Trending

Andi Hendra Dimansa                  
113 0 0
Opini Akademisi October 31 3 Min Read

Polemik Filsafat di Hari-Hari Ini




Philosophia demikianlah orang-orang Greek menamainya, dengan pengertian cinta akan pengetahuan (Mohammad Hatta/1986/3). Pythagoras memperkenalkan istilah filsafat dengan mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi ke dalam tiga tipe yakni mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan, dan mereka yang mencintai kebijaksanaan (Lorens Bagus/1996/244). Pembagian tipe manusia oleh Pythagoras tersebut, untuk memberikan gambaran terkait posisi manusia dalam berfilsafat. 


Luthfi Assyaukanie menulis di media sosial "Mengapa Filsafat Bangkrut?", "Guna Filsafat" dan beberapa tulisan yang senada dengan mempertanyakan serta mempersoalkan filsafat. Sedangkan Hamid Basyaib menulis "Kematian Filsafat". Luthfi Assyaukanie dan Hamid Basyaib mendapatkan banyak respon atas tulisannya tersebut, juga mendapatkan semacam kecaman atas polemik yang ditimbulkan oleh tulisan mereka mengenai filsafat. 


Tetapi, apakah polemik tersebut bisa menggambarkan tentang mencintai kebijaksanaan sebagaimana Pythagoras maksudkan? Bila polemik itu hanya sekedar kesenangan dan sebagai penyalur kegiatan di tengah keinginan mengikuti arus (viral di media sosial) serta sekedar menampilkan diri sebagai pembela filsafat. Boleh jadi tulisan-tulisan tersebut, memberikan bukti bahwa filsafat hanya sekedar ulasan dan pengulangan yang disajikan dalam ruang kuliah hingga diskusi-diskusi non-formal. 


Kalau filsafat bangkrut dan filsafat telah mengalami kematian, sebagaimana yang telah ditulis oleh Luthfi Assyaukanie dan Hamid Basyaib maka pengkaji filsafat perlu melakukan oto-kritik terhadap dirinya baik akademisi yang bergelut di bidang filsafat maupun pengkaji filsafat yang berbasis komunitas dan kelompok diskusi. Sikap terbuka terhadap kritik telah menjadi bagian dari nafas panjang dari kehidupan berfilsafat. Justru kehadiran tulisan itu mesti memberikan bukti nyata bahwa aktivitas “tebakan-tebakan” (lihat dalam tulisan Luthfi Assyaukanie dengan judul Guna Filsafat) yang telah digeluti para filosof semenjak zaman Thales hingga kini memberikan dampak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. 


Sains memang melibatkan diri dalam aktivitas “tebakan-tebakan” yang digeluti para filosof apalagi terkait dengan alam semesta. Tetapi, bukan berarti yang bermaksud melakukan bantahan terhadap tulisan tersebut, mengambil sikap seperti anak taman kanak-kanak yang merasa diambil mainannya hingga merajuk. Respon yang mesti dihadirkan atas argumentasi mengenai “absennya alat ukur yang obyektif untuk membuktikan klaim-klaim besarnya” sebagaimana yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie itu harus menjadi bagian pokok yang harus hadir apabila ingin membantah. Jangan sampai bantahan itu hanya sekedar serupa koin mainan yang tidak punya poin. 


Supaya respon tersebut, tidak sekedar ikut meramaikan maka perlu memposisikan filsafat sebagai aktivitas yang bersifat kritis, namun juga bersedia mendapatkan kritikan. Menurut Franz Magnis-Suseno SJ dalam buku Filsafat sebagai Ilmu Kritis, “Justru itulah fungsi filsafat dalam usaha umat manusia dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Tanpa usaha ilmiah itu pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan dijawab secara spontan dan dengan demikian ada bahaya bahwa jawaban-jawaban didistorsikan oleh selera subyektif, segala macam rasionalisasi dan kepentingan ideologis” (Franz Magnis-Suseno SJ/2016/19). Boleh jadi bantahan terhadap tulisan tersebut, secara spontan hanya menyajikan dan mewakili selera subyektif. Tetapi, apakah itu benar-benar obyektif?


Tulisan yang mempersoalkan “tebakan-tebakan” yang dilakukan oleh para filosof memang harus ditakar, bukan sekedar memenuhi pernyataan dari Luthfi Assyaukanie. Obyektif menjadi bentuk pertanggung-jawaban atas berbagai bentuk argumentasi yang dikemukan. Menurut Magnis, salah satu kesibukan para filosof ialah bertengkar tentang apa itu filsafat, di mana segala macam keyakinan dikemukakan dengan gigih, termasuk pendapat bahwa tidak ada filsafat. Jadi, filsafat memang bergelut dengan berbagai pertentangan dan polemik serta memberikan sanggahan terhadap pandangan-pandangan yang ada. 


Lalu, apakah tulisan tersebut akan mengakhiri filsafat? Sejauh respon terhadap tulisan tersebut, fokus terhadap persoalan yang diajukan dan menguji argumentasi-argumentasi tanpa tendensi maka dengan sendirinya filsafat tetap berpijak dalam porosnya. Justru bentuk konsistensi yang ditunjukkan filsafat dengan tetap berkecimpung dengan masalah-masalah yang telah dipersoalkan di zaman lampau dengan berpegang teguh terhadap metode khas filsafat. Justru itu telah membuktikan bahwa itu adalah filsafat, namun ibarat pepatah noda se-titik akan menodai susu se-belanga. Jangan sampai bermaksud menyanggah tapi malah menggoyahkan filsafat dengan sikap yang sangat terbuka terhadap kritikan. 


21 November 2002 untuk pertama kalinya hari filsafat se-dunia diperingati, seperti yang telah dicanangkan oleh UNESCO dengan merayakan hari filsafat sedunia pada hari kamis ke tiga bulan November (www.wikipedia.com).  Tujuan dari perayaan hari filsafat sedunia untuk mendorong sikap kritis. Karena itu, siapa saja yang hendak menyanggah tulisan Luthfi Assyaukanie dan Hamid Basyaib harus berpijak kepada sikap kritis bukan menonjolkan sikap sinis. Jangan sampai di tangan penyanggah tulisan itulah yang membuat kebangkrutan dan kematian filsafat. 

Andi Hendra Dimansa                  
113 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.