Trending

Gusti Salma Assyifa Balela                 
568 0 0
Biologi December 14 4 Min Read

Kapul, Buah Asli Kalimantan Terancam Punah




Mungkin masih banyak yang bingung dan mungkin belum pernah mendengar kata “Kapul”, apasih Kapul itu?

 

Kapul putih dengan bahasa Latinnya disebut Baccaurea macrocarpa adalah sejenis buah anggota suku Phyllanthaceae. Kapul menyebar di Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Kalimantan, tumbuh hingga ketinggian 1600 m dpl., yang hidup liar di hutan-hutan dataran rendah, hutan riparian, hutan rawa, dan juga hutan sekunder, di atas tanah-tanah liat merah atau liat berpasir. Kapul juga banyak ditanam secara wanatani, bercampur dengan aneka tanaman buah dan kayu lainnya.

Buah Kapul tumbuh di daerah dengan ketinggian  tanah sekitar 300-700 m di atas permukaan laut, dengan suhu udara 25-30 derajat celcius, serta harus berada pada daerah yang curah hujannya merata sepanjang tahun. Kondisi tanah yang diperlukan yaitu tanah yang tergolong gembur serta subur serta memiliki pH 5.5-6.5.

Buah ini memiliki rasa daging buah yang asam manis. Buah ini memiliki banyak sebutan, di Kalimantan sendiri banyak masyarakat yang menyebutnya dengan buah Kapul, Jentikan, Tampou, Pegak, dan Terai. Sedangkan di Sumatera, biasanya masyarakat menyebutnya dengan Tampui Daun, Tampoy Saya, dan Medang Tampui.

 

Manfaat Buah Kapul

Buah Kapul ini memiliki banyak manfaat dan bernilai ekonomis. Masyarakat sering memanfaatkan buah Kapul ini untuk mengobati sembelit, sakit perut, pembengkakan pada mata, radang sendi, dan memperlancar haid. Kapul ini juga digunakan sebagai bahan untuk pembuatan tuak oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. Sedangkan kulit buah Kapul, biasanya dimanfaatkan masyarakat sebagai lulur dan masker wajah. Batangnya digunakan sebagai bahan bangunan (rumah) di kalangan masyarakat Dayak.

 

Adat Istiadat di Masyarakat

Di Kalimantan, khususnya Suku Dayak masih melestarikan adat istiadat leluhurnya. Sebagai contohnya pada Suku Dayak Jelai, yang menggunakan buah Kapul dalam ritual “Memulangan Buah”. Sebagian buah-buahan dan hasil hutan yang sudah dipanen akan dikumpulkan dalam satu wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Suku Dayak Jelai menyebutnya “ajak”. Pesan dari ritual ini adalah mengisyaratkan bahwa “Memulangan Buah” adalah manifestasi dari cara warga kampung untuk menolak bala, atau bisa diartikan sebagai cara untuk menolak gangguan lainnya seperti hama, yang berakibat pada penurunan hasil panen buah.

Seluruh rangkaian ritual itu diakhiri dengan sebuah pesan dari tetua adat. Misalnya, warga tidak boleh bekerja di hutan selama satu hari. Jika ada yang melanggar, maka sanksi adat sudah menanti sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukannya.

 

Kini, pohon Kapul sudah sulit dicari, jarang ditemukan. Langkanya pohon Kapul saat ini disebabkan oleh perambahan. Okuvasi lahan menjadi kebun sawit, menghilangkan tanaman eksotis ini. Apalagi sejak dulu sampai sekarang memang belum ada masyarakat lokal yang tertarik untuk membudidayakan pohon Kapul. Akibatnya pohon Kapul saat ini terancam punah.

Gusti Salma Assyifa Balela                 
568 0 0
Bagikan ini ke sosial media anda

(0) Komentar

Berikan Komentarmu

Tentang Generasi Peneliti

Generasipeneliti.id, merupakan perusahaan resmi dibawah PT Solusi Riset Indonesia yang berfokus untuk menyebarkan berita-berita baik terkait akademik di Indonesia


Our Social Media

Hubungi Kami


Customer Service

+62 8127-5915-940
generasipeneliti@gmail.com
Flag Counter

© Generasi Peneliti. All Rights Reserved.