by INBIO

"Connecting The Dots of Sciences"

Trending

Dr. Jeanne Francoise                 
375 0 0
Sosial dan Bisnis March 14 4 Min Read

Margaret Rutherford dalam Sinema Komedi Inggris




MARGARET RUTHERFORD DALAM SINEMA KOMEDI INGGRIS

Jeanne Francoise

Produser dan Reviewer Film

 

            Ahli kajian budaya film asal Amerika, Prof. John Hill, pernah mengatakan bahwa terdapat hubungan dinamis antara identitas nasional dan ekspresinya mencari identitas dalam bentuk budaya, yang 'tunduk pada perubahan sejarah, redefinisi dan bahkan 'penemuan kembali'' (Mortimer, 2017, p.4). Tentu pencarian identitas nasional ini tidak bisa hanya dalam semalam, tetapi sebuah proses berkelanjutan. Bahkan kalau dalam kajian warisan pertahanan, proses tersebut mensyaratkan adanya kemerdekaan yang ciri khasnya bersifat nuansa patriot dan nasionalis.

Ekspresi-ekspresi untuk mewujudkan identitas nasional tidak hanya dalam bentuk tulisan pemikiran akademik yang serius, namun bisa melalui film. Nah di dalam periode sineas global, momen Perang Dunia amat mempengaruhi proses perkembangan Semiotika dan Semantik sinematografi. Pasca ditemukannya proyektor dan kamera gambar bergerak pada 28 Desember 1895 oleh Freres Lumieres, pada saat itu muncullah industri baru perfilman nasional Prancis. Film hitam-putih mulai diproduksi secara terbatas dan para kontraktor mulai melihat uang-uang mengalir dari adanya tiket pemutaran film, sehingga muncul bisnis pembangunan teater.

Awalnya pemutaran ‘video pendek orang-orang yang baru pulang kerja dari pabrik’ karya Freres Lumieres dilakukan di Grand Café, Paris dan penonton yang hadir membayar harga tiket nonton sebesar 1 Franc (ingat artikel saya tentang ‘Salon du café parisien’ http://generasipeneliti.id/tulisan.php?id=IDoYFcbijAxm8v&judul=WhatsApp-Group-bukan-salon-du-cafe-parisien bahwa café bagi orang Prancis diperuntukkan untuk diskusi politik hingga perancangan Revolusi Prancis 1789), kemudian 1 (satu) tahun kemudian Freres Lumieres membuka bioskop pertamanya.

Perusahaan Lumiere telah merekam lebih dari 1.400 film antara tahun 1895 dan 1905. Selain sinematograf, Lumiere bersaudara juga mengembangkan proses fotografi warna praktis pertama, pelat autochrome, yang memulai debutnya pada tahun 1907 (Kompas.com, 2018). Di Amerika Serikat sendiri setelah mengadaptasi ide Freres Lumieres kemudian langsung membuka bioskop pertama Vitascope Hall pada 1896. Perihal ini merupakan salah satu pengaruh dari masuknya koran pemberitaan dan cerita dari para imigran Eropa yang datang ke Amerika untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Dengan cepat tersebar berita bahwa di Paris sudah ada gambar bergerak.

Kehadiran gambar bergerak tentu menorehkan warna cerah dan memberikan gairah tersendiri bagi dunia, sebab nuansa pada akhir abad-19 bukanlah momen yang damai-damai saja untuk dikenang. Kemunculan kaum Bolshevik Uni Soviet yang semakin berani melawan White Army, masa-masa represif rezim Apartheid Afrika Selatan, masa-masa pergolakan menentang imperialisme dan kolonialisme di Asia, berbagai demonstrasi penuntutan penghapusan perbudakan di Amerika, dan kemunculan Revolusi Industri di Inggris yang berujung pada pergolakan kaum buruh.

Pada awalnya, Revolusi Industri memunculkan kemudahan dan kemanjaan tertentu bagi penduduk Britania Raya. Disebutkan Tim Lambert bahwa Inggris adalah penduduk urban pertama di dunia dan setengah dari penduduknya hidup di kota-kota besar (https://localhistories.org/life-in-the-19th-century/), termasuk di wilayah selatan London.

Pada masa perang, tidak pernah ada yang menyangka bahwa wilayah selatan London tersebut menjadi wilayah yang begitu strategis dalam hal pertahanan teritorial. Di daerah Balham misalnya, stasiun bawah tanahnya pernah dibom pada Perang Dunia II dan kemudian bangunan pemerintahannya pernah dibom oleh kelompok pro-kemerdekaan Irlandia. Posisi geografis kota Balham, yang menjadi gerbang ke wilayah selatan Inggris, juga menjadikan Balham tempat untuk lalu-lalang para pendatang dari selatan ke arah utara Inggris.

Di Balham inilah Tuhan YME merestui kelahiran seorang bayi bernama Margaret Rutherford pada 11 Mei 1892. Pembaca Generasi Peneliti yang budiman mungkin kurang familiar dengan namanya, yang mungkin tidak se-terkenal dan se-populer seperti artis perfilman Britania Raya lainnya misalnya Helen Miren dan Judy Dench. Sosok Rutherford memang lebih dikenal oleh mereka penggemar teater Inggris dan secara khusus signifikansi kehadiran Margaret Rutherford adalah pada masa gemilang sinema komedi Britania Raya.

Berdasarkan buku biografi Margaret Rutherford “Dreadnought with Good Manner” yang ditulis oleh Andy Merriman, Rutherford memulai karir teater pada umur 33 tahun, yang tentu saja tidak mulus. Rutherford banyak jatuh bangun, dihina, diremehkan, dan diberi peran-peran kecil pendamping, namun karena kegigihan dan kejujurannya, Rutherford mulai diberikan peran-peran strategis dan para produser film mulai melirik dirinya.

Ketika memasuki dunia perfilman, Rutherford sangat terkenal akan mimic ekspresi wajahnya yang selalu menimbulkan rasa penasaran scene apa yang akan terjadi berikutnya dan sekaligus mampu membuat tertawa. Rutherford tidak pernah secara khusus ingin menjadi artis film komedi atau pelawak terkenal, namun bakat mimic-nya yang alami membuat orang tertawa inilah kemudian lama-kelamaan disadari oleh dirinya dan kemudian mulai diasah secara profesional, yang tentu saja tidak terlepas dari peran rekan kerja dan kekasihnya, Stringer Davis yang selalu mendukungnya.

Gambar 1. Buku biografi Margaret Rutherford berjudul “Dreadnought with Good Manners” (Sumber: amazon.co.uk)

Rutherford kemudian mulai berani mengambil peran-peran yang memang spesial dikhusukan untuk komedi. Para kritikus film mulai merekognisi dirinya ketika memerankan tokoh eksentrik yang menjadi pemecah masalah, Miss Prism, dalam film komedi adaptasi novel Oscar Wilde, “The Importance of Being Ernest” (1939). Disinilah terlihat kematangan peran Rutherford tidak hanya pada kesesuaian mimic, tetapi pada kemampuannya melakukan dialogue improvement yang tetap mengundang gelagak tawa. Agaknya hingga tahun 1950-an, panggung komedi Britania Raya mulai menjadi milik Rutherford.

Arah angin kebangkitan sinema Britania Raya membuatnya semakin bersinar pada tahun 1960-an ketika produser mulai memiliki keinginan untuk membuat film adaptasi dari novel Agatha Christie, terutama memunculkan karakter Miss Marple, yang dinarasikan sebagai seorang wanita tua anggun yang polos namun teliti, suka bercanda namun cerdas, dan eksentrik namun ingatan tajam.

Agaknya sutradara George Pollock menaruh kesempatan ini pada Rutherford. Tidak sulit untuk ditebak bahwa Rutherford dengan sukses mampu membawakan karakter Miss Marple secara unik dalam 4 (empat) film. Walaupun Agatha Christie kemudian melontarkan opini bahwa film-filmnya “terlalu lucu”, namun sebetulnya Christie memberikan pujian yang tinggi bahwa Rutherford, dan tentu saja Pollock berhasil memproduksi 4 (empat) film hasil adaptasi novelnya.

Dari pengalaman saya menonton 4 (empat) film tersebut, yakni Murder She Said, Murder at the Gallop, Murder Most Foul, dan Murder Ahoy, saya sangat terhibur dan sejenak melupakan segala kepenatan bekerja. Sutradara Pollock juga dengan sangat lihat mengatur kemunculan Mr. Stringer sebagai pembawa kabar baik di setiap plot yang paling susah ditebak, serta soundtrack dari Ron Goodwin dan The Odense Symphony Orchestra untuk melatar-belakangi setiap kali Miss Marple mengendap-mengendap dan mencari barang bukti, serta penantian scene ketika Miss Marple muncul di tengah-tengah babak tak terduga dan melakukan narasi pengungkapan siapa pembunuhnya dengan mimic muka yang sangat khas dan dialog yang sangat cerdas, menjadikan film-film Pollock tidak hanya sebuah film policier, tetapi juga sebuah kesuksesan proses produksi sinema komedi Britania Raya yang patut diperhitungkan.

Seperti judul biografi Margaret Rutherford “Dreadnought in Good Manner”, maka Rutherford yang telah melakukan “Dreadnought” atau “bertempur” untuk sukses dan merangkak dari bawah, telah menjadi seorang bintang terang sinema Britania Raya, yang konsisten menghibur para penonton di seluruh dunia dan secara spesifik menorehkan prestasi pada sinema komedi Britania Raya. Terima kasih, Dame Margaret Taylor Rutherford.


AUTHOR

Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

GenerasiPeneliti.id merupakan media online yang betujuan menyebarkan berita baik seputar akademik, acara akademik, informasi sains terkini, dan opini para akademisi. Platform media online dikelola secara sukarela (volunteers) oleh para dewan editor dan kontributor (penulis) dari berbagai kalangan akademisi junior hingga senior. Generasipeneliti.id dinaungi oleh Lembaga non-profit Bioinformatics Research Center (BRC-INBIO) http://brc.inbio-indonesia.org dan berkomitmen untuk menjadikan platform media online untuk semua peneliti di Indonesia.


Our Social Media

Hubungi Kami


WhatsApp: +62 895-3874-55100
Email: layanan.generasipeneliti@gmail.com

Kami menerima Kerjasama dengan semua pihak yang terkait dunia akademik atau perguruan tinggi.











Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.