Trending

Ibnu Rusyd                 
1032 2 3
Opini Akademisi February 25 5 Min Read

Tuhan dan Masalah Imajinasi




Dalam Sapiens, Yuval Noah Harari menggambarkan Tuhan dan agama sebagai sebuah imagined realities; realitas dan kenyataan yang diciptakan oleh imajinasi manusia.

Pada dasarnya ia ada, oleh karena itu disebut realitas. Akan tetapi, ia adalah realitas yang dibuat, diciptakan, dan diadakan oleh imajinasi kita.

Pernyataan demikian tidak jauh berbeda dengan mengatakan bahwa pesawat adalah sebuah entitas yang nyata (real) dan ada, namun keberadaannya itu diciptakan oleh sebuah pabrik pesawat.

Mengatakan bahwa Tuhan adalah "imagined reality", itu berarti meski Tuhan dianggap sebuah realitas, namun realitas yang diproduksi oleh pabrik imajinasi.

***

Bukan hanya Tuhan dan agama, negara dan bangsa juga disebut "imagined realities". Seperti dikatakan oleh Richard Dawkins dalam The God Delusion, sebagai hasil ciptaan imajinasi manusia, maka Tuhan – dan segenap entitas imagined realities lainnya – tidak lebih dari sebuah fiksi.

Tidak ada yang salah jika kita menganggap pesawat adalah produk suatu pabrik. Bahkan pesawat adalah sebuah teknologi transportasi yang muncul dari imajinasi seseorang di suatu zaman. Negara dan bangsa juga muncul dari imajinasi kolektif manusia. Namun, bagaimana dengan Tuhan?

Benarkah Tuhan diciptakan oleh imajinasi? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan imajinasi itu?

Menurut Merriam-Webster Dictionary imajinasi adalah kemampuan manusia untuk membuat gambaran mental tentang sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh indra lahir; atau sesuatu yang belum pernah sama sekali diketahui dalam realitas.

Imajinasi adalah kemampuan mental kita untuk membayangkan sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh mata, atau untuk menggambarkan sesuatu yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah.

Dalam filsafat, kita diperingatkan untuk melandaskan segala konsep dalam sebuah definisi yang tepat, tidak kontradiktif, dan konsisten. Oleh karena itu, kita juga mesti konsisten pada definisi imajinasi ini.

Imajinasi tidak “menciptakan” apa pun. Ia hanya merefleksikan realitas yang mampu dipahami oleh akal manusia.

Memang dalam refleksi akal, imajinasi dapat membuat kita memiliki gambaran konkrit tentang sesuatu yang abstrak. Tuhan misalnya. Berabad-abad peradaban manusia, kita melihat beragam gambaran tentang Tuhan.

Ya, imajinasi berusaha menggambarkan realitas Tuhan, namun bukan “menciptakan” wujud Tuhan. Bukan pula ia merupakan sebab bagi eksistensi Tuhan.

Memang pada satu aspek imajinasi tampak seolah menciptakan sesuatu, seperti pesawat pada contoh di atas tadi.

Ada satu aspek dari pesawat yang seolah-olah diciptakan oleh imajinasi. Aspek tersebut adalah gambaran mentalnya. Dari sana, kemudian pesawat mewujud dalam realitas. Tapi bagaimana dengan Tuhan?

***

Tuhan diketahui oleh akal pikiran manusia. Para Sufi menyebut bahwa hati (qalb) manusialah yang dapat mengenali Tuhan.  Apa pun itu, Tuhan bukanlah hasil kreasi imajinasi kita.

Begitu pula, Tuhan bukanlah produk imajinasi yang didorong oleh hasrat-hasrat psikologis seperti rasa takut dan kebutuhan akan rasa aman, seperti dalam pendapat Sigmund Freud.

Kepercayaan pada Tuhan memang membuat kita merasa lebih aman, tentram, dan hilang rasa takut. Namun bukanlah rasa takut dan lain-lain itu yang membuat kita menciptakan sosok Tuhan dalam imajinasi kita.

Tuhan eksis meski kita tidak diliputi rasa takut, bahkan meski manusia tidak pernah eksis sama sekali.

Meski kita tidak pernah ada di dunia ini sekalipun, itu tidak ada pengaruhnya pada eksistensi Tuhan.

Eksistensi Tuhan dibuktikan secara rasional; bahwa entah bagaimana dan dalam proses kosmik yang seperti apa, Dia telah hadir dan menciptakan alam semesta ini.

***

Adapun dengan agama, ia sering mengeluarkan ungkapan-ungkapan mengenai Tuhan yang sangat antropomorfis. Tuhan digambarkan sebagai sosok personal yang bisa marah atau cemburu selayaknya manusia.

Sebagian orang menjadikan antropomorfisme Tuhan sebagai alasan bahwa imajinasi kita saja yang menciptakan sosok Tuhan tersebut. Reza Aslan, dalam God: A Human History menyebutnya sebagai Tuhan dalam sosok kita sendiri atau humanized God.

Akan tetapi, apakah gambaran tentang Tuhan secara antropomorfis yang sudah menjadi tradisi dalam agama-agama dunia itu keliru? Tidak juga. Cara apa lagi yang kita harap supaya kita bisa mendeskripsikan Tuhan, selain dengan cara yang manusia bisa, yakni melalui bahasa manusia yang sangat antropomorfis itu.

Lagi pula, kita harus mengerti satu hal mendasar dalam memandang bagaimana agama-agama mendeskripsikan Tuhan, yaitu bahwa semua deskripsi adalah ungkapan mengenai Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri.

***

Demikianlah, Tuhan adalah alasan mengapa segala sesuatu yang eksis di alam semesta ini menjadi ada, termasuk diri kita.

Dialah yang menciptakan ini semua, entah dalam cara yang bagaimana. Yang pasti, semua proses penciptaan kosmik itu amat luar biasa.

Bukan imajinasi manusia yang menciptakan Tuhan, sebab Tuhan yang diciptakan tentu bukanlah Tuhan.

Bila kita menyebut Tuhan sebagai ciptaan imajinasi, maka kita terjebak dalam sebuah "contradictio in terminis", kontradiksi dalam menentukan makna istilah Tuhan. Sebab, Tuhan adalah pencipta, dan bukan yang dicipta. []

 

Ibnu Rusyd                 
1032 2 3
Bagikan ini ke sosial media anda

(2) Komentar

Image
M. Akhyar Aqil 25 February 2022

Sangat renyah, mudah dipahami, terima kasi atas tulisan kerennya ustadz

Bagikan   

Image
5 March 2022

Bagus artikelnya..nuhun ๐Ÿ™‡โ€โ™‚๏ธ

Bagikan   

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.