masa kini. Intinya, psikologi adalah keilmuan yang memelajari perilaku serta berbagai proses psikologis dan kognitif yang mendasari perilaku (Weiten, 2000).

 

Konsep stres mengikuti perkembangan konsep psikologi di atas. Saat ini, psikoneuroimunologi menggunakan konsep stress Dabbar-McEwen (2000) yaitu: stres sebagai reaksi, merupakan kondisi lingkungan hidup yang tidak kondusif untuk ditinggali. Konsep ini tidak digunakan dalam kesehatan. Contoh: Akibat bencana lumpur Lapindo, sebagian masyarakat Sidoarjo mengalami stres.

 

Pada tahun 1992, Profesor Suhartono Taat Putra bersama rekannya melakukan penelitian tentang dampak olahraga terhadap imunitas dan penelitian tersebut merupakan rintisan awal psikoneuroimunologi di Indonesia. Dari penelitian tersebut beliau membandingkan penelitiannya dengan penelitian dunia, yakni riset milik Profesor Robert Ader dan Dr Nicholas Cohen. Kesimpulannya, suasana yang menyenangkan menaikkan imunitas, sebaliknya gangguan emosi menurunkan imunitas.

 

Menurut Profesor Taat (1993), PNI merupakan ilmu yang mempelajari imunoregulasi (alami-adaptif), yang tidak semuanya dirambatkan melalui jaras otonom. Menurut Robert Ader (psikolog klinis, di tahun 1975), PNI adalah studi tentang interaksi antara psikologi neuroendokrin dan proses sistem imun. Istilah ini baru digunakan di dunia ilmiah sejak tahun 1981. Barulah di tahun 1993, perkembangan PNI berkembang menjadi dua: PNI sebagai Field of Study (FoS) yang merupakan lingkup masalah PNI yang masih diselesaikan menggunakan cara pandang komponen keilmuan (psikologi-psikiatri, neurologi dan imunologi) secara terpisah dan PNI sebagai Science (S) merupakan lingkup masalah PNI yang sudah diselesaikan menggunakan cara pandang (paradigma) sendiri, bukan lagi cara pandang dari setiap komponen keilmuan secara terpisah (FoS).

 

Coping merupakan kemampuan mengelola stresor di mana terbagi menjadi coping mechanisms, di mana mekanisme ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan cara relaksasi, kemudian coping model (mekanisme ini memiliki beberapa langkah, berupa: persepsi psychological defenses, psychophysiological responses, response management, illnees behavior, dan illnees measure), serta coping style (mekanisme ini terdiri dari positive coping style dan negative coping response). Cara menentukan kualitas stresor yaitu dengan memodulasi sistem respon imun berupa menekan respon imun maupun meningkatkan respon imun. Membiasakan perilaku sehat merupakan usaha untuk membangun coping yang efisien dan efektif.

 

Bila semua calon dokter, psikolog, perawat membiasakan perilaku terapeutik maka akan menjadikan mereka profesional dan yang bersangkutan akan semakin sukses merawat penderita. Berdasarkan perspektif PNI, perilaku terapeutik merupakan perilaku yang mampu memperbaiki keseimbangan sistem ketahanan tubuh sehingga fungsi sistem ketahanan tubuh semakin efisien dan efektif dalam mempertahankan kondisi sehat.

 

Di Indonesia pada era PNI sebagai ilmu penelitian, disertasi berparadigma PNI telah berkembang pesat, mulai dari dampak stresor olahraga terhadap imunitas sampai dengan persepsi agama terhadap imunitas. Prinsip paradigma psikoneuroimunologi sendiri yaitu stress perception-HPA-stress response. Di era PNI sebagai ilmu, terjadi perkembangan penelitian yang menggunakan paradigma PNI untuk disertasi. Contohnya senam-imunitas dan gangguan emosi-imunitas.

 

Berlanjut dengan era dampak persepsi agama terhadap imunitas. Pengetahuan tentang kecerdasan otak diperlukan saat penelitian berparadigma PNI memasuki era dampak persepsi agama terhadap imunitas. Kecerdasan otak manusia terdiri atas: kecerdasan spiritual (spiritual intelligence = SI), kecerdasan emosional (emotional intelligence = EI), kecerdasan intelektual (intelligence quotient = IQ), kecerdasan adversitas (adversity intelligence = AI), dan kecerdasan majemuk (multiple intelligence = MI) yang merupakan kombinasi dari keempat kecerdasan di atas.

 

Oleh karena itu, kecerdasan otak mempengaruhi kemampuan mengelola stresor yang meliputi kecerdasan intelektual dan kecerdasan majemuk. Berbagai kecerdasan otak manusia yang variatif tersebut telah membangun persepsi agama secara variatif pula. Persepsi agama variatif tersebut akan memodulasi respon imun baik adaptif maupun alami. Semua modulasi imunitas tersebut (persepsi dan respon) dikenal sebagai modulasi PNI, baik menurunkan maupun meningkatkan imunitas.

 

Persepsi agama imunitas muslim juga melahirkan disertasi tentang dampak modifikasi psikoedukasi terhadap penurunan depresi stigma lepra dan perbaikan imunitas (Cucu Herawati 2019). Paket modifikasi psikoedukasi (psikoedukasi+ doa) mendapat HAKI. Intervensi baru (psikoedukasi-doa) memperbaiki kecerdasan emosi kemudian menurunkan tingkat kecemasan, meningkatkan kesabaran dan menurunkan kadar kortisol. Selain itu, psikoedukasi-doa juga memperbaiki kecerdasan spiritual yang kemudian meningkatkan rasa syukur, menurunkan depresi stigma-kusta, tingkat kecemasan dan kadar kortisol (dalam rentang normal). Efek penurunan kadar kortisol demikian meningkatkan limfosit T sitotoksik yang diperlukan untuk imunitas terhadap mycobacterium Leprae intraseluler obligat sehingga memperbaiki prognosis penderita. Disusul paradigma pengobatan terkini yang harus tepat diagnosis, tepat obat, dan tepat respons tubuh.

 

Pada saat Profesor Taat menjadi Ketua Komtek Kesehatan di DRN KEMENRISTEK RI dan sebagai Ketua Umum Masyarakat Neurosains Indonesia (MNI) bekerjasama dengan RSI Jakarta, beliau mendeklarasikan “otak Indonesia” pada tanggal 21 Mei 2012, yang berisi tentang komponen manusia, jiwa dan konsep emosi serta motivasi, konsep otak normal dan otak sehat.

 

Profesor Taat berpesan, ilmuwan berintegritas dibentuk oleh Kecerdasan Spiritual, Emosional, dan Adversitas tinggi sehingga Kecerdasan Intelektual bekerja optimal, yang menghasilkan Kecerdasan Majemuk baik (positif). Kecerdasan demikian mampu membangun konsep solutif untuk azas kemanfaatan dari berbagai persoalan di kehidupan. Ilmuwan berintegritas mampu menalar berbagai fenomena yang terjadi seijinNya untuk membangun berbagai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi baru yang bermanfaat bagi kehidupan sesama tanpa harus mengganggu keseimbangan dan keteraturan alam. SDM demikian terbina melalui pendidikan.

 

Webinar ditutup dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh partisipan webinar seperti dr Dito Anurogo MSc, Prof Dr drg Istiati, Prof dr Subijanto Sp.A(K), Suzanita Utama drh MPhil PhD, dan dari berbagai dokter dan pakar di bidang kesehatan lainnya. (Ditulis oleh Nur Rahmah Awaliah, mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, sedang internship di School of Life Institute. Tulisan ini telah diedit dan disupervisi oleh dr Dito Anurogo MSc).

Nur Rahmah Awaliah                 
140 0 1
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.